Pages

Wednesday, August 17, 2011

Seni Menertawakan Diri (3)

“Kamu nggak ketilang Da?”

“Nggak lah, kan aku juga bawa SIM dari Surabaya dan STNKmu”

“Serius?”

“Ya boi. Tapi tadi sempat ada razia Polisi. Eh, pas sudah mengeluarkan SIM dan STNK, polisinya dengan judes menyuruh kita jalan terus tanpa diperiksa. Tahu gitu kan kita tidak usah berhenti?”

“Hahahaha....syukurlah..”

Saya merasa ada yang aneh dengan teman saya ini. Dari gelagat tawanya sepertinya ada sesuatu yang benar-benar lucu, tentu bukan dari cerita ku sebelumnya. Dan seperti biasa, selalu ada udang di balik rempeyek. Misterius, khas pribadinya.

“Da, tau nggak?”

“Apa?”

“Untungnya kamu nggak ketilang”

“Lha kenapa”

“Ya iyalah, itu kan STNKnya sudah mati beberapa bulan yang lalu”

“Asem! Jadi dari awal kamu sengaja supaya SIMku disita di Jakarta?”

“Hahahaha...,” tawanya semakin keras. Lepas.

“Ya sengaja lah. Aku nggak bisa bayangkan wajahmu di depan polisi Jakarta”

Dan semakin ASEM!

Inilah hobinya, sengajar menyasarkan ku. Menari di atas penderitaan ku. Duh, masih teringat pas kali pertama bertemu dengannya.

“Lho Da, kok kamu tambah pendek?”

Makjleb. Mentang-mentang tambah tinggi dan yang tiap hari fitnes, kalau ngece orang seperti tidak pernah kenal sama sekali.

¬¬¬¬¬¬¬

Malam semakin larut. Tapi, seperti malam tidak punya arti di jalanan kota ini. Lampu penerangan jalan masih tetap setia menggantikan matahari yang sedang beristirahat. Laju kendaraan dihentikan di bagian pinggir jalan yang gelap gulita. Di antara kerumuman pohon yang berjejer rapi itu, saya turun. Tidak ada kendaraan, tidak pula manusia. Tanpa suara. Hening.

Tanpa bulan, tanpa bintang. Hanya kita berdua. Memandangi langit hitam pekat di atas sana. Sambil melirik kanan kiri, saya menggerutu mengapa berhenti di tempat seperti ini. Ini kan tengah malam? Untuk apa kita ke sini?

“Kau lihat Da, orang tua di seberang jalan sana”

Seorang lelaki tua, mungkin sudah paruh baya lebih. Berjalan gontai membawa karung di punggungnya, mungkin pemulung, pikirku. Di tengah malam seperti ini, sepi. Suasana membawa pikiran ku untuk memaklumi kesimpulan ini, teman ku ini ingin bercerita. Saya pun diam.

“Orang itu juga butuh hidup, sama seperti kita. Mungkin dia juga punya keluarga, yang dia perjuangkan hidupnya.
Adakah kepedulian kita dengan mereka?”

Mulut saya terkunci, pikiran ini tidak mau menjawab pula.

“Sementara umat muslim di negeri ini katanya mayoritas, dimana mereka? Sering aku bertanya, apakah ini Islam?”

Masih terdiam. Menyimak.

“Saya paling benci kalau lewat kompleks Sekolah Al Azhar”

“Mengapa?” tanyaku pelan.

“Mereka itu membawa label Islam, dengan nama besar Sekolah Islam pula. Mereka kaya. Setiap berangkat sekolah juga berjejer mobil-mobil kelas atas, yang justru sering membuat macet. Tapi apa mereka peduli dengan orang di depan sana?” tanyanya sambil menunjuk orang tua tadi.

“Sering orang mengaku muslimlah, ikhwah lah tapi tidak pernah ambil peduli dengan orang-orang seperti mereka? Padahal mereka kan juga tanggung jawab kita?”

“Pedulikah kau dengan mereka?” tanyanya padaku.

Aku diam.

“Siapkah kau terjun ke dunia yang sebenarnya? Dunia yang jauh berbeda dengan dunia kampus, dunia mahasiswa yang mengagungkan idealismenya. Mahasiswa yang hobi melakukan aksi demonstrasi. Dunia yang campur aduk. Apalagi di kota Jakarta”

“Ya boi, kan tidak idealisme kan juga dinamis, bisa berubah terus. Apalagi dari mahasiswa ke masyarakat, tidak mungkin stagnan,” timpalku.

“Aku sering menyendiri seperti ini. Menyaksikan idealisme yang bertubrukan, hanya karena alasan bertahan hidup. Terkadang aku keluar sejenak, berdiam diri menyaksikan orang lain di tengah malam. Atau pergi clubbing, menyaksikan banyak wanita berpakaian mini, bir, pemuda pemudi berbaur....hanya sekedar memahami bagaimana islam ada di sana. Padahal rata-rata mereka kan beragama Islam? Idealisme macam apa yang mereka bawa? Inilah Jakarta”

“Sementara orang-orang, yang katanya Muslim taat lah, ustadz lah, atau apalah itu sebutannya,  apa peduli dengan mereka? Bagaimana dakwah Islam bisa sampai kepada mereka, jika tak satu pun dari kita yang memahami mereka? Mereka lebih sibuk mengurusi golongannya sendiri, sibuk mengurusi dirinya sendiri, sibuk dengan zona nyamannya”

Aku tercekat. Anak ini, selalu dan selalu frontal jika bercerita, yang seringnya juga mengkritik pribadi saya secara tidak langsung dan langsung pula.

“Aku juga sering miris, banyak dari dari klienku itu yang mengaku non-muslim atau bahkan atheis tapi mereka bisa sukses dunianya. Dimana umat muslim? Apakah juga, kekayaan teknologi, pengetahuan dan keunggulan sains itu hanya untuk mereka yang non muslim? Saya sebagai muslim juga terkadang malu dengan semangat belajar direkturku dari Jepang yang barusan mualaf”

“Umat muslim hanya menjadi babu, pesuruh. Untuk sholat saja, muslim harus mencuri-curi waktu dan tempat. Sholat saja susah, bagaimana ingin berdakwah? Mengapa bukan hal sebaliknya yang terjadi? Muslim punya perusahaan dan memberikan kelonggaran ibadah untuk karyawannya? Apakah kamu mau menjadi babu juga?”

Kembali, aku tertegun. Tersindiri tajam.

“Ah dunia mahasiswa, dunia penuh kekonyolan. Mengapa dulu aku senang ikut aksi ya?” urainya ketus.

“Mahasiswa...Mahasiswa....,” ujarnya sambil tertawa terkekeh.

“Habis lulus kamu kemana Da?”

“Kerja insya Allah”

“Kerja, itu saja? Dimana?”

“Inginnya di perusahaan energi atau perminyakan”

“Itu saja? Apa nanti kamu hanya kerja saja? Jika sudah kerja, apakah kamu akan masih mau peduli dengan orang-orang seperti itu?”

Sungguh, saya mesti mati kutu jika berdebat dengan dia. Selalu dan selalu, saya mesti dihadirkan dengan paradoks kehidupan yang aslinya juga saya alami, dan ini disodorkan dengan menonjok-nonjok nurani. Seringnya, saya eyel-eyelan mirip anak kecil tanpa ada yang mau mengalah. Sama-sama keras kepala. Kepala batu.

Tapi malam mini, saya lebih banyak terdiam. Memang demikian, itu kesimpulan singkatku. Walaupun aku juga terkadang menyanggah dengan hal-hal yang sedikit tidak nyambung.

“Namanya mahasiswa boi, mereka belum mengalami terjun ke dunia kerja, atau masyarakat langsung. Kan wajar?”

Tapi, apakah kelak apakah sisa hidup saya akan dihabiskan di dunia kerja? Apakah saya masih bisa berkontribusi dengan masyarakat? Apakah saya akan menjadi babu pula? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, berkeliling cepat, memenuhi otak.  Dan pertanyaan paling mendasar: sampai sekarang, saya masih meraba-raba passion ku terkait dengan profesi. Duh, aneh. Galau.

Sementara dia, memandang life plannya yang terpampang di kamar kosnya, sudah bisa direka kemana dia akan melangkah. Juga setiap detail hal yang harus dilakukan.

“Aku masih punya hal yang belum terwujud Da. Setidaknya aku bisa menghidupi keluarga lain, termasuk dua keluarga yatim yang di Keputih itu”

Pikiranku melaju ke masa lalu. Di kawasan Kejawan gebang, di belakang perumahan dosen blok U, di dekat rawanya ITS. Di situ, saya pernah diajak berkenalan dengan seorang Ibu dengan anak-anaknya. Teman saya ini berbicara bak anak dan Ibunya. Sementara anak laki-lakinya berlari, mengambil nilai rapor yang dijanjikan untuk disodorkan kepadanya. Anak bungsunya, masih mengaji.

Oh...Ternyata. Aku malu.

“Tahun depan insya Allah mau beli rumah dan mau membuka franchise perusahaan di Surabaya”

Semoga sukses Kawan, terima kasih untuk semuanya.

¬¬¬¬¬¬

“Dimana Pak?”

“Di Gedung Bidakara, dekatnya patung Pancoran”

“Itu dimana Pak? Saya tidak begitu hafal jalan di Jakarta”

“Lho, posisi anda kan di Tebet. Itu patung Pancoran itu dekat sekali dari situ”

“Oh begitu Pak. Itu sekitar mana Pak”

“Itu sebelah selatan Pas dari Jl Soepomo”

“Wah..ya sudah kita cari Pak. Oh ya, Bidakara itu sebelah mana?”

“Itu gedung terkenal di Jakarta. Semua orang pasti tahu. Dekatnya Pancoran”

“Ya Pak. Nanti kita cari”

Percakapan saya dengan Pak Tjuk Sukardiman sengaja disingkat agar keluguan saya tidak terekspos secara frontal.

“Hahaha...,” tawa Luftia lepas setelah saya beritahukan percakapan tadi.

“Patung Pancoran itu di belakang sana Mas, itu lho yang kita lewati dari setiap dari rumahnya Pak Marseno”

Dan saya pun teringat dengan patung mirip orang kebelet BAB itu. Atau patung mirip orang yang terobsesi untuk menculek mata temannya, haha. Ya Allah, kecerdasan visual saya memang payah. Itu kan jalan nyasar kita tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Sepeda motor kita nyalakan. Menyusuri jalan Prof Dr Soepomo. Ternyata, tak sampai sepuluh menit kita sudah masuk di kawasan yang dimaksud.

“Maaf Pak, gedung Bidakara itu mana ya?”

“Itu di belakang sana,” sembari menunjuk bangunan menjulang tinggi.

“Gedung segede ini gimana nggak popular? Benar-benar udik diriku, haha”

Ya. Akhirnya di kompleks bangunan pencakar langit ini, saya menurunkan Lutfia untuk menemui narasumber. Sementara saya harus ke kediaman Bu Soebagyo Angka dan Bu Maning di kawasan Jakarta Selatan. Kembali, saya terkenang percakapan terakhir dengan Pak Tjuk Sukardiman.

“Ya Hapenya diaktifkan terus ya. Nanti saya hubungi, anda kan tidak ada pulsa telephone”

Ratapan mahasiswa kere.

¬¬¬¬¬¬

Kebiasaan lama saya kambuh, dari kemarin saya belum mandi. Waktu mengantar Lutfia pun saya belum mandi. Bahkan dari kemarin, saya belum ganti baju. Bagaimana bisa ganti baju, sementara seluruh perkakas baju saya ada di dalam sekret yang pembawa kuncinya masih terlelap tidur sampai jam setengah sembilan ini.

Pasca mandi dan packing seluruh perlengkapan, saya meluncur ke arah Pangkalan Jati (lagi). Dengan modal pengalaman galau sebelumnya, hari ini saya lebih pede. Semoga hari ini memeluk asa saya untuk menemui dua narasumber yang keren-keren ini. Lewat jalan Kol MT Haryono, pikir saya, jauh lebih cepat daripada memutar seperti kemarin.

Dari sini, saya melaju terus. Beberapa fly over saya lewati dengan melogika, berapa fly over yang harus saya lewati, baru setelahnya saya harus belok kiri. Satu fly over...dua fly over...tiga...empat...lima...dan saya mulai panik. Tanpa navigator yang biasanya selalu bisa membaca peta, saya berjalan melambat dan pelan-pelan membaca petunjuk jalan. Lurus terus.

“Hah? Bandara Halim Perdanakusuma?”

Alamaaak...Hobi sekali kendaraan ini melaju melampaui batas? Duh, saya harus putar balik. Tapi ternyata, tol tengah di jalan ini seperti tembok besar Berlin yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin timur. Akses untuk memutar balik pun, sampai puluhan kilo. Kembali saya harus memutar melewati Kemayoran baru hingga Menteng! Itu lebih jauh daripada jalan awal yang melebihi kawasan Tebet.

Sejam lebih kegalauan jalan ini menemaniku. Hingga sampai di Jalan Kalimalang. Huft...setelah setengah jam kemudian, akhirnya saya sampai di kawasan Pangkalan jati lagi. Berhenti sejenak, membuka Hape. Ada SMS dari Bu Soebagyo hampir dua jam lalu. Isinya, “Maaf pagi ini saya harus pergi, wawancaranya diganti hari senin saja Pak”.

Saya langsung mengalami demotivasi pelan-pelan. Tak apalah, masih ada Bu Menik, pikirku. Ku telephone nomer yang ada di catatan miniku.

 “Maaf Pak, Ibu lagi keluar sejak pagi tadi. Ada temannya yang meninggal”

“Oh...Innalillahi...Kira-kira balik jam berapa Pak?”

“Mungkin sore”

“Sore?” Pekikku dalam hati. Sore itu saya harus sudah di stasiun atau bakal jadi gelandangan di Jakarta tanpa bekal.

“Oh ya sudah Pak, nanti saya hubungi lewat telephone saja soalntya saya harus pulang sore itu juga”

Demotivasi akut. Tubuhku lemas. Perjuangan hari ini harus berakhir hari ini. Pagi jam 6 saya sudah berangkat dari Sunter ke Tebet. Menunggu pintu Sekre dibuka dua jam lebih. Tidak mandi hampir dua hari. Belum makan seharian.

Mau mengeluh? Kepada siapa? Mau marah? Karena apa? Ya sudah lah, lagu Bondan Prakoso terngiang-ngiang. Ya sudah lah, saya harus kembali dan mendengarkan cerita dari parner saya yang entah bisa pulang atau tidak. Atau ditinggalkan begitu saja narasumbernya? Entahlah.

¬¬¬¬¬¬

Hahaha...

Ya. Tertawa itu menyenangkan. Tapi ditertawakan? Tapi sudahlah, tiga hari ini memang penuh dengan agenda menertawakan diri. Justru itulah seninya, hal unik yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, ikut menertawakan diri sendiri.

Kembali, Lutfia tertawa mringis.

“Sudahlah mas, memang tidak bisa diprediksi bakal terjadi seperti itu. Masak orang meninggal itu direncanakan?”

Ceritanya, Lutfia sukses berat memeras narasumber, hehe. Dia menemui Pak dan Bu Tjuk, putrinya Pak Jahja Hasyim, salah satu pendiri Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) Sepuluh Nopember. Tidak hanya kisah dan cerita yang menarik, dia juga dapat lipstick dan pacar yang dibawakan oleh pasangan itu dari Tanah Suci, Makah, selepas umroh bulan lalu. Tak cukup di situ, dia juga dapat uang saku (mirip arek cilik). Ya, Bapaknya yang sudah kaya raya memang mantan aktifis pergerakan mahasiswa, jadi mengerti sekali dengan nasib mahasiswa, hehe.

Tapi sayang, saat ditawari makan, Lutfia menolak. Coba saya ditawari? “Bisa bungkus buat makan sore dan sahur pak”, haha.

Okelah. Masih ada waktu tiga jam sebelum sebelum kita cabut ke stasiun. Sementara Sekre juga masih terkunci, penjaganya masih pergi. Monas menjadi destinasi terakhir, dari kesepakatan kita. Jalan menuju Monas? Kita pikirkan sambil jalan. Karena peta ajaib yang kita pinjam, hilang di Dufan.

Di Monas.

Panas sekali, tidak ada hal yang layak diucapkan selain ramainya pengunjung dan panasnya sengatan matahari hari ini. Saking panasnya, semua serba silau dan malas untuk pindah kemana-mana. Mau masuk museum? Antrean mengular bak gerbong kereta api. Mau naik ke atas? Mungkin kita bakal menjadi pengantre ke-1003 yang bakal naik ke atas.

Ya..kita hanya motret sana-sini, sembari beli kaos Monas dan makan siang. Kembali, saya dihadapkan pada Soto yang mirip air tawar campur sayur. Ah, too...soto...sotoyy...

Dan balik ke Sekre.

¬¬¬¬¬¬

Saya dan Mas Huda dilanda stress!! Mas Huda coba terus menghubungi penjaga sekre. Ampuuuun lamanya!!
Menunggu, sementara yang ditunggu tidak merasa sedang ditunggu adalah hal yang paling saya benci dalam hidup. Dan kini saya harus merasakannya kembali. Dalam sehari, dua kali saya harus menunggu tanpa kepastian. Pagi tadi, dua jam kita mirip gelandangan menunggu pintu Sekre dibuka. Sementara penjaga masih tidur, jadi ditelephone berkali-kali pun tidak akan sampai ke alam mimpinya.

Kali ini, lebih fatal. Janji jam dua nyampai sini, si penjaga Sekre malah bilang jam tiga. Jam tiga kita di sini, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sementara waktu terus merangkak, dan jam 17.45 kereta sudah berangkat, itu artinya diusahakan maksimal jam 4 saya harus sudah siap berangkat. Ini Jakarta, macet ada itu seperti makan, kebutuhan pokok dalam hidup. Besok juga sudah 1 Ramadhan.

Rencana saya: mengantarkan Lutfia ke stasiun dulu. Saya juga perlu ke Sunter untuk mengembalikan sepeda motor ini. Saya juga perlu ngojek menuju stasiun lagi. Berapa waktu yang dibutuhkan? Sementara kita di sini mirip pengangguran tak tahu diri.

Jam setengah empat, akhinya si penjaga bisa dihubungi. Jawabannya? “Maaf, jam empat”.

Shock! Ini lah satu fase dimana puncak kegalauan tiba-tiba menyeruak lepas tak terkendali. Inilah titik perasaan yang tak bernama. Rasa yang melonjak-lonjak keras, tak beraturan, tak seirama dengan denyut jantung. Pikiran yang mengaburkan harapan dan kebingungan yang tak menentu. Warna kelabu yang semakin terlihat samar-samar menuju kegelapan. Tinggal berbelok arah, mungkin kita sudah putus asa.

Tidak sama dengan saat menunggu waktu menunggu nilai mata kuliah keluar. Juga tidak sama dengan orang yang kebelet BAB tapi harus mengantre lama. Tidak dengan orang yang tertawa dalam kesedihan. Tidak pula sama dengan orang galau. Tidak. Ia datang silih berganti, tanpa aturan.

Kita tertawa bebas, menertawakan diri kita sendiri. Sejenak, langsung kita menjadi sedih, “Bagaimana jika kita tidak bisa balik hari ini?” pertanyaan ini kita ulang berkali-kali. Sejenak lagi, kita tersenyum simpul, mengenang beberapa hari sebelumnya. Sejenak, kita gelisan. Sejenak, rasanya ingin marah. Saya mengangkat pembatas parkir yang terbuat dari semen cor. Ingin rasanya mendobrak pintu itu dengan benda ini. Sejenak, saya ingin berteriak. Sejenak, kita meracau. Sejenak, kita ingin menangis.

“Mengapa orang ini tidak tahu diri? Sudah diberitahu dari tadi pagi kalau kita mau balik sore ini!”

Tubuh saya lemas. Khawatir sekali. Juga takut. Tapi mulut saya justru bisa tersenyum. Tawa saya juga tidak mau berhenti. Apakah saya sudah memasuki fase gila? Sepeda Motor. Surabaya. Tiket. Jam 17.45. Kereta Api. Tarawih. Ramadhan. Sahur. Keluarga. Semua bergerak bebas, tak satupun bisa ku rengkuh. Walau hanya dalam pikiran.
Di masa depan, saya tidak akan pernah melupakan momen ini. Jika sudah berkeluarga kelak, mungkin ini akan saya letakkan momen paling bersejarah dalam hidup disamping momen ijab kobul dan menunggu kelahiran anak pertama (#koplak).

Dan akhirnya Masnya datang. Tanpa ekspresi. Tanpa permintaan maaf sama sekali. Kita? Tak kalah ketus, langsung meloncat ke lantai 3 dan bergegas turun ke bawah. Saya pamitan sambil menitipkan kunci dan STNK teman. Dengan sangat terpaksa saya harus merepotkan teman saya untuk mengambil sepeda motornya ke sini. Maaf.

Di depan, saya langsung memberhentikan taksi. Tanpa babibu, langsung main cepat tanggap. Dan Lutfia? Mirip artis yang melenggok di karpet merah, dia santai bung. Tak berlari, tidak juga Sa’i (berlari-lari kecil).

“Chargermu sudah kamu ambil”

“Bentar, tak cek. Lho? Ketinggalan”

Dia balik lagi ke Lantai 3 dan kembali lagi. Pas sudah di dalam taksi.

“Kayake sarungku ketinggalan deh”

Yahh...Pancet ae. Biarin.

Sementara saya kecapekan sampe teler di dalam sini. AC, macet, capek, meriang membuat sukses saya tertidur pulas sejenak. Tak sampai setengah jam kita sudah sampai stasiun Jatinegara. Kurang dari sejam sebelum bulan Ramadhan beranjak. Alhamdulillah.

¬¬¬¬¬¬

Makan, ini adalah bagian seni memperjuangkan hidup di tanah ibu kota ini. Makan irit, itu yang kita lakukan. Lutfia sehari hanya makan sekali. Bahkan pernah dia hanya makan batagor saja sehari. Sementara saya rata-rata makan dua kali saja, sesuai kebiasaan di Surabaya. Bahkan di hari kedua, saya juga hanya makan sekali saja. Tapi soal angka keuangan, irit tidak sepadan dengan nominal angka.

“Berapa Mas?”

“Dua belas ribu”

Hati saya lega. Tidak terlampau mahal.

“Est tehnya tiga ribu, jadi totalnya 15 ribu”

Hah? Es teh ini tiga ribu? Benar-benar harga yang sadis, mengapa saya tidak membawa teh saja dari Sekre ITS? Di keputih, saya bisa teller es teh dengan uang tiga ribu. Atau mengikuti saran tante saya sebelum berangkat: bawa beras dan rice cooker. Masak di sana dan tinggal beli sayur. Dijamin irit. Juga tidak terlalu berat membawanya.

Hari kedua. Nasi goring 10 ribu. Masih normal, mungkin karena penjualnya orang Madura yang secara spontan diajak ngobrol dengan Lutfia dengan bahasa planet itu. Batagor 5 ribu. Di Monas, dua porsi 40 ribuan. Makan buat sahur 2,5 porsi empat puluhan ribu. Yang paling sadis ya di Dufan, dua porsi sampai 80-an ribu. Sisanya kita belikan logistic minum dan biscuit.

Pancen, Ibu kota itu seperti ibu tiri? Betul?

¬¬¬¬¬¬

Selama empat hari, kita sudah bolak-balik nyasar dari jalan Jatinegara-Manggarai-Tebet, mungkin hampir 5-7 kali. Tapi kita tidak pernah bisa melalui hal sebaliknya dari Tebet-Manggarai. Apalagi menuju Jatinegara dengan jalur normal, pasti selalu melalui mekanisme NYASAR terlebih dahulu. Di peta terlihat simple, tapi kenyataannya kita selalu dibodohi oleh jalan. Atau memang kecerdasan artifisial kita yang terlampau rendah?

Nah, pas edisi pulang dengan naik taksi menuju stasiun Jatinegara, kegalauan kita terjawab. Oh, ternyata dari Tebet untuk menuju Manggarai itu lewat jalan Minangkabau Barat belok ke kanan. Padahal jalan itu juga sudah kita lewati dua kali. Logika kami seolah dijungkirbalikkan oleh kenyataan. Ah, mending mempelajari mekanika kekuatan material daripada melogika jalanan kota ini.

¬¬¬¬¬¬

Nafas saya beradu dengan penumpang di depan yang senantiasa merokok. Asap rokok, bagi otak saya adalah kontrok otomatis untuk menahan nafas dan membuka mata. Selama di perjalanan praktis saya tidak bisa tidur nyenyak karena asap rokok ini. Belum lagi jika penumpang sebelah dan belakang meroko pula. Gerbong ini serasa kabut rokok. Sampai tengah malam, entah berapa rim rokok yang ia bawa. Sungguh, terlalu!

Bahkan sampai menjelang sahur pun, asap rokok dari depan sana menjadi menu utama selain nasi. Baru menjelang subuh, saya bisa tertidur agak pulas.

Di sepanjang jalan, juga sepanjang jalan kenangan, bukan sepanjang Sidoarjo lho, kita menertawakan kisah empat hari penuh kegalauan itu. Kita bercerita ngalor ngidul, dari hal sepele sampai yang sangat sepele (nggak ada yang serius ya? Haha). Di sini pula, tanpa suara pujian yang biasanya berkumandang menjelang Ramadhan, tak kita dengar sama sekali. Hanya suara geseka rel dengan roda kereta yang menemani sholat tarawih pertama bulan ini. Berbeda.

Hingga pagi menyingsing, matahari pelan melonggok keluar dari peraduannya. Matahari bulan suci, menebarkan hawa hangat dari dinginnya gerbong kereta ini. Selamat datang di kota Surabaya. Berharap, semoga kelak saya tidak menghabiskan waktu kerja di Jakarta. Yang itu artinya, hidup untuk menunggu macet.

Selalu sama, ibu kota, selalu menghadirkan kisah lucu bagi saya. Dan kisah ini adalah yang paling manusiawi. Lainnya tidak pernah saya tulis, memalukan! Haha. Selamat menyempurnakan Ramadhan tahun ini.

Selesai
ditulis oleh -hoe- alias Mas Huda

5 comments:

  1. Astaga, ini bisa jadi sepuluh judul postingan sendiri ;)) - salam kenal juga, selamat datang di adukan surga dan neraka, Jakarta Raya :)

    ReplyDelete
  2. yang heran, segalau apapun, sekarang narsis abis! sejak kapan mbak???

    ReplyDelete
  3. asal tau saja ton, itu juga merupakan upaya mereduksi stress and strain saat menunggu kepastian yang tak pasti (maksud e opo?) hehehe:D

    ReplyDelete
  4. iku asline lutfia sejak dulu memendam bakat narsis nan eksis, hanya mungkin msih sungkan sama yg tua2 :P

    ReplyDelete