Pages

Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

Wednesday, October 11, 2017

Rindu

Rindu itu tak tertahankan. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.

Di percakapan antara saya dan ummi via telefon, saya bertanya kapan mereka akan pulang ke Magetan. Saat ini keduanya sedang berada di Surabaya. Ummi bilang abah masih mau menunggu saya ke Surabaya dulu karena saya janji mau membawakan madu. Saya bilang tidak memungkinkan pulang weekend ini karena harus mengisi acara kopdar kantor di hari Minggu-nya. Terdengar suara di seberang menenangkan, “Ya sudah nggak papa. Nggak usah pulang kalau memang nggak bisa.”

Seketika muncul perasaan bersalah di situ. Makin dewasa, rasanya makin jauh sama orang tua. I just feel so bad. Kadang kesibukan kerja membuat saya lupa berkabar dengan orang rumah. Pernah hampir empat hari saya nggak sempet nelfon atau lebih tepatnya nggak nyempetin nelfon karena ada agenda kantor yang buyarnya malem banget berturut-turut.

Jadi inget kalau saya pulang, ummi semangat banget masak macem-macem. Dan saya nggak peka. Seolah itu hal biasa. Nyatanya, itulah bahasa kerinduan orang tua. Mereka tidak pernah menyuruh anaknya pulang hanya karena merasa rindu. Seolah sudah sangat paham anaknya kerja di rantau, nggak mungkin sering-sering pulang.

Dan satu lagi yang mungkin saya lewatkan adalah ketika saya pulang mereka berdua sudah tak lagi sama. Bertambahlah kerutan dengan rambut yang kian memutih. Oh God, they’re  getting older and older. Di masa-masa mereka bertambah tua, saya tidak di sana.

Rindu kami tak tertahankan, Nak. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.
 

Teruntuk diri sendiri, seringlah merindu pada orang tuamu!

Wednesday, November 14, 2012

Soal Selera

"Jam tanganmu keren. Maskulin,"
"Bajumu udah girly tapi kenapa sandalmu kayak gitu?" (sambil lihatin sandal gunung butut yang dipakai ke resepsi nikahan senior)


Dua pernyataan keluar dari dua orang. Teman saya tentunya tidak memiliki niat khusus mengatakan hal tersebut. Toh, cuma komentar. Spontan dan jujur.

Kejujuran yang menyakitkan kah? Hahahaha, buat saya itu bukan hal besar. Tapi dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa selera saya lebih condong ke arah man style.

Jadi ingat saat saya mencari jam tangan di salah satu mall.
"Jam tangan untuk cewek yang sebelah sini Mbak. Kalau itu buat cowok," ujar penjaga toko.
Dengan santainya kakak perempuan saya menimpali,
"Dia emang nyari jam tangan yang model cowok kok Mbak."
Seketika penjaga tok pun terdiam.

Pernah juga saya jalan-jalan di mall dengan salah satu teman yang memang pecinta accecories unyu-unyu. Setiap ada benda-benda lucu, begitu mudahnya ia mengatakan, "Wah, lucu ya. bagus sekali. pengen beli, bla bla bla..."

Sementara saya? cuma nengok sebentar setelah itu ngacir dan lupa segala-galanya *lebay.

Saya pribadi tidak pernah mau ambil pusing dengan selera. Entah kenapa, sesuatu yang berbau sporty itu rasanya lebih menarik hati, hehe. Well, setiap orang memang punya style dan selera masing-masing.

Tuesday, November 13, 2012

maba

pemandangan yang tertangkap di plaza
Saya tengah menikmati angin sepoi-sepoi di Sekretariat Jurusan, menanti tiga teman yang memang janjian asistensi ke dosen pembimbing. Kalau bukan karena jam janjian sudah mepet, saya pasti jatuh terlena (baca: tidur) oleh hembusan angin *apaseh.

Tanpa sengaja, sebuah pemandangan tertangkap mata saat saya menengok ke bawah. Dengan kamera Nikon di tangan, langsung saja saya jepret. Rada kurang kerjaan sih, ngapain motret maba. Mereka klesotan di Plaza sambil mengerjakan laporan praktikum, itu bagi yang lagi ngerjain. Bagi yang nggak? Internetan atau mungkin memang sekedar 'absen' nampang di kampus.

What the hell!  Ngomongin soal maba, mindset yang muncul adalah pin, handband, dan atribut-atribut pendukung lain penunjuk identitas jurusan. Come on, saya tidak tahu apa esensi mereka (dan saya dulu) ber-atribut demikian hingga sekian lama. Okelah, di awal perkenalan kita membutuhkan media seperti itu tapi kalau menjadikannya sebagai sebuah dress code, hal itu justru bisa menumbuhkan sikap arogansi berlebihan. Dalam pemikiran saya, itu bukanlah pilihan bijak.

Ingat dulu saat awal pendirian ITS, mahasiswa Fakultas Sipil, Mesin, Teknik Kimia, Elektro, dan Perkapalan dikader secara bersama-sama. Mereka masih bisa mencintai jurusannya tanpa mengorbankan pertemanan dengan sesama mahasiswa ITS.

"Selama 10 hari benar-benar dipelonco bareng. Jadi ya deket meski sama jurusan lain," ujar Digul Siswanto, dosen Teknik Perkapalan ITS yang juga mahasiswa Tekpal angkatan 1960. 

So, duhai para senior (termasuk saya), mari turut menyebarkan virus integralistik. Sayang kalau maba-maba kita tidak memiliki pandangan luas di luar jurusannya.

Tuesday, October 2, 2012

Cinta Orang Tua Itu Berbeda


Selama kuliah ini, sejak maba hingga sekarang berada di tingkat akhir, saya kerap pulang malam dari kampus. Bahkan pernah juga pulang pagi. Jelas itu tidak baik, apalagi saya perempuan. Namun apa daya, karena berbagai kepentingan, saya tetap tak bisa menghindari hal tersebut.

Bodohnya saya adalah kerap melupakan nikmat besar tiba di rumah dengan selamat. Tak terhitung sudah berapa kali saya menyaksikan banyak kecelakaan terjadi saat tengah dalam perjalanan pulang-pergi rumah-kampus.

Tadi malam sepulang dari rapat buku djoeang, saya kembali mendapati kejadian nahas menimpa seorang wanita. Ia dijambret di Jalan Indrapura dekat Giant Rajawali saat mengendarai motor. Saat penjambret yang juga mengendarai motor hendak meraih tas si wanita, rupanya ia ikut terseret. Akibatnya, perempuan muda itu terjatuh dan terpental jauh dari motornya.

Seketika itu pula terbayang kekhawatiran orang tua saat menunggu saya pulang ke rumah. "Pulang jam berapa? Jangan malam-malam," bunyi sebuah pesan yang lebih sering saya abaikan karena (sok) punya kesibukan.

Kalau kebetulan ibu sedang berada di Surabaya, beliau selalu mengantar saya hingga depan gang. Tak lupa mengingatkan agar berhati-hati dan berdoa sepanjang perjalanan. Hal yang biasanya saya lakukan memang berdoa sebelum berangkat tapi setelah itu saya menyumbat telinga dengan lagu sambil bergumam melantukan lirik demi lirik.

Dulu, saat masih SMA pun saya kerap pula pulang malam. Saat booming-boomingnya internet, waktu di malam hari kerap dihabiskan di warnet. Bisa dibayangkan, berhadapan dengan internet saya rasa siapa pun jadi lupa waktu. Yang sering terjadi adalah ibu tertidur di hadapan TV menunggu saya pulang. Mengingat hal itu, saya jadi merasa bersalah.

Namun beliau tidak pernah memarahi saya karena hal itu. Pun demikian halnya dengan ayah. Beliau sedikitpun tidak pernah marah. Saya yang saat itu masih SMA belum bisa membaca kekhawatiran orang tua.

Maklum, sejak kecil orang tua saya memang membebaskan saya dalam berbagai hal. Mereka membiarkan saya bermain hingga larut malam, membiarkan saya tidak belajar, membiarkan saya bergaul dengan siapa pun, membiarkan saya menempuh pendidikan formal hingga bangku kuliah, membiarkan saya pulang larut malam, dan membiarkan saya memilih apa pun sekehendak hati.

Tetapi semakin dewasa, agaknya saya kian paham arti di balik kebebasan itu. Kebebasan adalah kepercayaan. Keduanya mempercayai saya sepenuhnya bahwa saya bertanggung jawab penuh atas setiap pilihan sendiri.

Saya pun mulai paham, kebebasan yang saya rasakan kadang kala berbalut kekhawatiran di hati keduanya. Mungkin sengaja tidak ditunjukkan tapi orang tua tetaplah orang tua. Mereka tidak akan pernah berhenti mengkhawatirkan keselamatan dan kebahagiaan putra-putrinya hingga kapan pun. Karena sejatinya, cinta orang tua kepada anak sangat jauh berbeda dengan cinta anak kepada orang tua.

Orang tua : "Nanti kalau sudah tiba di Surabaya langsung telefon ya?"
si Anak    : "Iya."
Setiba di Surabaya si anak lupa memberi kabar kepada orang tuanya.
Orang tua (menelepon duluan) : "Hallo, gimana Nak? Sudah selamat sampai Surabaya?"
si Anak : (tanpa perasaan bersalah) "Alhamdulillah sudah."

Terima kasih teruntuk ummi dan abah yang dengan sabar membesarkan saya dan memberikan kebebasan ini. Semoga bisa menggunakannya dengan amanah.

Wednesday, July 4, 2012

Children

from left to right: rara, ais, as'ad

Children are:
Easy to laugh and cry.
No fear.
No pain.
Honest.
Loved.
Never ever give up.


How hard to find it all at children when they are growing and growing. Somebody whispers: "Look at your self, can you find it?"


Then I realize, I cann't laugh and cry as often as children.
I find my self caught in fear and pain.
I cann't be honest even with my self.
I understand, how hard to be loved by everybody around me.
Sometimes I find my self easily broken.

Yeah, because I am not a child anymore

Monday, May 28, 2012

Ya Sudahlah

Saya tipikal orang yang paling malas untuk ambil pusing. Jika mengalami suatu masalah, bisa jadi sangat enggan memikirkannya dalam-dalam.  Tapi proses untuk menjadi ‘apatis’ tak lantas hadir begitu saja. Dulunya, saya adalah orang pemikir. Segala sesuatu yang terjadi ujung-ujungnya dipikir sampai masuk ke hati. Seiring berjalannya waktu, saya berproses menjadi orang yang lebih ‘malas’ dan lebih memilih membiarkan semuanya berjalan sesuai alur. Meski bukan berarti tidak mengusahakan apa yang memang harus dikerjakan.

Bagi saya, berpikir sederhana itu perlu. Kadang kala kita tidak perlu memperumit hal kecil menjadi sebuah masalah besar yang malah jatuhnya konyol. ‘Malas’nya saya tiba-tiba kambuh jika melihat sebuah sistem yang kolot, tak berkembang, dan sempit. Ibaratnya, sibuk sendiri di dalam tempurung. Yang lain sudah berlari sampai Roma, sistem ini masih eker-ekeran sendiri di dalam, Jakarta saja masih jauh rasanya.

* Ya sudahlah, penyakit saya sekali-kali kan boleh kambuh juga.. hehe

Thursday, April 26, 2012

Sometimes

So many words were arranged. But it still hard to understand. Hey, you there! Is it your style? Everything is meaningless or meaningful? Sometimes and always sometimes, I think about it. As you said: "Maybe!" Grey, black, or white, or maybe yellow or else, I just try to make it simple. Actually, it doesn't. Sometimes you......

Wednesday, April 18, 2012

Attitude


Seseorang bisa sangat dihargai karena ia menghargai orang lain. Itu harga mati! Tak bisa ditawar. Demikian halnya dengan attitude. Ia adalah cerminan diri, bagian dari cara kita bersikap terhadap diri sendiri dan orang lain.

Attitude tak terbentuk begitu saja. It’s not an instaneous reaction! But it needs a process. Bentukannya pun tergantung jalannya selama ini. Apakah ia sudah lurus sedari awal, sempat bengkok, atau sudah rapuh di awal dan tinggal menunggu patah?

Saya jadi ingat ilmu bahan konstruksi. Kalau dipikir-pikir, analoginya mirip ilmu material juga. Bedanya,  bahan itu selalu punya batas yang memang sudah tertentu kekuatannya, property-nya, dan fungsinya. Paten sudah, tak bisa ditawar lagi. Tapi attitude? Ia proses yang melekat pada makhluk dinamis, manusia. Tak punya patokan berarti meski bukan berarti tidak ada.

Ketika ada yang salah dengan attitude, apakah prosesnya ada yang salah? Bicara soal proses, di Teknik Kimia, tidak ada proses yang salah. Saat mereaksikan dua zat, hal yang memang harus terjadi ya terjadi. Ada reaksi. Apa ada yang salah dari reaksi ini? Tentu tidak, ia berjalan secara harfiah tanpa menyalahi hukum alam.

Ketika reaksi berjalan dan tidak menghasilkan produk sesuai keinginan, lantas apa yang salah? Mari merunutnya dari awal, memeriksa kondisi reaksi apakah tekanan, suhu, jenis reaktor, sintesa proses, atau mungkin katalisnya sudah memungkinkan untuk reaksi yang kita inginkan? Ketidakberesan seperti inilah yang harus kita lihat dari dalam diri yang sebenarnya luput dari pandangan.

Gratitude is a noble attitude. And the more grateful that God allowed to live in higher quality, is right. And it is true that perfection only belongs to God

Friday, March 23, 2012

Karena Perbedaan Itu Indah

Tak ada yang pernah sama. Suku, agama, budaya, bahasa, adat, dan banyak hal lainnya pun tak pernah sama. Tapi tak lantas ketika ada beda, kita jadi beda. Bagi saya, seberbeda apa pun, kita semua tetap sama.

Sejatinya, perbedaan itu demikian indah. Ibarat pelangi, benturan-benturan perbedaan spketrum itu bisa menimbulkan harmoni. Siapa yang tak suka harmoni? Harmoni warna dalam lukisan, harmoni nada dalam lagu, harmoni notasi dalam deretan rumus, atau harmoni-harmoni lainnya. Hebatnya, harmoni itu sanggup menebar energi positif bagi penikmatnya.

Ketika perbedaan itu dekat, sedekat batas antar spektrum warna pelangi, ia masih saja anggun. Ketika goresan-goresan abstrak dibenturkan di setiap sudut kanvas, nyatanya tetap indah juga dinikmati. Luar biasa. Demikian banyak Tuhan ciptakan hal yang berbeda, nyatanya semua berakar pada satu hal, keindahan. Keindahan yang juga berarti kedamaian.

So, marilah saling menghormati perbedaan satu sama lain.

Wednesday, March 21, 2012

Journalist Wannabe?


Fi: "Gue kagak mau jadi jurnalis!"
X: "Apa betul Fi? Kalau seperti Andreas Harsono, Romo Mangunwijaya, Goenawan Muhamad? Apa masih nggak mau juga? Mereka semua kan jurnalis yang juga penulis luar biasa. Masak tidak mau mengkikuti jejaknya?"

*Itu tadi bisikan setan atau hati nurani ya? entah, kadang kala saya sangat enjoy menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Penuh tantangan, banyak pengalaman, banyak tuntutan, terjun ke lapangan, menulis, berpacu dengan deadline, editing, dan banyak hal jurnalistik lainnya. Apalagi kalau melihat para jurnalis senior yang pernah saya temui dan mereka bekerja dengan ketulusan hati, jujur, saya iri dibuatnya. Mereka semua, bisa menjadi demikian luar biasa dalam bidangnya.

Lantas, pertanyaan itu muncul kembali.
X: "Wanna be a journalist?"
Fi: "Entahlah. Saya tidak sedang ingin memikirkan hal itu. Kuliah teknik saya harus selesai dulu. Bismillah, saya masih ingin mengaplikasikan keteknikkan saya. Sembari tetap menulis tentu saja:)"