Pages

Monday, May 30, 2011

Secuil Renungan Hari Emak

Ibu, satu kata yang apabila disebut maka tergambarlah sosok wanita dengan keteduhan wajah dan lautan kasih sayangnya. Limpahan kasih yang dimilikinya tertahan dalam dada, hampir tumpah, tapi perempuan itu tetap sabar menanti buah hati tercinta.


Tetesan air mata ini seakan tak bisa dibendung setelah sejenak membaca artikel dari Pak Mario Teguh. Apa gerangan isi tulisan itu hingga membuat hati ini merasa terbawa oleh arusnya?

Sebenarnya artikel itu sudah usang, sudah basi malah. Tapi terasa berbeda ketika kurenungi rentetan huruf penuh makna di dalamnya. Bisa jadi, rentetan huruf-huruf itu mampu menggores nurani siapapun yang membaca. Ya, tak lain tulisan itu adalah tentang ibu.

Nasehat dari Pak Mario Teguh yang membuat saya semakin kagum kepada ibu adalah: Tidak ada pria atau wanita yang super mulia dan super cemerlang dalam sejarah kemanusiaan, yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.

Saya sangat yakin, bahwa di antara kita tidak ada yang tidak mengasihi ibu karena siapapun ibu kita, ia adalah pahlawan dan teladan bagi anak-anaknya. Terimakasih ibu.

Bagi setiap kebahagiaan dan kesedihan kita, ibu lah satu-satunya orang yang mengerti. Ketika kebahagiaan itu kita alami, orang yang merasa bahagia untuk pertama kali adalah ibu. Dan ketika kesedihan menghampiri, orang yang merasakan pedih untuk pertama kali pun adalah ibu.

Jika mengalami masalah, sesedikit mungkin kita membicarakan masalah itu kepada ibu kita, karena biarpun masalah itu sudah selesai dia akan tetap kepikiran. Mau kah kita membebani pikiran wanita sederhana yang kian lama termakan usia senja itu?

Ibu menjadi tempat bersandar untuk anak-anaknya, tapi tidak ada seorang ibu pun menginginkan anaknya untuk bersandar, karena ibu menginginkan anaknya bisa berdiri tegak.

Ah, mulia benar hati manusia yang satu ini. Pantas saja urutan yang berhak mendapatkan perlakuan baik dari kita adalah ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu, baru kemudian orang-orang yang terdekat lainnya.

Jadi teringat oleh penulis, percakapan telefon kala itu, “Sudah makan apa belum?” tanya ibu. Dengan tenang saya jawab, “Sudah Bu”. Tapi entah kenapa tak ada keinginan untuk menanyakan hal yang sama padanya, “ Ibu sendiri sudah makan belum?”. Ah, betapa egoisnya pribadi penulis, tak ingat apa jika dialah wanita yang harus dimuliakan?

Pernahkah terpikir oleh kita semua jika dalam setiap langkah di keseharian kita, doa-doa ibu selalu mengiringi? Dan jawaban bagi doa seorang ibu sudah terkabul tetapi semua jawaban itu belum menjadi jawaban bagi doa anaknya.

Tuhan menunggu restu orang tua sebelum memberi restu pada seorang anak. Maksudnya kalau ibu tidak ikhlas kepada kita, kita meminta restu kepada Tuhan-pun, Tuhan tidak akan merestui, sebelum Tuhan melihat ibu kita merestuinya.

Kadang kita berbuat salah kepada ibu maka sudah seharusnya kita meminta maaf, sekalipun ibu tidak pernah mengharap satu kata maaf pun dari kita, karena setulus hati, ia telah memaafkan. Mari meminta maaf dan berbicara kepadanya seperti berdo’a, karena dengan begitu, tidak mungkin kita berbicara kasar.

Jika mengingat semua pemberian darinya, sepertinya tak satu pun mampu dibalas. Bahkan seisi dunia pun tak akan mampu melunasi hutang-hutang itu, hutang mengandungku, hutang melahirkanku,hutang membesarkanku,hutang kasih sayangnya, hutang akan kesabarannya, hutang ketulusan doa-doanya dan berjuta-juta hutang lainnya, tak terhitung jumlahnya.

Lalu apa yang dapat kita berikan agar ia tersenyum bahagia? Pesan Pak Mario Teguh: Kalau kita tidak bisa memberi sesuatu yang bisa dibeli, berikanlah sesuatu yang tidak bisa dibeli. Sebuah Kasih sayang, melihatlah dengan sayang, bicaralah lembut dengan penuh kasih sayang, sentuhlah beliau, peluk, cium merupakan suatu penghargaan yang tidak ternilai.

Pemberian hadiah seorang ibu kepada anaknya, apapun itu harus dihargai, karena kita tidak akan bisa memaafkan diri kita, kalau ternyata pemberian itu adalah pemberian terakhir.

Mau tahu kapan kita merasa paling sedih? Saat paling sedih adalah saat dimana kita berdo’a lalu memangggil nama ibu. Karena semakin dewasa seseorang, semakin dalam kesedihan yang membuatnya menangis karena ibunya.

Penulis ucapkan selamat hari ibu, walaupun sebenarnya setiap hari adalah hari ibu bukan? Teruslah berbakti hingga sesal itu, tak perlu datang suatu saat nanti.

1 comment: