Pages

Saturday, May 5, 2012

Bukan 100% Nasionalisme


Saya menuju Magetan naik bis dari Terminal Bungurasih. Dalam perjalanan, saya duduk berdampingan dengan dua orang pemuda berkostum militer biru. Mereka berangkat dari Surabaya, pastinya TNI AL, batin saya.

Awalnya biasa saja, tapi satu di antara dua pemuda tadi mulai mengajak bicara. Saya menanggapi seperlunya. Toh, bukan hal aneh kalau tiba-tiba ngobrol dengan orang baru dalam kendaraan.  Pertanyaan basa-basi asal daerah, kuliah dimana, jurusan apa sampai kesibukan apa, membuka percakapan kami. Tak berapa lama, teman si pemuda juga mulai nimbrung. Okelah, bahan obrolan jadi bertambah.

Dalam hati, saya agak bosan dengan topik basa-basi seperti tadi. Tiba-tiba, sense reporter beraksi. Saya ingin mengorek behind the scene profesi yang sekarang dan kelak akan mereka tekuni itu. Pemuda A yang berasal dari Jombang, ternyata memasuki sekolah militer pada tahun kedua setelah ia lulus SMA.

”Selama setahun berarti menganggur?” tanya saya spontan

“Nggak mbak. Saya kerja jadi pegawai Indomart.” jawabnya

“Kok tiba-tiba bisa kepikiran daftar sekolah TNI AL?” usik saya lagi

“Ya pengen aja. Jadi pegawai Indomart penghasilannya nggak seberapa. Sekarang nyari kerja susah. Kalau masuk sekolah kayak begini, kan enak, sudah jelas ada ikatan dinasnya. Syukurlah bisa ketrima. Meskipun memang berat saat menjalaninya.”

“Wah, berarti nggak berangkat dari nasionalisme dan semangat mengabdi sama negara donk?”

“Gimana lagi mbak. Nasionalisme ya nasionalisme, tapi kita kan juga pengen hidup layak. Jadi wajar lah, ” ujarnya menanggapi

Saya tersenyum simpul mendengar jawaban yang sangat apa adanya. Saya diam, merasa sedikitpun tak berhak menghakiminya meski lewat sebuah komentar.  Si pemuda punya hak penuh atas niatannya saat memilih dan menjalani pekerjaan tersebut. Menjadi aparat negara, meski bukan karena 100% nasionalisme, saya tetap berdoa agar engkau dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi negeri ini.

No comments:

Post a Comment