Pages

Monday, December 24, 2012

Berangkat Naik Bis, Pulang Naik Merpati


Perjalanan tim Djoeang menuju Jakarta dimulai dengan mendaftarkan diri sebagai peserta IKA ITS Business Summit 2012. Koor acara ini dari kampus ITS adalah departemen hub hub yeah alias Departemen Hubungan Luar (Hublu) BEM ITS.

Ceritanya eh ceritanya, ada satu anggota tim Djoeang yang kancrit karena ketinggalan informasi (ITS Online kok ketinggalan informasi, odong nggak seh?!) mengenai even besar nan mewah nan megah ini *mulai alay. Dialah Patimatuz Zahroh Odongselaludanselaluodong, Hehe. Tapi syukurlah, undangan khusus datang dari kakak Irnanda, Ketua IKA ITS untuk 5 kru tim Djoeang sehingga si Patimatus tetep bisa ikutan. Namun sayang, mas Huda, koordinator tim kami berhalangan ikut karena dia sedang sibuk melamar anak gadis orang (Maaf ya mas, kami semua tidak bisa hadir. Insyaallah nanti dateng pas resepsinya aja langsung. Kapan lho?)

Niat kami berangkat ke Jakarta adalah untuk me-launching buku Titik Nol Kampus Perdjoeangan. Selain niat mulia itu tentu saja ada modus profit yakni dengan menjual buku ke alumni. Sesuai pesan Pimred kami, Pak Bekti, kami harus menghubungi Pak Ade Irfan selaku koor acara selama IBS. Alhamdulillah, beliau memberikan kami ijin mengisi stan milik IKA dan menjanjikan launching di acara IBS.

Koordinasi stan tempat berjualan, acara launching, hingga kordinasi dengan percetakan untuk mengirimkan buku saat hari H pun sudah selesai. Semua persiapan untuk buku beres. Tinggal berangkat.

Yak, perjalanan sehari semalam lebih mengendarai bis dimulai. Bermodalkan KKN, kami satu tim Djoeang bisa duduk di satu bis yang sama. Pembagian kelompok yang seharusnya per FGD pun tak berlaku sudah. Karena merupakan undangan, jadi kami tidak terikat dengan FGD. Kecuali untuk schedule bis, kami tetap disiplin. (Ya iyalah, kalau ditinggal bis gimana coba?!)

Sekian puluh jam berada di bis yang bahkan AC nya tidak bisa dikecilin oleh sang sopir adalah penyiksaan. Saya pribadi jarang mabok di perjalanan, tapi karena efek AC jadinya badan ini sukses masuk angin. Tolak angin dan antimo menjadi obat mujarab kala itu (Terima kasih Tolak angin dan antimo *ngiklan).

Syukurlah bis rombongan IBS tiba dengan selamat di tujuan. Setelah merasakan capainya naik bis dan beraktivitas seharian penuh, saat perjalanan pulang menuju TMII, saya, eka, dan ima memiliki rencana untuk pulang naik kereta. Karena naik pesawat sudah tentu adalah hil yang mustahal. Duit dari mana?

Opsi pertama adalah menggunakan uang penjualan buku yang laku di IBS untuk pesan tiket kereta ekonomi bisnis. Opsi kedua adalah merepotkan kakak Irnanda lagi untuk uang tiket tersebut. Dengan estimasi, beliau tidak perlu membayar uang taksi yang dijanjikan di awal untuk keperluan  mengunjungi para narsum di Jakarta. Karena faktanya, kami keliling Jakarta diantar sopirnya Pak Marseno dengan ongkos gratis tis tis.

Tak dinyana, dibantu Cak Lontong, buku kami laku keras saat dilelang di panggung IBS. Pada akhirnya, kami memutuskan pulang naik pesawat. Hitung-hitung membayar kerja keras selama ini. Oiya, untuk pemesanan tiket pesawat ini, kami sangat merepoti Herbram Dunar. (Makasih ya  Herbram, semoga amal ibadahmu diterima Allah swt. Amiiin)



Penerbangan Merpati sekitar pukul 8 malam. Ternyata delay. Delay di Bandara Soekarno Hatta memang cuma 40 menit. Tapi kami ngemper di sana sedari sore. Tak apalah, setidaknya bayangan Surabaya sudah di depan mata.

No comments:

Post a Comment