Pages

Saturday, August 20, 2011

Berjamaah di Plaza

-Joni Ramlan-Berjamaah Di Plaza-oil on canvas-2004-

Suatu hari di bulan puasa…..

“Sialan macet lagi! Sejak kapan Surabaya macet begini?” umpat saya dalam hati. Udara panas di siang bolong kian mempermainkan emosi. Waktu tempuh menuju kampus yang biasanya hanya setengah jam, belakangan bertambah 15 menit. Penyebabnya? Macet! Saya paling benci dengan satu kata itu.

Pernah suatu ketika, saya bersama kakak menempuh perjalanan Magetan-Surabaya dalam  tujuh jam, padahal waktu normalnya adalah lima jam, itu pun melajukan mobil dengan kecepatan standar. Hendak mengumpat? Kepada siapa coba? Jalanan macet ya macet saja, tidak ada solusinya memang. Pengalaman di Jakarta lain lagi. Meski sudah mengendarai motor, saya juga masih terkena macet. Kalau teman saya bilang, macet itu ibarat makan, sudah menjadi kebutuhan pokok penduduk Jakarta.

Namun macet kali ini berbeda. Macet ini bukan karena jam-jam orang berangkat atau pulang kerja, bukan karena kecelakaan lalu lintas, bukan karena iring-iringan pejabat negara lewat, bukan pula karena antrian lampu merah sampai sekian ratus detik. Bukan, bukan karena itu semua. Penyebab macet kali ini sepele, karena antrian mobil dan motor keluar masuk mall.

Jalan depan Jembatan Merah Plaza (JMP) antri. Becak, mobil, motor, angkot sampai pejalan kaki campur aduk di situ. Para tukang becak justru menambah ricuh jalanan. Mereka mengambil jalan berlawanan dari yang seharusnya. Biasalah, potong sana-sini, mencari jarak terdekat.Saat menuju kampus, saya memang melewati jalan yang searah dengan rute kendaraan keluar Plaza itu.

Jam di tangan sudah menunjukkan waktu menjelang dhuhur. Banyak kendaraan keluar mall tapi yang masuk justru tak kalah banyak. Putar balik dekat Jembatan Merah ke arah Plaza juga tak luput dari macet. Motor saya masih melaju pelan dan tentu saja tersendat-sendat. Bunyi klakson hingga umpatan khas Suroboyo nyaring terdengar. Menambah panas ubun-ubun yang sudah terkungkung di dalam helm. Pikiran ini pun merangkak kemana-mana.

Hari berikutnya…..

Saya kebagian mengantar kakak ke pasar. Lepas itu, ia mengajak ke JMP untuk sekedar membelikan anaknya KFC. Motor saya melaju dengan lancar paling tidak hingga arah putar balik dekat Jembatan Merah tadi. Setelah itu jangan tanya? Butuh setengah jam lebih untuk bisa masuk sampai mendapat parkir motor. Lahan parkir darurat pun didirikan. Alasannya sudah bisa ditebak, jumlah pengunjung membludak.

Masuk ke dalam Plaza saya mendapati mall sesak pengunjung. Jauh-jauh lebih ramai dari biasanya. Maklum menjelang lebaran. Kakak saya mulai mengantri KFC. Saya hanya menunggu. Karena penuh, daripada berdiri akhirnya saya nimbrung juga di kursi pembeli lain yang kebetulan kosong. Pemandangan saat itu, demikian banyak orang makan secara terbuka. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, semua makan dengan nikmatnya di situ. Saya tercengang. “Vulgar sekali!” batin saya. Bulan puasa begini para ibu dan bapak itu makan di siang bolong tanpa perasaan bersalah? Apa memutari mall, sekedar belanja baju dan sepatu membuat mereka benar-benar tidak kuat melanjutkan puasa? Pikiran saya lagi-lagi merangkak kemana-mana. Ah, malas mikirin orang! Pada akhirnya pikiran itu saya biarkan berlalu. Toh, bukan urusan saya!

Hari berikutnya menuju kampus, melewati jalanan macet yang sama…..

Puisi aming aminoedhin tiba-tiba hadir dalam ingatan. Ya, meski tidak membaca karyanya saat lomba baca puisi SMP se-kabupaten dulu, saya masih ingat betul beberapa bagian sajaknya. Puisi itu berjudul Berjamaah di Plaza.

Saat SMP dulu, saat mendengar puisi itu dibaca teman saya Dhana, tak pernah terbayangkan kenapa plaza demikian dipuja dan disambangi melebihi tempat ibadah. Kini setelah tinggal di Surabaya, tahu sudah saya jawabannya. Plaza, setidaknya ia bisa menjadi surga, pemuas konsumerisme hingga gaya gidup.


BERJAMAAH DI PLAZA
 

kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah
tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?
tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?
adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?
ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah
 

Surabaya, 1992

Ramadhan sudah lewat 20 hari. Baju lebaran masih belum beli. Besok saya mau ke Plaza ah…..
Dasar kehidupan!

3 comments:

  1. Ketika plasa (simbol kapitalisme) menjadi gaya dan kebutuhan hidup, terlebih justru membludak di kala Ramadhan, ironis!

    Kalau sy mah g pernah beli apapun yg baru saat lebaran, mahal2. Membeli saat butuh, itu prinsip.

    ReplyDelete
  2. amingaminoedhin.blogspot.com boleh diampiri ning!

    ReplyDelete
  3. Terima kasih pak aming aminoedhin sudah mampir ke blog saya. Tidak menyangka nih bisa mendapat kunjungan langsung dari bapak:)
    saya sudah mampir ke blog bapak.

    ReplyDelete