Pages

Monday, May 28, 2012

Ya Sudahlah

Saya tipikal orang yang paling malas untuk ambil pusing. Jika mengalami suatu masalah, bisa jadi sangat enggan memikirkannya dalam-dalam.  Tapi proses untuk menjadi ‘apatis’ tak lantas hadir begitu saja. Dulunya, saya adalah orang pemikir. Segala sesuatu yang terjadi ujung-ujungnya dipikir sampai masuk ke hati. Seiring berjalannya waktu, saya berproses menjadi orang yang lebih ‘malas’ dan lebih memilih membiarkan semuanya berjalan sesuai alur. Meski bukan berarti tidak mengusahakan apa yang memang harus dikerjakan.

Bagi saya, berpikir sederhana itu perlu. Kadang kala kita tidak perlu memperumit hal kecil menjadi sebuah masalah besar yang malah jatuhnya konyol. ‘Malas’nya saya tiba-tiba kambuh jika melihat sebuah sistem yang kolot, tak berkembang, dan sempit. Ibaratnya, sibuk sendiri di dalam tempurung. Yang lain sudah berlari sampai Roma, sistem ini masih eker-ekeran sendiri di dalam, Jakarta saja masih jauh rasanya.

* Ya sudahlah, penyakit saya sekali-kali kan boleh kambuh juga.. hehe

Sunday, May 27, 2012

dari Kalisosok sampai Tugu Pahlawan

Rehat Sejenak dari Sekolah

Kokoh di Persimpangan: Gedung BII

Nebeng Tinggal (Lama) Ya!

Mempertahankan Eksistensi: Kantor Pos

Sentuhan Artistik

 #Iseng motret sembari jalan sehat di Minggu pagi

Saturday, May 26, 2012

2nd Anniversary of K-49

di tepi lapangan:tegang

saat salah satu penonton emosi:)
serius mendengarkan arahan sang pelatih, gus bagus
akhirnya, setelah penantian 3 tahun

we are the champion
Kado terindah untuk kebersamaan K-49 hingga di ulang tahun ke-2nya: juara I cabang bola dalam even olahraga tahunan, Chemical Games.

Malamnya kami mengadakan 'syukuran' gak jelas di Plaza Teknik Kimia ITS. Meski tidak ada performance seheboh malam inaugurasi 2 tahun lalu, kami semua masih sangat happy dan menikmati suasana malam itu. Baqir, wakil komting nge-MC, mengisi, sekaligus mendominasi acara (sampe semua penonton bosen.. hehe). Ada juga sesi pemberian kado dari angkatan 2011 berupa kue tart dan bola cinta. Tak ketinggalan pemutaran beberapa video.

Melalui sebuah tayangan video sederhana berdurasi sekitar 13 menit, kita diajak membuka memori lama. Sepertinya, baru tiga tahun berlalu dan wajah-wajah dalam video rasa-rasanya sudah terlihat sangat 'jadul' membandingkannya dengan diri kami yang sekarang. Maklum kami tengah dihadapkan pada kenyataan menuju mahasiswa Tingkat UAkhir (TUA).

Pemutaran video skandal dua anggota dari keluarga K-49 juga mewarnai konyolnya acara (nama dua pelaku video disamarkan, sebut saja Mawar dan Melati). Terlepas dari semua keanehan itu, kami tetaplah satu keluarga yang menerima, memaklumi perbedaan, dan belajar menghargai satu sama lain.

Performance Apep dan Dwitama menjadi penutup yang entah bagaimana saya harus mengatakannya. Beat box dan gitar mini harusnya menjadi kolaborasi asyik untuk dinikmati saat dimainkan tapi karena terlalu sering bercanda (penontonnya), hasilnya penampilan keduanya benar-benar (di)galau(kan). Agenda makan nasi bungkus, doa dan foto bersama menjadi closing syukuran 'geje' ala K-49.



Satu doaku untuk keluarga K-49, semoga tetap Mantab Jaya karena kau sangat istimewa di hati!

Tuesday, May 22, 2012

Nasional(isme)?

20 Mei, saya mendengar banyak kata 'nasionalisme' digumamkan hari ini. Di kampus, di televisi, di koran, di buku, di percakapan, dan entah dimana lagi saya lupa.

Sore itu saya menemani Rizka, salah satu staf PRC untuk menemui Pak Tri di Sekretariat Jurusan. Saat memasuki ruang sekre, tak dinyana malah bertemu Pak Rosyadi, salah satu dosen senior Tekkim. Beliau memberikan sebuah kertas berisikan nasionalisme.

Kebangkitan Nasional(isme)? Judul itu berjajar manis di deret paling atas bagian kertas. Isinya, ada beberapa pandangan dan ungkapan Bung Karno, Bung Hatta, sampai Ho Chi Minh tentang semangat kebangsaan.

"...syarat yang amat penting untuk pembaikan kembali semua susunan pergaulan hidup Indonesia itu ialah kemerdekaan nasional..." -Bung Karno-

"...lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain..." -Bung Hatta-

"...kami akan menang perang... kami meempunyai senjata rahasia yaitu nasionalisme..." -Ho Chi Minh-


Saat membaca kalimat di atas, terasa ada yang mengganjal dalam pikiran. Saya masih ingat, demikian sederhananya pemahaman saya tentang hal satu ini saat SD dulu. Sebuah pertanyaan di pelajaran PPKn yang kerap keluar saat ujian adalah: sebutkan contoh sikap cinta tanah air! Tanpa pikir panjang, saya menuliskan 'rajin mengikuti upacara bendera setiap Hari Senin' di lembar jawaban. Yakin. Mantab. Seolah hanya itulah jawaban keramat yang mampu menggiring saya meraih nilai 100.

Sekarang, saya hanya tersenyum mengingat kisah itu. Ketika sudah kuliah, masihkah ada agenda mengikuti upacara bendera rutin? Tentu tidak. Kalau tidak ada kuliah pagi, saya mungkin lebih memilih tidur (dasar mahasiswa!).

Pemahaman semangat kebangsaan memang seharusnya tak lagi sesempit pemikiran anak SD (seperti saya). Nasionalisme bisa diwujudkan dalam hal apapun. Tak perlu perubahan besar, semangat untuk menjadi pribadi bermanfaat menurut saya sudah mewakili nasionalisme. Semangat untuk berkarya, bekerja, hingga berbudaya adalah nasionalisme luar biasa yang mungkin tak terlihat.

20 Mei malam, sebelum tidur, saya sempat menengok Radio Show di TV One. Acara yang menyandingkan sajian musik-musik cadas band indie berbarengan diksusi itu mengundang Pandji sebagai salah satu bintang tamu. Bukan untuk mendengarkan dia ber-stand up comedy, melainkan membicarakan bukunya tentang nasionalisme.

Pandji sendiri mengartikan nasionalisme dengan sangat 'kini'. Nasionalisme anak muda menurutnya adalah kiprah dan kemanfaatan. Mereka yang berkiprah di bidang seni, di dunia hiburan, dan dimana pun dianggap sudah mengusung nasionalisme. Bisa menginspirasi orang lain, sudah cukup untuk membuktikan kecintaan pada bangsa sendiri. Pemahaman soal satu ini memang unik. Saat bangsa kita tak perlu lagi berperang melawan penjajah maka perang melawan kekurangan bangsa sendiri adalah sebenar-benar nasionalisme.

*intermezo
"Maba itu kamu ajari apa? Ajari nasionalisme, suruh baca ini juga!"
Pak Rosyadi mengingatkan kami dengan nada agak serius. Saya tak bisa berkata-kata. Hanya menimpalinya dengan senyum, senyum kebingungan lantaran tak punya jawaban 'klop' atas anjuran tadi. Sama saat saya bingung menuliskan jawaban quiz TRK beliau.. hehe

Saturday, May 19, 2012

Ampel: Children and Religi

I am safe with mommy
I wanna something mom
Waiting patiently for my ice
Sometimes I can't focus
Just Quran and I
Only a symbol: I can reach You
Simple thing sandal and saroong

Friday, May 18, 2012

Crazy Friday, between HOS and Wedding Reception


I went to House of Sampoerna (again) because of Sari, my close friend. She came to Surabaya to visit me. I promised to her, visiting some nice places. I decided to go to HOS in the evening. Here are some silly poses that we did as usual.


Dont you see we dressed up formally at the photo above? Hehe.. That's because we wanna go to the wedding.


My senior, Risti Anggi invited me at her wedding reception, so I asked Sari to accompany me. Voooilaaa we dressed up formally.

Wednesday, May 16, 2012

Cak! Becak!


Lepas maghrib, saya bersama ibu sudah siap-siap mau ke pondok. Ada peringatan 1000 hari wafatnya Romo Kyai Asrori. Di luar dugaan budhe saya juga ikut. Okelah no problemo karena sedari awal memang diniati akan naik becak. Bertiga dalam satu becak? Cukuplah.

Saat berangkat perjalanan lancar. Hanya saja sempat terjebak macet di kawasan Wonokusumo. Maklum jalan seiprit begitu, yang lewat naujubillah! Komposisi duduk kami saat itu: ibu saya di sebelah kanan, saya di tengah, dan budhe di kiri. Saya duduk agak condong ke depan makanya ibu jadi agak khawatir. Takut saya nyolot ke depan pas becak kami melewati jalanan yang tidak rata (atau rusak? Hehe). Sekali lagi saya katakan, perjalanan berangkat menuju TKP lancar-lancar saja. Aman man man man!

Lantas bagaimana dengan perjalanan pulang? Kira-kira jam 9 malam, kami meninggalkan pondok. Berangkat naik becak pasti pulang juga naik becak. Buat saya yang setiap hari mengendarai motor, hal ini bisa dianggap refreshing. Anggap saja jalan-jalan pakai becak. Refreshing saat perjalanan pulang malam itu, benar-benar tidak akan saya lupakan. Pasti!

Layaknya calon penumpang pada umumnya, kami memulai transaksi dengan agenda tawar-menawar. Tak butuh waktu lama, cukup lima menit, urusan ongkos sudah deal. Simpel! Maklum yang nawar emak-emak (bukan saya lho! Sapaan itu hanya akan saya terima saat menjalankan tugas sebagai korlip).

Yak, let’s start our vacation! Komposisi masih seperti tadi. Tak ketinggalan, ibu saya memegangi lengan saya erat-erat karena alasan yang sudah disebutkan di atas.

Belum ada lima menit, kami serasa menaiki rodeo. Kami dibuat tak tenang tiap ada jalanan tak rata, polisi tidur, cekungan, batu,  dan sejenisnya. Gila! ‘smooth’nya naik becak yang ingin saya rasakan justru hancur berkeping-keping karena si abang becak ini. Ibu saya yang sedari awal memegangi lengan saya, jadi bertambah kuat saja genggamannya. Sampai saya mengeluh ‘ngilu’ barulah beliau agak melonggarkan sedikit genggamannya tadi. Tapi tak berapa lama, makin kuat saja genggamannya. Saya menyerah, biarlah ngilu sejenak sampai nanti tiba di rumah (masih sekitar 10 menit perjalanan meeen!)

Ini becak emang (agak) kurang tahu aturan kayaknya. Termasuk etika dalam menenangkan penumpang. Sumpah, yang membuat kami shock adalah saat di perempatan lampu merah daerah Sidorame. Sudah tahu lampu merah menyala dan mau belok kanan, eh dia dengan pedenya melakukan manuver layaknya pembalap F1 ato motoGP. Gendheng!

Saya yang awalnya masih ketawa-ketiwi menghibur diri agar tidak terlalu stress, mendadak kaget. Siapa yang  tidak shock, melihat banyak kendaraan dari kanan melaju kencang sementara kami dengan santainya diumpankan oleh si abang becak sebagai permodelan penumpang yang diajak manuver? Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan.

Sebenarnya Ibu dan budhe saya sudah komplain berkali-kali sama si abang becak yang bisa dibilang agak muda ini. Berkali-kali juga mengingatkan kalau keselamatan adalah hal utama. Eh, si abang becak malah balik cerita soal keprofesionalannya mengendarai becak. “Saya ini sudah sering ikut lombanya pemerintah, balapan becak, menang terus. Dapet lemari, macem-macem pokoknya,” ujarnya bangga.

Budhe sama ibu saya tertawa mendengar jawaban itu. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala.  “Ya itu kan kalau becaknya kosong bisa balapan!” timpal keduanya.

*Daripada naik roller coaster, lebih seru naik becak ini menurut saya.Bayangkan, tanpa pengaman, bisa merasakan sensasi manuver serta bisa duduk di posisi strategis: di tengah dan agak condong ke depan. Mantab! Mantab ngawure Cak Becak!

Saturday, May 12, 2012

Running News @KRI-KRCI

KRCI-Humanoid Soccer *photos taken by set

Yesterday, the big event of robot contest were held in ITS. Yeah, ITS became the host of regional IV. Was I taking apart on it? Hehehe, absolutely no! But as a journalist, I was on it. I accompanied the reporters while they were 'fighting' with news all day long.

Here are the links to access our news:

ITS Unjuk Gigi Saat Running Test
Pamer Kemampuan di Running Test Dua
Sensor Cahaya Pengaruhi Robot Victory ITS
Al Ramadhan Cetak Poin di Sesi I
Penyisihan Pertama, Hurofu Gagal Masukkan Bola
RI-NHO Aman di Penyisihan Pertama
Herman: KRI/KRCI Harus Bawa Kemaslahatan
Jatuh Bangun di Putaran Kedua Humanoid Soccer
Penyisihan 2, RI-NHO Ungguli Wiyama
Al-Ramadhan ITS, Selangkah Lagi ke Nasional
Tiga Tim Selesaikan KRCI Robot Berkaki
Undian, Jalan Terakhir Menuju Semifinal
RI-NHO ITS Lolos ke Semi Final
Hurofu dan PENGUIN Berebut Posisi Ketiga
Hurofu Raih Posisi Ketiga KRCI Divisi Humanoid
RI-NHO Bawa ITS Maju ke Nasional

The supporters and their yell, the team, the robot, whoooa great! Standby since early till end of the event, I could see it clearly.

*I will share some photos next time of this competitions. Remind me please:)

Wednesday, May 9, 2012

Cola between The Two

Revisi oh revisi! 10 poin lagi untuk tes dosen!
*saat angka 60 tiba-tiba jadi keramat >.<



Cola! Obat ngantuk!



Plate!
*ini bahan quiz gue keesokan harinya
 

Wish me luck guys!!! :D

Saturday, May 5, 2012

Bukan 100% Nasionalisme


Saya menuju Magetan naik bis dari Terminal Bungurasih. Dalam perjalanan, saya duduk berdampingan dengan dua orang pemuda berkostum militer biru. Mereka berangkat dari Surabaya, pastinya TNI AL, batin saya.

Awalnya biasa saja, tapi satu di antara dua pemuda tadi mulai mengajak bicara. Saya menanggapi seperlunya. Toh, bukan hal aneh kalau tiba-tiba ngobrol dengan orang baru dalam kendaraan.  Pertanyaan basa-basi asal daerah, kuliah dimana, jurusan apa sampai kesibukan apa, membuka percakapan kami. Tak berapa lama, teman si pemuda juga mulai nimbrung. Okelah, bahan obrolan jadi bertambah.

Dalam hati, saya agak bosan dengan topik basa-basi seperti tadi. Tiba-tiba, sense reporter beraksi. Saya ingin mengorek behind the scene profesi yang sekarang dan kelak akan mereka tekuni itu. Pemuda A yang berasal dari Jombang, ternyata memasuki sekolah militer pada tahun kedua setelah ia lulus SMA.

”Selama setahun berarti menganggur?” tanya saya spontan

“Nggak mbak. Saya kerja jadi pegawai Indomart.” jawabnya

“Kok tiba-tiba bisa kepikiran daftar sekolah TNI AL?” usik saya lagi

“Ya pengen aja. Jadi pegawai Indomart penghasilannya nggak seberapa. Sekarang nyari kerja susah. Kalau masuk sekolah kayak begini, kan enak, sudah jelas ada ikatan dinasnya. Syukurlah bisa ketrima. Meskipun memang berat saat menjalaninya.”

“Wah, berarti nggak berangkat dari nasionalisme dan semangat mengabdi sama negara donk?”

“Gimana lagi mbak. Nasionalisme ya nasionalisme, tapi kita kan juga pengen hidup layak. Jadi wajar lah, ” ujarnya menanggapi

Saya tersenyum simpul mendengar jawaban yang sangat apa adanya. Saya diam, merasa sedikitpun tak berhak menghakiminya meski lewat sebuah komentar.  Si pemuda punya hak penuh atas niatannya saat memilih dan menjalani pekerjaan tersebut. Menjadi aparat negara, meski bukan karena 100% nasionalisme, saya tetap berdoa agar engkau dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi negeri ini.

Tak Ada TRK, Nonton pun Jadi

Saat jam kuliah kosong, mahasiswa selalu punya cara unik untuk mengisinya. Hal itu terbukti saat kelas TRK kosong. Meski terbilang kelas (sangat) kecil, hanya berisi 16 orang, kami terhitung berisik. Apalagi kalau sudah masuk gurauan tentang dua sejoli di kelas (teman-teman K-49 tentu tahu siapa.. hehe), pasti derai tawa kami sangat nyaring, pertanda puas mem-bully keduanya yang salting.

Tapi topik kali ini bukan soal itu. Cerita tidak jelas ini bermula dari Agung yang menemukan video skandal salah satu anggota K-49, sebut saja inisialnya EZ. Modal nonton video ini pun tidak macam-macam, hanya sebuah laptop yang daya baterainya sudah hampir habis milik Hardi.

Ngakak saat nonton!
Eng ing eng...
Yak, lapak dibuka, dagangan digelar. Pembeli sudah bejibun antri. Antri buat nonton video maksudnya. Tak berapa lama, tawa meledak. Analisa saya, aksi EZ pasti sangat sangat menghibur. *Saya tidak mau menyebutkan adegan apa yang kami tonton karena (sungguh) konyol.. hehe, peace bang EZ

Durasi video sekian menit itu membekas dalam ingatan. Sampai sekarang pun, saya masih saja tertawa saat mendengarkan salah satu lagu Netral. Jatuhnya itu lagu gak keren lagi tapi konyol! hahaha

Wednesday, May 2, 2012

(yang) Tradisional


Weekend lalu: menghibur diri dengan kuliner tradisional Palembang. Pempek kapal selam dan otak-otak? Hmmm... bolehlah kapan-kapan beli lagi. Maknyussss!!!