Pages

Sunday, October 23, 2011

Buka Mata Buka Hati

Mengisolasi diri dengan seabrek rutinitas harian macam saya (mahasiswa) sebenarnya sah-sah saja. Normal jika sehari-hari saya harus bergulat dengan kewajiban kuliah, praktikum berikut membuat lapres atau justru harus sibuk berkelindan dengan tugas-tugas organisasi. Sekali lagi, ini wajar alias lumrah. Hingga suatu saat saya tersadar, justru di situlah letak ketidakwajaran saya sebagai seorang mahasiswa.

Sedikit berbagi cerita. Saat itu saya harus menemui seorang nara sumber untuk keperluan wawancara. Beliau adalah salah satu Pembantu Dekan (PD) Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS. Cukup lama juga saya menunggunya menyelesaikan berbagai berkas yang berserakan di mejanya. Tak jadi soal buat saya yang saat itu kerjanya hanya menunggu.

Tiba-tiba terlintas dalam benak, entah dari mana asalnya. “Alangkah nyaman ruangan ini, ber-AC dan nikmat sekali rasanya jika bisa bekerja hanya dengan duduk di balik meja dengan sebuah laptop,” batin saya saat itu. Karena dari kursi tempat saya duduk menghadap langsung ke jendela, saya jadi bisa menengok ke luar kaca bening sekedar mengamati orang berseliweran. Kontras. Hawa di luar panas, jauh dari hembusan surgawi macam udara penyejuk ruangan, lengkap dengan pengharumnya sekalian.

Pak PD meninggalkan saya sendirian di ruangan besar tempatnya sehari-hari berkantor itu, Ia keluar ruangan sebentar entah untuk keperluan apa lagi. Dan kembali muncul lah pikiran-pikiran nyeleneh dan melenceng dari topik cuaca panas. Lantas saya jadi mengingat-ingat sesuatu kemudian membandingkannya, sama persis dengan yang saya lakukan barusan.

“Kira-kira apa ya yang dikerjakan para kuli bangunan sekarang? Apa ia berada tinggi di gedung-gedung pencakar langit hanya untuk menyusun batu bata satu persatu? Terus, bagaimana dengan abang tukang becak? Apa dia mengayuh pedal becaknya dengan loyo karena belum sarapan? Atau dia lagi pusing mikirin hutang setorannya kemarin sama juragan si empunya becak?” Pikiran masih berkelebat ke sana ke mari dan Pak PD masih belum berniat wawancara, kali ini ia tengah sibuk dengan suara di seberang telepon. Artinya ia memberi kesempatan imajinasi saya melambung kian tinggi.

Sinyal otak kembali berbunyi, mungkin ia kasihan melihat saya yang sedari tadi menunggu. “Apa jadinya ya gedung para wakil rakyat disana? Bisa jadi selevel di atas ruangan yang sedang saya tempati ini mungkin. Ah tidak-tidak, pasti lebih bagusan, dana pembangunannya triliunan itu,” batin saya lagi. Retorika sederhana. Maklum, hanya sekedar pemikiran dangkal. Tapi juga tidak mengada-ada.

Sudah hampir setengah jam menunggu dan rupanya Tuhan benar-benar menguji kesabaran saya. Syukurlah masih ada pikiran nyeleneh yang setia menemani. “Ruangan nyaman bisa dibilang fasilitas oke donk. Soal kinerja pasti jos, kan ndak ada yang dikeluhkan kekurangan ini-itu?” Saya kembali termenung karena faktanya tidak demikian.

Menyedihkan. Berpikir tentang hal satu ini membuat saya kehilangan minat berpendapat. Selain karena memang menyadari bahwa ironi itu bisa hadir dari sisi mana pun, saya merasa tidak berhak mengadili sesuatu yang cacat dan salah di mata hukum. Salah satunya soal kinerja awut-awutan para wakil rakyat. Toh, sudah ada peradilannya sendiri. Meskipun kerap kali ia juga harus mengorbankan kewibawaannya karena memvonis koruptor puluhan triliun uang negara dengan sekian tahun hukuman penjara hingga memunculkan antipati masyarakat.

Tiba-tiba terlintas satu hal menyoal ketidakwajaran saya sebagai seorang mahasiswa. Seperti mahasiswa pada umumnya, saya memiliki kesibukan kuliah dan berorganisasi. Baik kuliah dan berorganisasi lebih banyak memberikan porsi sosialisasi dengan sesama civitas akademika kampus. No fell alias biasa saja.

Karena juga menekuni bidang jurnalistik di kampus, kerap kali saya harus meliput event-event kemahasiswaan. Dari situ lah ada sedikit pencerahan menanggapi rutinitas harian kebanyakan mahasiswa, termasuk saya.

Kegiatan yang saya liput bertajuk Buka Bersama Anak Negeri dan BEM FTK, yang bertempat di Sanggar Alang-Alang. Istilah anak jalanan memang diperhalus menjadi anak negeri oleh seorang Didit Hape, pensiunan jurnalis senior TVRI. Bersama sang istri yang sevisi, Bunda Ersa, Didit gigih membangun sanggar yang menanungi anak-anak terlantar.

Memang sedikit sekali jumlah orang yang memiliki kepekaan sosial macam Didit dan istrinya, yang mau bekerja tulus tanpa pamrih untuk mengabdikan diri bagi sekitar. Dihadapkan pada kenyataan demikian, saya merasa kerdil. Jadilah saya menilai diri sendiri sebagai pribadi yang tidak peka, terlalu lama menutup mata dan telinga karena tak meluangkan waktu sedikit saja untuk melihat lingkungan sosial sekitar.

Saya kembali teringat nasehat Ibu Sri Sutantinah, alumni Teknik Sipil ITS yang saat ini menjadi Kepala DPU Kaltim. “Jadi mahasiswa itu jangan hanya sibuk dengan kuliah dan organisasi, tengok lingkungan sekitar, belajar lah lebih peka dengan membantu semampunya,” pesannya.

Kiranya kita semua sudah harus membuka mata dan hati, belajar peka dengan kehidupan sosial sekitar. Beruntunglah kalian, teman-teman mahasiswa yang telah lebih dulu melangkah membangun negeri atas inisiatif sendiri. Semoga tak hanya kalian atau seorang Didit Hape yang bersedia setia bekerja tulus.

Hanya bermula dari menunggu di sebuah ruangan ber-AC entah kenapa saya jadi berurai panjang lebar seperti ini.

No comments:

Post a Comment