Pages

Friday, November 30, 2012

Rockin' and Smooth Music

Tadi malam saya menyumbat telinga hingga jam 12 malam lebih hanya untuk mendengarkan lagu-lagunya:

My Chemical Romance
Linkin Park
Gun n Roses
Matchbox Twenty
Santana and Rob Thomas

Don't know why, tapi sueeeerrr musik mereka keren men! Setidaknya mending lah daripada saya harus ngedengerin musik Indonesia yang belakangan makin gak jelas. Nama band alay bertaburan di TV. Tak ketinggalan, usaha recording pun menjamurnya juga bukan main. Jadi, semakin mudah saja ngorbitin penyanyi karbitan yang kualitasnya pun masih dipertanyakan.

Well, dulu saat saya masih SD, dunia musik rasa-rasanya masih sangat damai dan benar-benar berkualitas. Band-band seperti Sheila on 7, Padi, Dewa, Gigi, adalah beberapa yang memang mumpuni baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Coba tengok, adakah lagu-lagu mereka yang membosankan jika kita putar sekarang? Tentu tidak. Kalau boleh saya istilahkan, lagu mereka 'awet'. Tidak seperti band-band baru sekarang. Nge-hit sebulan, lepas itu hilang ditelan waktu dan ditinggalkan orang. Saya tidak tahu kenapa alasannya. Apakah memang tren orang Indonesia sekarang memang demikian, mudah menyukai lagu dan mudah pula melupakannya? Well, saya tidak tahu pasti.

Kalau saya pribadi sebagai penikmat, ya mau enaknya saja. Mending nyari musik yang jelas meskipun itu dari luar. Eits, tapi nanti dibilang tidak cinta produk negeri sendiri? Ya lihat-lihat donk. Daripada harus nonton band alay yang timbul tenggelam, mending nyari yang jelas itu tadi.

*ditulis di sela-sela hentakan musik jelas (baca: musik manca)

Thursday, November 29, 2012

Quotes at IBS

"Kita boleh membenci Malaysia tapi Malaysia ada di setiap urat nadi kita. ICT perbankan kita saja masih menggunakan milik mereka. Kalau teknologi ini diambil, bisa kalang kabut bank-bank Indonesia."

Dr Ir Irnanda Laksanawan MSc Eng
Ketua Umum PP IKA ITS

"ITS itu kampus kaliber engineer tapi Bahasa Indonesianya kurang bagus, apalagi Bahasa Inggrisnya. Penampilannya juga kurang mendukung. Alumninya, meskipun memiliki hobi bermain golf, tetap saja bahasanya masih ala Keputih."

Sebuah sindiran sekaligus koreksi bagi ITS

Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA
Rektor ITS


Bangga Jadi Orang Indonesia

BJ Habibie dalam sambutannya saat menerima gelar Honoris Causa (HC) di Nagoya University mengungkapkan kebanggaannya sebagai orang Indonesia. Masyarakat Jepang yang sekarang maju, tengah berada pada masa aging society yakni generasi produktif yang sudah menua. Kebanyakan dari mereka menabung di masa mudanya dan kini saat sudah menua mereka mulai menggunakan jerih payahnya tersebut.

Indonesia sebaliknya. Negara ini memiliki generasi produktif yang sangat banyak dan potensial. Dari segi manapun, developing countries memiliki nilai positif jika hendak dibandingkan dengan negara-negara maju karena pertumbuhan negara berkembang jauh lebih mudah. Negara-negara maju di Eropa misalnya, mereka demikian sulit hanya untuk meningkatkan perekonomian 1-2%.

Negara berkembang adalah tentang how to life. Negara berkembang adalah negara masa depan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bangga menjadi orang Indonesia.

Kenapa kita harus bangga (lagi) menjadi orang Indonesia? Saat ini, Asia adalah penyelamat ekonomi dunia. Asia sendiri terbagi-bagi menjadi beberapa area yang bisa dikatakan 'great'. Ada greater China, Pakistan, dan Indonesia. Di kawasan ASEAN, Indonesia tergolong negara 'greater' di antara negara-negara lainnya.

Berbicara mengenai daya saing, ada tiga faktor yang mempengaruhi, antara lain basic requirement, efficiency enhancing, dan innovation & sophistication center.

Basic Requirement antara lain terdiri dari pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Logikanya, bagaimana suatu negara bisa bersaing jika untuk kebutuhan dasarnya saja tidak bisa dipenuhi? Karena itulah, kebutuhan mendasar perlu diupayakan semaksimal mungkin.

Efficiency enhancing terkait dengan kecanggihan teknologi. Teknologi canggih diharapkan mampu meningkatkan efisiensi.

Terakhir, innovation & sophistication center mengacu pada kreativitas. Keunikan dan dan kegunaan adalah dua poin utama yang harus diperhatikan. Percuma ketika suatu karya itu unik tapi tidak bermanfaat. Berdasarkan penelitian dari Harvard University tahun 2011, 2/3 kreativitas dihasilkan dari pendidikan dan 1/3 sisanya dipengaruhi faktor genetik. Intelejensi justru kebalikannya.

Sedikit Banyolan Tentang Pendidikan

Indonesia memiliki sekitar 20 juta siswa SD hingga SMA dengan pengajar sejumlah 2,9 juta orang. Jadi kalau denger Menteri Pendidikan Singapura ngomongin pendidikan, ya cuma pendidikannya satu kecamatan saja itu. Kalau Indonesia, mulai dari level pendidikan Afrika sampai Eropa kita punya.

Tapi tetap, yang terpenting jika berbicara mengenai pendidikan, setidaknya ada tiga hal krusial dalam hal ini, antara lain: observing (kemampuan melihat, mendengar, dan membaca), questioning (saat anak sudah mampu berorientasi pada pertanyaan mengapa disertai dengan kemampuan berargumen),dan presentation.

Empat Fase Jejaring Alumni

Jejaring alumni harus melalui empat fase dalam perkembangannya, yaitu connectivity, transaksi, kolaborasi, dan transformasi.

Connectivity artinya setiap alumni bisa terhubung satu sama lain atau dengan kata lain silaturahmi. Tak cukup hanya berkumpul, setidaknya selama ajang pertemuan itu mampu berbuah sesuatu yang positif, misalnya berupa transaksi. Transaksi dalam hal apapun, tak terbatas transaksi bisnis.

Fase ketiga adalah kolaborasi. Setiap alumni ITS diharapkan mampu berkolaborasi, baik dengan sesama alumni ITS maupun perguruan tinggi lain. Fase terakhir adalah transformasi dimana jejaring alumni mampu membuat perubahan mendasar dalam satu dan lain hal dalam artian positif.

Harapan untuk ITS

Pertama, ITS adalah pilar sains dan teknologi. Perkuatlah terus dengan kerja keras.
Kedua, ITS untuk bangsa dan untuk dunia. ITS harus mampu in & out working. ITS dengan keluguannya dipoles sedikit saja jadi.

Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mohammad Nuh mewakili Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono @IBS

Wednesday, November 28, 2012

Crazy Rossi!


Honestly, I dont have any intention using English for this post. But it doesn't matter, as far my mood is still good.

Well, actually I really wanna share a lot of stories that I have. You know, this November made me hectic for lectures and works. About Djoeang team and it book, about my pre-factory design task, about IBS. Whoooooaaaa there must be many posts that I will write. It must! Just wait then my loyal readers :D

Ah, this evening was not very good to me. I was on fire to attend Pulp and Paper class but when I entered the class, my phone was ringing. "Sorry for this sudden information, today there is no Pulp and Paper class."

What the hell! It made me dissapointed. But still, there is nothing more disappointing and making me angry than the careless motor rider. I left my home about 3 pm. I drive slowly because I thought, there were still much time. My class begin at 4 pm.

Usually it take 30 minutes or if I get at the traffic jam, it will take 45 minutes. This evening, the traffic was little friendly. It's good, I didn't gather with the stream 'go home time' of office employees.

Bad thing happened in Kramat Gantung. After the intersection, I took my way at the right side of a car. I ride my motorcycle slowly. But suddenly, one motor appeared in front of me. The motor rider went to the right side directly. He never looked to the rearview mirror though once. As you know, at that time in my left side there was a car. Absolutely I didn't know that the motor rider would suddenly appear then cut my way. *(%&&*@@#$#%$%$#^!!! I recognized his uniform, navy! Even a navy doesn't have any attitude at the road in this country. How sad that is!

Hey, Rossi jalanan. Kalau mau ngebut ya ngebut aja tapi jangan di jalan umum. Teruntuk pembalap jalanan saya hanya berdoa, semoga kalian tidak mencelakai orang lain. Kalau elu celaka sendiri mah, EGP kale! *efek stress di jalanan

Sunday, November 18, 2012

20 Menit di Grenjengan

Mbolang itu tak perlu direncanakan. Kalau ada niat ya segera berangkat. Hal itu pula yang saya lakukan. Karena sudah terlalu suntuk setelah mengurusi buku hampir dua minggu ini, saya pun mengajak mas Huda untuk refreshing. Awalnya saya hanya iseng tapi karena beliau (sapaan khusus untuk orang yang dihormati sekaligus dituakan) bersedia, akhirnya langsung tancap gas meluncur ke TKP.

Bermodalkan browsing ria dan pengetahuan minim soal jalan, kami pun menuju Mojokerto. Tujuan awal sudah ditetapkan yakni air terjun yang entah apa namanya (saya lupa).

Setelah naik turun gunung, lembah, dan sungai, tiba juga di lokasi Wisata Padusan. Namanya saja 'padusan' yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah pemandian. Sudah pasti wisata yang ditawarkan adalah pemandian. Ada air panas, dingin, dan air terjun. Karcis masuknya adalah Rp 7500; per orang.

Kami memilih destinasi terakhir alias wisata air terjun karena memang tujuan awalnya ke situ. Karena hari sudah sore, sekitar pukul 16.00, saya pribadi agak was-was. Biasanya, jarak menuju air terjun agak jauh dari lokasi parkir. Untungnya hal itu tidak terjadi. Tak sampai 1 km kita sudah tiba di TKP. Taraaaam, air terjun Grenjengan sudah di depan mata. Air terjun ini tidak terlalu besar dan tinggi jika dibandingkan dengan Tawang Mangu.

happy jumping

Tak masalah buat saya, karena yang saya cari memang hawa segar pegunungan. Saya berteriak girang, berlari menikmati aliran air dingin jernih dan merasakan udara basah yang sejuk. Benar-benar refreshing.

Anyway, lari dari kota Surabaya sejenak, selama hanya 20 menit menuju tempat seperti ini terbilang nggak jelas. Sebelum itu, saya bersama mas Huda sekitar pukul 10.30 menuju percetakan di Sidoarjo untuk mengurusi buku. Urusan baru kelar pukul 13.45. Seketika itu pula kita meluncur mengendarai motor menuju Mojokerto. Sampai di sana pukul 16.00. Menikmati air terjun sekitar 20 menit lalu turun lagi. Pukul 18.00 kami baru keluar dari kawasan wisata.

malam sudah menjelang
Sepanjang perjalanan pulang, pemandangan yang ada hanya bayangan gelap pohon-pohon pinus yang tinggi, jalanan pun basah, licin karena hujan. Sampai di Mojosari kota sekitar pukul 18.45. Lumayan, ada break time untuk makan bakso dan tentu saja nge-dopping kopi.

dopping kopi :P
Pukul 19.45 kami baru cabut dari Mojosari. Sampai di Surabaya pukul 21.00. Melegakan karena kami selamat sampai tujuan. Efek dopping kopi terasa sampai entah jam berapa saya bisa memejamkan mata. Bagaimana dengan mas Huda? Dia bilang keesokan paginya pukul 05.30 berniat mbolang ke Probolinggo. Sepertinya jadi. Kita tunggu saja postingannya di celotehoe.blogspot.com.

Wednesday, November 14, 2012

Pagi di Luar Meja Redaksi

Meski sudah suntuk karena semalaman lembur editing dan layout buku.
Syukurlah, Tuhan masih berkenan membagi rahmat-Nya.
Ya, sebuah pagi buat saya di luar meja redaksi.

eka, salah satu rekan lembur


Soal Selera

"Jam tanganmu keren. Maskulin,"
"Bajumu udah girly tapi kenapa sandalmu kayak gitu?" (sambil lihatin sandal gunung butut yang dipakai ke resepsi nikahan senior)


Dua pernyataan keluar dari dua orang. Teman saya tentunya tidak memiliki niat khusus mengatakan hal tersebut. Toh, cuma komentar. Spontan dan jujur.

Kejujuran yang menyakitkan kah? Hahahaha, buat saya itu bukan hal besar. Tapi dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa selera saya lebih condong ke arah man style.

Jadi ingat saat saya mencari jam tangan di salah satu mall.
"Jam tangan untuk cewek yang sebelah sini Mbak. Kalau itu buat cowok," ujar penjaga toko.
Dengan santainya kakak perempuan saya menimpali,
"Dia emang nyari jam tangan yang model cowok kok Mbak."
Seketika penjaga tok pun terdiam.

Pernah juga saya jalan-jalan di mall dengan salah satu teman yang memang pecinta accecories unyu-unyu. Setiap ada benda-benda lucu, begitu mudahnya ia mengatakan, "Wah, lucu ya. bagus sekali. pengen beli, bla bla bla..."

Sementara saya? cuma nengok sebentar setelah itu ngacir dan lupa segala-galanya *lebay.

Saya pribadi tidak pernah mau ambil pusing dengan selera. Entah kenapa, sesuatu yang berbau sporty itu rasanya lebih menarik hati, hehe. Well, setiap orang memang punya style dan selera masing-masing.

Tuesday, November 13, 2012

maba

pemandangan yang tertangkap di plaza
Saya tengah menikmati angin sepoi-sepoi di Sekretariat Jurusan, menanti tiga teman yang memang janjian asistensi ke dosen pembimbing. Kalau bukan karena jam janjian sudah mepet, saya pasti jatuh terlena (baca: tidur) oleh hembusan angin *apaseh.

Tanpa sengaja, sebuah pemandangan tertangkap mata saat saya menengok ke bawah. Dengan kamera Nikon di tangan, langsung saja saya jepret. Rada kurang kerjaan sih, ngapain motret maba. Mereka klesotan di Plaza sambil mengerjakan laporan praktikum, itu bagi yang lagi ngerjain. Bagi yang nggak? Internetan atau mungkin memang sekedar 'absen' nampang di kampus.

What the hell!  Ngomongin soal maba, mindset yang muncul adalah pin, handband, dan atribut-atribut pendukung lain penunjuk identitas jurusan. Come on, saya tidak tahu apa esensi mereka (dan saya dulu) ber-atribut demikian hingga sekian lama. Okelah, di awal perkenalan kita membutuhkan media seperti itu tapi kalau menjadikannya sebagai sebuah dress code, hal itu justru bisa menumbuhkan sikap arogansi berlebihan. Dalam pemikiran saya, itu bukanlah pilihan bijak.

Ingat dulu saat awal pendirian ITS, mahasiswa Fakultas Sipil, Mesin, Teknik Kimia, Elektro, dan Perkapalan dikader secara bersama-sama. Mereka masih bisa mencintai jurusannya tanpa mengorbankan pertemanan dengan sesama mahasiswa ITS.

"Selama 10 hari benar-benar dipelonco bareng. Jadi ya deket meski sama jurusan lain," ujar Digul Siswanto, dosen Teknik Perkapalan ITS yang juga mahasiswa Tekpal angkatan 1960. 

So, duhai para senior (termasuk saya), mari turut menyebarkan virus integralistik. Sayang kalau maba-maba kita tidak memiliki pandangan luas di luar jurusannya.