Pages

Sunday, September 29, 2013

#107

Masa kuliah selama 4 tahun akhirnya kelar juga.
Perasaannya, sudah pasti lega.
Di bawah ini adalah momen sehari di wisuda 107.
Cuma sehari sih tapi yakin deh, momen ini gak akan pernah cukup untuk memaknai 4 tahun perjalanan di kampus.

CB aka Trio Kwek-Kwek
Kawan SMA

Onliners
partner kwaci, Ika (kanan)
thanks for giving :)

Sudah Lama Berkawan


Foto di atas diambil saat kami semua masih berstatus mahasiswa tingkat akhir (baca: tahun ke-4). Di acara Festamasio yang kebetulan diselenggarakan di ITS, saya, Andhi, Vitarani, Ika, dan Ferio sepakat menonton pementasan teater kawan SMA dulu, Vita.

Meski durasi pertemuan kami hanya berlangsung selama pementasan, tapi hal itu sangat berarti. Maklum,selama menjadi mahasiswa, jangankan untuk bertemu dengan kawan lintas kampus di satu kota, bertemu kawan satu fakultas di satu universitas saja merupakan kesempatan langka.

Sekarang, kalau melihat foto ini, tiba-tiba ada hal lain yang muncul di benak. Ternyata, sudah lama ya kita berkawan? Perasaan, baru kemarin duduk bersama di bangku SMA. Diam-diam saya bersyukur, masa SMA dulu dipenuhi kenangan indah bersama semua orang yang juga menjadi bagiannya.

Doa yang terpanjat hanyalah semoga kelak kita masih bisa mengukir kenangan indah bersama. Be healthy guys! So we can meet again, again, and again one day:)

"Betapa waktu lekas sekali berlalu.
Rasanya, baru kemarin berseragam putih abu-abu.
Sekarang, tahu-tahu ......"

#dear all senior high school friends, miss you alot!


Sunday, August 11, 2013

Tuesday, July 23, 2013

Jerih Payah Memasak

Seminggu setelah awal Ramadan, saya memutuskan pulang ke kampung halaman. Alasannya, ada kawan-kawan yang hendak berkunjung ke rumah. Mereka berencana menginap beberapa hari lantaran ada tugas survei dari Jawa Pos. Sejatinya, tanpa ada alasan itu pun, saya sudah tentu pulang juga. Rindu pada suasana Ramadan di rumah.

Setahun yang lalu, saya menghabiskan bulan Puasa di Palembang. Bahkan hingga hari raya Idul Fitri. Kali ini, akan sangat menyesal rasanya jika belum sempat mencicipi berpuasa di kampung halaman.

Rutnitas yang saya lakukan di siang hari adalah membantu ibu memasak. Saya selalu bersemangat jika melakukan hal satu ini. Mulai dari mencuci ayam, memotong sayuran, hingga meracik bumbu. Urusan goreng-menggoreng lauk pun juga tidak ketinggalan.

Memasak bersama ibu itu menyenangkan. Yah, meski hanya sebatas asisten tapi dalam kacamata saya, memasak itu tidak mudah. Untuk menyajikan masakan yang enak ternyata memiliki tantangan tersendiri. Keseimbangan komposisi bumbu, tingkat kematangan setiap komponennya, hingga padu padan satu masakan satu dengan yang lainnya agar nyambung dimakan, adalah beberapa hal yang harus diperhatikan.

Saya berpikir, bagi seorang ibu yang sudah menjadi chef keluarga bertahun-tahun, pekerjaan itu tentu tidaklah terlalu berat. Ternyata tidak demikian saudara-saudara. Memasak ternyata butuh proses yang panjang. Ibu harus memulai proses jerih payah itu sejak sebelum berbelanja. Beliau harus memikirkan cukupnya anggaran dengan apa yang akan dibelanjakan untuk keperluan menu hari itu. Selesai dengan rencana itu, ibu akan menuju pasar untuk berbelanja. Di pasar, ia akan menawar harga yang dipatok para pedagang. Setidaknya, itulah yang selalu saya lihat saat menemani ibu berbelanja.

Sepulangnya belanja, pekerjaan memasak yang sesungguhnya menanti. Perjuangan di dapur ini juga bukan perkara sederhana. Karena nikmat tidaknya hidangan keluarga hari itu ada di tangannya. Sudah tentu, seorang ibu tidak ingin menyajikan nasi yang terlalu keras, atau ikan yang gosong saat digoreng, atau bahkan lauk yang kurang matang untuk suami dan anak-anaknya.

Memasak itu harus bisa multi tasking. Sekali melakukan satu hal, ibu harus mampu melakukan hal lainnya selama bersamaan. Sambil menanti sayur matang, beliau menyempatkan mencuci piring. Sambil menggoreng ayam, sesekali beliau mengupas bumbu dapur untuk racikan bumbu.

Saat saya membantu ibu menggoreng ayam, sempat beberapa kali kecipratan minyak panas karena bumbu ayam mengandung sedikit air. Belum lagi kalau sudah menggoreng ikan bandeng. Entah berapa kali cipratan minyak dengan volume lebih banyak yang nyasar saat hendak membalik ikannya.

Saya jadi teringat tweet Goenawan Mohamad, "Dirahmatilah makanan di meja kita, karena ia juga dari jerih payah orang lain." Semakin berarti lagi adalah saat makanan di meja itu adalah buatan ibu.

Dan ibu saya melakukan semua hal itu sejak dulu. Agar beliau bisa menghidangkan yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya. Agar suami dan anak-anaknya tidak terlambat untuk sarapan, makan siang, makan malam di hari-hari biasa serta sahur dan berbuka dengan nikmat jika bulan Ramadan tiba. Dari sinilah saya menyadari, entah sudah berapa banyak hari, bulan, dan tahun yang terlewat sehingga saya bisa tumbuh baik dari masakan chef terbaik keluarga.

Terima kasih ibu atas semuanya. Suatu hari aku juga ingin seperti ibu, menjadi chef terbaik di mata suami dan anak-anakku.