Pages

Saturday, June 25, 2011

Wejangan Romo Kyai Asrori

Suasana haul
Saya mungkin tidak mengenyam pondok pesantren salaf sama sekali. Tapi kebiasaan mengikuti haul akbar sejak kecil yang ditanamkan kedua orang tua sepertinya benar-benar membekas. Ketika saya sudah cukup besar dan harus duduk berjam-jam di majelis semacam itu, rasanya berbeda, sungguh-sungguh menentramkan hati. Pada akhirnya, selalu berujung kerinduan untuk menghadirinya kembali. Lebih sering keluarga saya menghadiri haul akbar di Ponpes Al-Khidmah Kedinding Lor Surabaya. Pernah kami sekeluarga menghadiri haul Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani hingga Pekalongan, serta haul Siti Khadijah di Demak. Orang tua saya bilang, “Kalau ada rezeki kenapa tidak?” Maksudnya, tidak apa-apa mengeluarkan sedikit lebih banyak biaya untuk melakukan hal baik. Toh, investasi kan tidak melulu saham milyaran rupiah.

Romo Kyai Asrori
Di bagian akhir haul, selalu ada wejangan dari Romo Kyai Asrori Al-Ishaqi. Saya masih ingat betul haul akbar di Kedinding Lor yang beliau pimpin terakhir kali. Maklum, kondisi fisik yang tidak mendukung seharusnya sudah melarang beliau untuk beraktivitas berat. Namun demi murid-muridnya, beliau rela mengesampingkan semua itu. Subhanallah.

Ketika mendengarnya menangis, mendoakan kami semua para muridnya, tak sanggup rasanya saya menahan air mata. Beliau mengungkapkan betapa mulianya ketika kita menghadiri majelis dzikir yang dihadiri ribuan jamaah seperti ini. Beliau mengatakan, bahwa sejatinya seketika itu juga turut hadir diantara kami semua, Rasulullah SAW, tengah melihat kami memanjatkan sholawat atasnya. Subhanallah.

Saya masih mengingat dengan jelas ketika beliau mengingatkan kami agar memperbaiki amalan dan sikap, karena keduanya sanggup membuat seorang guru tersenyum.  Masya Allah, sudahkah selama ini para guru tersenyum oleh amalan dan sikap kami?

Romo Kyai juga mewanti-wanti kami agar istiqomah dan tumakninah menghadiri majelis dzikir. Beliau  meminta kami agar senantiasa meneruskan kebiasaan tersebut kepada keturunan. Menghadiri haul itu ibarat menyimpan sekotak cahaya. Saat haul, kita semua melatunkan sholawat, pujian, serta doa, termasuk doa kepada kedua orang tua. “Ketika saya mendoakan orang tua, saya panjatkan sungguh-sungguh kepada Allah, karena yang saya doakan bukan orang tua saya saja, tapi seluruh yang hadir di sini baik itu yang sudah meninggal ataupun tidak,” ujarnya kepada kami.  Seketika itu pula saya terdiam. Subhanallah. Hati ini tergetar dan mata serasa berat menahan genangan air mata.

Menghadiri haul itu ibarat mengumpulkan kotak berisi cahaya. Ketika nanti hari kiamat tiba dan kita dibangkitkan maka kotak itu akan diberikan kepada kita dengan cahaya memancar dari dalamnya. Anak-anak kita-lah yang akan mempersembahkannya kepada kita, para orang tua.

Duh Gusti, paringono dalan ingkang jembar lan padhang marang kawula menika. Mugi-mugi tansah lurus dan dipunparingi ngapura sakathahing kalepatan.

3 comments:

  1. amin...,

    Assalamualaikum,..
    mbak punya file mp3 / mp4 pengajian nya Romo kyai asrori yg sering di putar di radio gk ya? klo iya ada saya minta kirim via email ya di : catur1608@gmail.com

    Terima kasih..

    Wa'alaikum salam... wr wb

    ReplyDelete
  2. subhanallah,..mari kita teladani wejangan mbah romo kyai asrori..amin..smga Allah meridhoinya..o iya salam kenal juga untuk mbak upi..smoga selalu semangat menulis..dan ilmu yang dishareny di blog ini bisa mnjadi amalan jariyahnya..amin ta robbal alamin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin, semoga bisa meneladani apa yang beliau sampaikan.
      salam kenal juga buat mas syaiful. saya sudah berkunjung juga ke blog sampean :)

      Delete