Pages

Tuesday, November 21, 2017

Kerja

Perjalanan Probolinggo-Surabaya malam itu kami tempuh dalam waktu 5 jam. Rekor dari yang seharusnya cuma 2 jam. Macet terjadi karena ada perbaikan jalan hampir di seluruh ruas jalan Pasuruan, jadinya berlaku sistem buka tutup.

I was just fine tapi kasihan rekan saya yang nyetir. So, kami berbagi tugas ala-ala sopir dan kenek metromini Jakarte yang suka nyalip nggak aturan. And yes, we did it! Nyalip ambil ruas kanan di tengah kemacetan yang mengular dan dengan seenaknya mencari celah untuk kembali ke track yang benar kalau di ujung sudah kelihatan ada kendaraan. Rasa frustasi di jalan membuat kami khilaf sesaat. Maafkan daku.

Agenda wajib saat nemenin temen nyetir adalah ngobrol. Jadilah sepanjang perjalanan dimulai dari pukul 22.30 sampai 02.30 kami isi dengan obrolan ngalor-ngidul. Keluarga, pekerjaan, dan pandangan hidup. Duh, klasiknya!

Saya selalu excited mendengarkan cerita siapapun. Why? Dari situ saya jadi mengenal banyak sudut pandang dalam menyikapi permasalahan.

Ada satu obrolan yang ‘ngena’ banget malam itu. Rekan saya ini punya 2 hal prinsipal dalam hidup. Pertama hubungannya dengan Tuhan (termasuk di dalamnya adalah memprioritaskan keluarga) dan yang kedua adalah komitmennya dengan pekerjaan.

“Saya sadar besok saya harus masuk kerja jadi seteler apapun di malam harinya, besok pagi harus bisa berdiri. Emboh yok opo carane (entah bagaimana pun caranya),” ujarnya dengan logat Surabaya yang kental.

Satu lagi hal yang nge-kick dari obrolan kami malam itu. Di sela-sela kemacetan, ia memposting foto “ngoyotnya” terjebak kemacetan. Rekannya berkomentar, “Ingat kita itu aset keluarga!” And yes, antara simpati dan sentilan memang beda tipis.

Selama ini saya juga punya pemikiran sama. “I am okay. Saya  masih kuat kok. I can do it by myself. Don’t worry!”

Jika kembali meresapi kata-kata bahwa kita adalah aset keluarga, jadi mikir betapa egoisnya saya. Hanya karena merasa baik-baik saja bukan berarti saya boleh abai. Sering karena pekerjaan jadi tidak sempat makan. Karena berstatus anak kos jadi tidak terlalu care dengan makanan sehat. Saat ada project yang bikin excited sampai begadang ngerjainnya. Well, soal aset keluarga, sepertinya memang masih jadi PR bagi diri sendiri.

Dear myself, you sustain yourself with the love of family!

Saturday, October 14, 2017

Tempat Baru Lagi

Hello people! Kali ini saya mau cerita soal tempat baru. Kalau mau dirunut, rolling lokasi sudah jadi makanan sehari-hari selama masa OJT. Pindah divisi, pindah lokasi per 2-3 bulan alias angkat koper ala-ala eliminasi AFI sudah jadi rutinitas. Asyiknya adalah bisa belajar banyak hal. Sayangnya masa OJT yang asyik udah kelar. Hal paling ngangenin adalah jalan-jalan di tiap weekend-nya #lho

Rolling kali ini nggak jauh kok, tinggal geser dikit aja karena masih dalam satu distrik, dari Jember ke Probolinggo. Dibanding hal lainnya, saya paling excited sama tantangan ketemu tim yang baru. New place new people. Kira-kira akan seperti apa ya tim yang baru ini? Dalam bayangan saya, mereka bakalan lebih rame dari sebelumnya. Yang sudah pasti adalah bakalan sering hangout bareng karena saya bakalan sering ngajakin mereka jalan-jalan. Bulan ini rencananya kita mau snorkeling di Pulau Gili.

Pada dasarnya kalau mau jalan, cuss aja langsung karena terlalu banyak rencana seringnya malah nggak jadi berangkat. Senin depan saya sama teman-teman juga mengadendakan untuk grebek area outer yang potensial. Do you know where will we go? Sukapura! Itu kecamatan yang letaknya deket banget sama wisata Bromo. Area pegunungan yang pemandangannya aduhai. Sebenernya grebek ini sudah direncakan sama BM sebelum saya tapi selalu gagal dieksekusi sampai BM-nya keburu resign, hehe. Di briefing Kamis kemarin saya reminder lagi and yes Senin bakalan kita eksekusi. Budhal wis!

Buat saya pribadi, teman-teman di lingkungan kerja adalah keluarga. Tuntutan utama pekerjaan memang profesional tapi di sisi lain nilai kekeluargaan juga nggak kalah penting. Di perusahaan saya sekarang, hirearki antara atasan dan bawahan hampir tidak ada. We are partner. Kultur seperti ini tidak lepas dari apa yang dicontohkan Capt Aldi, CEO kita. Jadi sampai ke level paling bawah pun hampir tidak pernah saya jumpai (setidaknya sampai saat ini) ‘bossy style’. Jadi ngerasa bersyukur banget bisa belajar di perusahaan start up dengan kultur seperti ini

Karena memang start up jadi isinya juga kebanyakan anak muda . Atau kalau mau agak di-general-kan, punya semangat muda lah ya. Nah, bicara soal semangat muda nih, menurut saya ada anomali terkait sapaan yang nggak sejalan dengan hal ini. Secara saya masih mbak-mbak gini disapa Ibu. Dan yang menyapa parahnya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu (tim saya sudah pada senior dari segi usia). Well, mungkin mereka lebih nyaman manggil saya begitu kali ya? Jadi ya sudah lah. #nyerah #kibarkanbenderaputih

Wednesday, October 11, 2017

Rindu

Rindu itu tak tertahankan. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.

Di percakapan antara saya dan ummi via telefon, saya bertanya kapan mereka akan pulang ke Magetan. Saat ini keduanya sedang berada di Surabaya. Ummi bilang abah masih mau menunggu saya ke Surabaya dulu karena saya janji mau membawakan madu. Saya bilang tidak memungkinkan pulang weekend ini karena harus mengisi acara kopdar kantor di hari Minggu-nya. Terdengar suara di seberang menenangkan, “Ya sudah nggak papa. Nggak usah pulang kalau memang nggak bisa.”

Seketika muncul perasaan bersalah di situ. Makin dewasa, rasanya makin jauh sama orang tua. I just feel so bad. Kadang kesibukan kerja membuat saya lupa berkabar dengan orang rumah. Pernah hampir empat hari saya nggak sempet nelfon atau lebih tepatnya nggak nyempetin nelfon karena ada agenda kantor yang buyarnya malem banget berturut-turut.

Jadi inget kalau saya pulang, ummi semangat banget masak macem-macem. Dan saya nggak peka. Seolah itu hal biasa. Nyatanya, itulah bahasa kerinduan orang tua. Mereka tidak pernah menyuruh anaknya pulang hanya karena merasa rindu. Seolah sudah sangat paham anaknya kerja di rantau, nggak mungkin sering-sering pulang.

Dan satu lagi yang mungkin saya lewatkan adalah ketika saya pulang mereka berdua sudah tak lagi sama. Bertambahlah kerutan dengan rambut yang kian memutih. Oh God, they’re  getting older and older. Di masa-masa mereka bertambah tua, saya tidak di sana.

Rindu kami tak tertahankan, Nak. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.
 

Teruntuk diri sendiri, seringlah merindu pada orang tuamu!

Monday, October 9, 2017

Lapangan

Hello good people! Good for me karena muncul satu lagi mood nulis. Dari judulnya ‘lapangan’ kira-kira ada yang bisa nebak nggak saya bakalan nulis apa di postingan kali ini? Yang jelas bukan karena demam bola terus tiba-tiba muncul kata lapangan di sini ya.

Lapangan bagi saya adalah saat terbaik untuk refreshing. Di tempat kerja saya sekarang memang agak unik sih work process-nya. Meskipun secara umum kita bergerak di bidang sales, but we are more than selling something! Dari produknya saja sebenernya sudah unik. Kita menawarkan sistem arisan. Arisan system is the product itself. So, kita nggak nyeles peralatan rumah tangga dan elektronik ya! Kita menawarkan sistem arisan yang notabene Indonesia banget untuk meringankan beban rekan-rekan kita dalam mengakses barang.

Kenapa harus arisan? Sudah saya sebutkan di awal, arisan itu Indonesia banget. Cuma di Indonesia kita bisa dapat sesuatu dengan dibayarin temen-temen lainnya dulu. Tengok arisan uang. Cuma di Indonesia yang kalau orang ikutan Rp 10.000 tapi anggota arisannya ada 100 terus ‘lucky’ dapat kocokan pertama, tuh uang jamaah arisan bisa pindah tangan 1 juta. Anggota lainnya gimana? Ada yang protes? Ikhlas semua bray! Cuma di Indonesia kita bisa nemu yang begituan.

So, apa sih yang ingin dicapai di sini lewat arisan? Banyak banget! Paling penting sih yang menjadi tujuan kita adalah membantu masyarakat mencapai hidup mapan. Kok bisa? Yes, dengan menumbuhkan semangat gotong-royong alias kebersamaan, apapun jadi terjangkau.

Let me explain more about us ya. We are Mapan. The product is arisan Mapan. Untuk saat ini kita memfasilitasi anggota kita yang jumlahnya hampir 1 juta anggota tersebar di Jawa Bali untuk mendapatkan akses barang dengan harga terjangkau. Tentunya lewat arisan ya.

Kita memberikan pilihan lain bagi masyarakat yang kesulitan mengakses barang. Selama ini mereka hanya mengenal sistem kredit ataupun cash untuk membeli barang. Seperti yang kita tahu, butuh prosedur yang njelimet untuk acc pengajuan kredit, belum lagi harga plus bunga yang harus dibayar lumayan tinggi, kalau macet pun ada sistem tarik barang. Bagaimana dengan beli cash? Daya beli masyarakat tidaklah sama. Satu keluarga berpenghasilan tetap mungkin butuh 1-2 bulan menabung untuk membeli mesin cuci atau kulkas baru. Bagaimana dengan keluarga lainnya? Bisa jadi setelah 1 tahun mereka baru bisa menabung.

Itu terkait penghasilan. Next, daya beli ada tetapi akses susah. Apakah ada jasa pengiriman yang rela nganterin barang ke rumah konsumen yang untuk menuju ke sana harus menuruni 600 anak tangga? Kalau ada, itu hanya ada di Mapan. Bayangkan, logistik kita ngirim barang dropship kasur dan lemari rakitan ke Kampung Naga dengan menuruni 600 anak tangga tadi. Saking antusiasnya ada perusahaan yang mau ngirim barang besar ke kampung mereka untuk pertama kali, penduduknya rame-rame bantuin kurir kita untuk ngangkut barang. How beautiful!! Happiness is simple rite? Bagi masyarakat yang punya kemudahan akses macam kota besar tidak akan se-hype itu menerima kiriman barang berupa kasur atau lemari ke rumah. Tapi bagi saudara kita di tempat lain, it means something!

Kalau dari sisi logistik mereka fokus untuk pengiriman barang, tentunya ada peran besar dari teman-teman sales (istilah internal kita penyuluh) yang berhasil meyakinkan masyarakat agar mereka terbantu dan mencapai hidup mapan. Karena bisa jadi, definisi hidup mapan bagi seorang ibu rumah tangga adalah hanya dengan memiliki mesin cuci untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya. Bisa jadi membeli mesin jahit terbaru juga sudah cukup menjadikan seorang ibu penjahit merasa mapan. It’s so simple. Bukan mobil atau apartemen mewah yang mereka butuhkan untuk menjadi mapan. 

Ada juga 1001 cerita perjuangan penyuluh saat mengedukasi masyarakat untuk bergabung dengan Mapan yang tidak kalah menarik. Lapangan bagi penyuluh antara lain kantor kelurahan, rumah ibu RT RW, PAUD/TK, lapak pengusaha online, sampai rumah ibu-ibu rumah tangga biasa.

Office view saya saat tandem di lapangan dengan mereka berbeda-beda setiap harinya. Kadang mapping di area yang penduduknya petani, buruh pabrik, pegawai, sampai nelayan. Random banget tapi merekalah segmentasi target market kita.

Bagi saya pribadi, yang paling berharga adalah setiap dari mereka punya ceritanya masing-masing. Seperti yang saya singgung di awal, work process kita unik. Sebelum kita ngobrolin arisan, sudah menjadi hal wajib untuk connect terlebih dahulu dengan calon konsumen.

Kita gali apa yang menjadi permasalahan mereka dalam hal akses barang. Good news kalau kita bisa jadi solusi dari permasalahan mereka but sometimes we can’t help. Pernah dengar curhatan petani yang gagal panen? Pernah dengan curhatan paceklik ikan yang dialami nelayan hampir 2 tahun lamanya? Pernah dengar cerita keluarga yang bangkrut karena hutang koperasi menumpuk? We can’t get those kind of stories unless we are connected with them. Dan itu yang membuat saya merasa fresh setelah dari lapangan. Cerita yang saya bawa pulang membuat saya merasa ‘kaya’. Jadi ngerasa makin bersyukur bray!

Kalau kata CEO kita, Capt Aldi, Indonesia masih punya banyak pe-er. Kalau masyarakatnya bergerak sendiri-sendiri ala-ala kapitalis, kita nggak akan bisa karena kita bukan Amerika. Mau pakai paham komunis kayak Cina juga nggak bakalan bisa. Kita punya semangat Pancasila, yang paling masuk akal adalah menghidupkan kembali semangat gotong-royong. Karena apa? Karena kita Indonesia bukan Amerika apalagi Cina!

Next time ada cerita 50 juta anggota mapan. Ditunggu ya fellas!