Pages

Friday, December 28, 2012

Beli Pake Dolar, Jual Pake Rupiah


Beli pake dolar, jual pake rupiah untuk aset berharga di negeri ini nampaknya sudah jadi hal biasa. Melakukannya sudah seperti tanpa dosa. Padahal kalau mau menengok lebih jauh, hal itu sungguh sangat disayangkan. Untuk membuktikannya, mari ambil beberapa sampel produk saja. Tidak usah jauh-jauh, produk BBM yang kita pakai tiap hari itu contohnya.

Beli minyak mentahnya? Jangan dikira gratis, tinggal nyedot di sumur sendiri. Meskipun kenyataannya memang cuma tinggal sedot sih. Eits, tunggu dulu. Nyedotnya memang di negeri sendiri, 100% Indonesia punya, tapi perusahaan yang nyedot itu perusahaan asing men, perusahaan multinasional yang koloninya dimana-mana. Termasuk negara kita ini. Pengalaman saya saat kerja praktek di Refinery Unit III Pertamina Plaju, Palembang, itu crude oil alias minyak mentahnya selain didatangkan dari Pertamina unit pengeboran di kawasan sekitar Sumatera, rupa-rupanya juga masih harus beli ke Chevron. Belinya? Pake dolar men, apa lagi?! Tepok jidat deh.

Sementara jual produk olahannya? Jelas pake rupiah lah. Mana laku itu BBM dijual pake dolar. Bisa mati rakyat kita. Harga sudah rupiah, disubsidi habis-habisan pula. Tambah tepok jidat deh. Lanjut dah, saya nggak mau ngelantur ke omongan subsidi BBM. Bisa panjang urusannya.

Itu sampel pertama, sampel keduanya? Masih dari industri kimia, soalnya bidang saya nggak jauh-jauh dari itu, hehe. Tahukah Anda bahwa bahan baku pupuk juga dibeli pakai dolar? Fakta itu diungkapkan oleh pihak PT.Petrokimia, Gresik. Kita tahu lah bahwa pengguna pupuk utamanya adalah para petani. Secara, Indonesia adalah negara agraris (meskipun saya juga meragukan segi pertaniannya karena kedelai, buah, sampai beras pun nyatanya masih impor lantaran belum swasembada). Faktanya demikian. Kalau sudah dibeli dengan dolar sementara pangsa pasarnya mayoritas masyarakat kurang mampu. Ujung-ujungnya subsidi. Pupuk otomatis disubsidi juga akhirnya.

Sampel ketiga adalah mesin. Mesin apa? Mesin apa aja deh. Onderdil mesin sampai yang sudah jadi motor atau mobil, kebanyakan Indonesia masih ngimpor men. Apa karena kita gak mampu bikin? Menurut saya bukan sih. Sepakat dengan beberapa pembicara keren saat IKA ITS Business Summit di Jakarta kemaren, mereka, para pengusaha asli Indonesia perlu perlindungan lebih dibandingkan perusahaan asing, baik  dari segi regulasi, kemudahan, dan ketahanan. Masak produk anak negeri gak dilindungi di negeri sendiri? Masak produk anak negeri kalah bersaing dengan produk asing? Padahal kalau ditinjau dari segi kualitas, tidak kalah juga.

Kalau pemerintah sudah pro dengan anak negeri, saya yakin tidak mustahil Pertamina-nya Indonesia bisa menjadi seperti Petronas-nya Malaysia atau seperti Nissan-nya Korea. Well, I hope.

No comments:

Post a Comment