Pages

Thursday, September 21, 2017

Sopir

Well, ternyata sudah lama sekali rasanya tidak menulis. Sampai blog ini berlumut. But somehow it’s so refreshing you know to read it over and over again. Ternyata dulu punya banyak cerita. Meski sebenarnya sekarang pun juga punya lebih banyak cerita. Jadinya saya kepengen mulai nulis lagi. Ya sudah lah ya biar nggak lama-lama intronya, let’s start with this one :)

Saya hanya bisa tertawa kalau mengingat pengalaman ini. Ya, lulus kuliah sebelum bekerja di tempat yang sekarang, saya sempat balik kampung halaman untuk membantu usaha orang tua sambil belajar berwirausaha. Bayangan saya saat itu, everything will be very smooth. Kenyataannya? Big  NO!! Haha

Usaha orang tua saya Alhamdulillah terkena musibah kebakaran untuk kedua kalinya. Kebakaran pertama terjadi saat saya masih duduk di bangku SMA. Penyebabnya sederhana, obat nyamuk yang membakar kasur . Kerugian tidak terlalu besar karena masih banyak kayu yang bisa diamankan sebelum api benar-benar membesar. Dan lagi kala itu belum ada kompor berbahan bakar LPG jadi skala kebakaran tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kebakaran kedua.

Di kebakaran kedua, yang terjadi setelah saya lulus kuliah bisa dibilang besar karena menghanguskan semuanya.  Yeah, nothing left! Kondisi saat kebakaran angin lumayan kencang, ditambah ada tetangga kios yang menjual gas LPG 3 kg. Can you imagine it? Meskipun mobil damkar sudah berusaha cukup maksimal tapi api masih sulit dipadamkan. Pada akhirnya api berhasil dipadamkan. Tentu saja setelah tidak menyisakan apapun. Penyebab kebakaran? Entahlah, sampai sekarang masih menjadi misteri.  Kemungkinan ada orang yang membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sisa gergajian kayu di gudang kosong sehingga api baru bisa diketahui setelah cukup besar.

Yah, saya jadi cerita agak panjang mengenai kebakaran padahal bukan itu fokus ceritanya. Jadi ceritanya, saya memutuskan untuk belajar nyetir dengan tujuan kalau melamar kerja dan dibutuhkan SIM A, saya bisa langsung daftar tanpa ribet mikirin persyaratan. Niat awal nyatanya tidak sejalan dengan praktiknya. Siapa sangka jika dari sana, muncul banyak cerita nyopir yang konyol. Mostly dari pengalaman saat saya bantuin usahanya ortu dan masih tinggal di Magetan.

Oke, dimulai dari mentor nyopir saya. Mereka adalah dua abang saya yang punya karakteristik berbeda. Abang yang lebih tua gaya menyetirnya alus mirip sopir pribadi karena dulu yang ngajari memang sopir pribadi. Abang yang lebih muda gaya menyetirnya mirip sopir angkot karena dulu yang ngajari memang sopir angkot. Then you can guess about me now, kadang saya nyopir ala-ala sopir pribadi dan kadang ala-ala sopir angkot. Hehe

Belajar nyetir sudah jelas medan pertamanya adalah lapangan bola dengan gigi 1,2. Naik level, mulai dah turun ke jalan. Di jalanan yang lebarnya udah kayak lapangan bola masih aja berasa kurang lebar bagi newbie macam saya. Udah lancar di jalanan lebar nan sepi, lanjut medan naik turun. Kali ini masih di jalanan beraspal mulus. Naik level lagi, si abang ngajakin nyetir di jalan raya yang agak ramai. Masih di kecepatan standar, Alhamdulillah lulus. Sudah jarang mati mesin waktu lampu merah. Naik level lagi, abang ngajakin ke jalanan desa yang sempit dan cuma muat buat satu mobil. Lulus. Sekarang giliran mempertahankan keseimbangan gas dan kopling di jalanan menanjak yang macet di pasar. Sukses berhenti dan nggak ngerem di tanjakan. Lulus juga. Well, training sesungguhnya belum dimulai saudara-saudara till you read next chapter #oposeh

Saya hanya akan menulis beberapa pengalaman nyopir yang menurut saya berkesan. Asli, sampai sekarang saya nggak nyangka punya pengalaman nyopir yang alamak.

1.Carilah Kayu sampai ke Dungus
You know lah, usaha mebel jati bekas sudah pasti kita harus kulakan bahan baku. Salah satu tempat kulakan kayu bekas ada di Dungus, masih masuk Madiun sih tapi lebih ‘desa’ nuansanya. Jalanan utamanya sih mulus-mulus aja. Sampai akhirnya setelah menemui jalanan berbatu gronjal-gronjal, di situ saya mulai merasa was-was. Bagaimana tidak, jalanan ini cuma muat untuk 1 mobil dan di depan ada turunan curam kemudian ada tanjakan lagi. Jalannya berbentuk huruf V. OMG dari jauh saya udah nglakson hebring takutnya ada yang papasan. Kalau papasan sama orang yang didemenin mah asyik, kalau sama truk di jalanan macam ini.. Hmmmm troublesome! Singkat cerita saya berhasil pemirsa. Kali kedua masih was-was, udah kali ke-3, dan entah berapa kali saya melewati jalanan itu sudah tidak ada perasaan khawatir. Everything’s under control. Hehe

2.Hiking yuk ke Wonogiri dan Poncol
Ada apa dengan Wonogiri? Nothing special but the road is. Kali ini saya berdua dengan abah hendak menemui salah satu penjual kayu jati di daerah Wonogiri. Saya lupa tepatnya nama daerahnya. Kalau kalian tahu jalanan dari Ponorogo menuju Pacitan yang melingkar meliuk-liuk dan naik turun, seperti itulah medan yang saya lalui. Ada satu jalan yang saya inget banget yaitu tanjakan lurus banget nggak ada beloknya barang sedikit. Dari jauh saya udah ancang-ancang masuk gigi satu dengan kecepatan yang lumayan kenceng. Saya injak pedal gas penuh-penuh takut nih mobil pikep nggak sanggup naik dan melorot.Kan nggak lucu. Haha. Saya lupa sebutkan sodara-sodara, mobil yang kami kendarai adalah jenis pikep Daihatsu zebra yang kalau kena ujan suka mogok. Syukurlah mobilnya cukup ‘roso’ alias kuat. Sampai di jalanan agak datar langsung saya oper ke gigi 2, dst. Kasihan si zebra ngos-ngosan habis nanjak. Hehe lumayan ada pengalaman lewat tanjakan ekstrim.

Tanjakan dan kelokan yang aduhai tidak hanya saya temui saat di Wonogiri. Di Kecamatan Poncol Magetan juga ada. Jadi sore itu abah sama umi ngajak nyari tukang. Oke kita cuss Poncol. Sebenarnya jalanannya tidak ada masalah menurut saya, sisi kiri tebing, sementara sisi lainnya jurang. Itu saja sudah cukup membuat umi saya teriak-teriak. Belum lagi saat melalui tanjakan, kelokan, turunan, beliau langsung bersholawat keras-keras. Abah? Kalem saja, no comment. That’s the difference Mom vs Dad.

3.Travel Magetan-Surabaya atau Surabaya-Madura
Travel Magetan-Surabaya atau Surabaya-Madura? Perjalanan jarak jauh untuk keperluan keluarga seringnya jadi saya yang nyetir.Meskipun kadang ada abang, sekarang kadang minta saya yang bawa mobil. Well, selama ini memang dia selalu jadi sopir andalan keluarga. Jadi ada touching moment pas saya bawa mobil perjalanan Surabaya-Magetan dan dia tidur di kursi depan sebelah saya. Niatnya ngasih arahan sama saya. Nyatanya dia molor juga akhirnya.

Why it can be so touching? Gimana nggak, selama ini dia selalu ada di kursi sopir dari saya kecil sampe segede ini. Pemandangan dia tidur di mobil nggak pernah saya jumpai. Ya iyalah, kalau dia tidur kita nyemplung sungai bisa-bisa..Hahaha

Saat udah ‘ngerasain’ nyetir jarak jauh, Magetan-Surabaya (5-7 jam tergantung macet tidaknya), Surabaya-Banyuwangi (7 -8 jam), Gilimanuk-Denpasar (5 jam), Jember-Surabaya (5 jam), saya bisa merasakan beratnya tanggung jawab seorang sopir. Apalagi penumpang saya adalah anggota keluarga yang tercinta. Jadi lebih mikir kalau bawa mobil.

Selain itu sekarang saya jadi ngerasa sungkan kalau tidur di mobil sementara si bos atau temen lagi nyetir. At least, tetap terjaga dan ngajak ngobrol lah ya biar dianya nggak bosen atau ngantuk. I know that feeling very well. But tetep jadi exception kalau sama family lho ya ;)

Wuuuuih nggak nyangka bisa nulis sepanjang ini. Kemana aja selama ini nggak nulis-nulis? Meskipun bahasanya masih acak-adul, lumayanlah muncul satu postingan setelah masa hibernasi panjang.

This is a good start. Next time akan saya share beberapa cerita seru dari rumah sampe urusan kerjaan. Just wait. Mohon doanya yang banyak biar mau nulis lagi dan lagi.

See you again Good People :)