Pages

Showing posts with label Edisi KP Plaju. Show all posts
Showing posts with label Edisi KP Plaju. Show all posts

Wednesday, September 26, 2012

Sepasang Sepatu Ipin


Ada apakah gerangan dengan sepasang sepatu Ipin? Saya sendiri sebenarnya agak geli menggunakan judul ini. Tapi kalau dikaitkan dengan kejadian buka bersama alumni pada malam Minggu (12/8), tentu ada hubungannya.

Sore itu saya, Azizah, Giar, Tambun, Ipin, dan Fikri janjian untuk keluar bareng mengunjungi alumni ITS di Pertamina Plaju. Niatnya sih si Giar sama Tambun mau sekalian pamit, karena masa kerja praktek (KP) mereka akan berakhir. Kalau si Ipin dan Fikri sengaja ikut karena pengen kenal sama alumni. Mereka berdua nggak KP di Pertamina, tapi KP di tetangga sebelah, seberang Sungai Musi, PT Pusri. Nah kalo saya sama Azizah, ikut karena emang pengen ikut aja. Niatnya silaturahmi.

Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Pak Andi Prihandono. Beliau K32. Karena keterbatasan motor (cuma ada 2) jadilah kami diangkut 2x. Saya Saya dan Azizah diangkut duluan. Pas tiba di depan rumahnya Pak Andi, dua anjing peliharaannya sudah menanti. Yang satu berwarna cokelat ukurannya gede jenis anjing yang mirip di film-film gitu, yang biasanya suka main basket. Satunya lagi anjing kampung. Keduanya lagi digiring sama mbak pembantu buat nge-pup di luar. "Pencet belnya saja mbak, nanti ibu keluar," ujarnya menyambut kami.

Satu kali dipencet terdengar gonggongan anjing tapi entah dari mana asalnya. Dua kali dan tiga kali bel dipencet, ada anjing besar berwarna putih tiba-tiba muncul dan menggonggong di jendela. Spontan bikin kaget. Setelah diamat-amati ternyata jenisnya sama dengan yang cokelat tadi (bukan anjing kampung).

Saya pribadi agak phobia sama anjing, kalau nggak takut dikejar ya takut digigit. Tapi melihat anjing yang besar hampir seukuran kambing, bulunya bersih, dan terawat ada di hadapan saya, sebenernya gemes juga. Eh, ujung-ujungnya, ternyata phobia saya lebih dominan.

Karena pintu tak kunjung dibuka, jadilah saya dan Azizah duduk di teras saja. Melihat kami belum masuk, mbak pembantu tadi kembali ke rumah setelah menyelesaikan tugasnya. Tiba-tiba saat mendekati kami, anjing berwarna cokelat tadi menggonggong dan langsung melompat ke arah Azizah. Saya menjerit karena panik dan takut. Mbak pembantu yang memegangi tali, saya lihat berusaha sekuat tenaga menarik mundur anjing anjing jinak itu. OMG, bisa copot jantung saya kalau itu anjing lari ke arah saya.

Insiden sepersekian detik itu berakhir setelah si anjing berhasil dimasukkan ke dalam rumah. Beberapa saat setelah itu, Tambun, Giar, Ipin, dan Fikri datang. Bersamaan dengan itu pula, pintu rumah dibuka oleh istri Pak Andi. Beliau menyambut kami dengan senyum keramahan.

Banyak hal yang kami perbincangkan kala itu. Mulai dari cerita nostalgia Pak Andi saat kuliah di Tekkim, cerita perjalanan karir beliau sampai interogasi apakah di antara kami sudah ada yang punya 'calon'. Weew, mix stories! Saat ditanya poin terakhir, Fikri dengan spontan mengatakan, "Baru saja lepas Pak." Kami semua justru tertawa seolah tidak mengerti betapa beratnya penderitaan lelaki asal Jember itu.

Tanpa terasa, waktu berbuka tiba. Kami dijamu dengan beragam menu. Pempek tentu saja wajib ada. Usai berbuka kami pamit mengingat waktu sholat maghrib begitu pendek.

Saat hendak mengambil sandal, Ipin kesulitan menemukan sepatunya. Di antara kami, memang hanya dia yang mengenakan sepatu. "Kemana-mana Ipin memang harus stylish rekk," celetuk Fikri.

Kami semua menimpalinya dengan tawa. Hanya dia yang mengenakan sepatu dan sepatu itu hilang. Misteri hilangnya sepatu Ipin agaknya jadi merepotkan tuan rumah. Saya lihat Pak Andi dan istrinya kebingungan. Akhirnya, beliau meminjami (atau memberi? saya lupa) sandal ke Ipin. Hal itu bisa dimaklumi. Saya juga tidak membayangkan saat ada orang bertamu ke rumah lalu kehilangan sandalnya.

Kemungkinan sepatu Ipin hilang dikarenakan dua hal. Pertama, bisa jadi dicuri orang. Kedua, bisa juga karena ulah si anjing yang nakal. Tak berapa lama, mbak pembantu yang mencari di semak-semak menemukan sepatu Ipin dalam keadaan basah. Yak, ternyata si anjing kampung lah pelakunya. Setelah puas menggigit itu sepatu, rupanya ia juga mencelupkannya ke dalam air. Kejadian itu membuat kami geli. Geli karena hanya sepatu Ipin saja yang jadi korbannya. Padahal di situ juga ada banyak sandal. Semoga si anjing tidak memilih sepatu itu karena faktor x. Mari berpikir positif, kali aja dia emang ngefans sama (sepatunya) Ipin.. hehehe:D

Sunday, August 19, 2012

Last Day at Kilang and PE

left to right: azizah, mbak murtina, me
Finally the last day of our internship arrived. You know? we are the latest students who stay there (Pertamina). All friends decided to end their intership earlier. Of course I did the same thing but because of so many consideration, Azizah and I decided to end it till August 16th. It also means, we will pass Idul Fitri in Palembang.

I am really-really happy at our last day in Process Engineering (PE) Department. All of young contact engineer became very kind and familiar with us in a day (It looks like that). Thanks for the jokes when we were at the same car while going to the plant. Thanks you so much for the smile when we say goodbye. Also thanks for the kindness when we were at the plant. Thanks for so many many things.

Special thanks to Mbak Murtina Dwi Lastuti, K44. We learn a lot about chemical engineer from you.

Thank you so much for PE family: Pak Andi, Mas Erry, Mas Ferry, Mas Agus, Mas Anin, Mas Oli', Mas Febrian, and Mbak Anggi.

Hoping it's not really last day. See you in other occasion. Amin:)

Lebaran di Rantau



Ini adalah pengalaman pertama saya tidak melewati lebaran bersama keluarga. Kegalauan kerja praktek (KP) membuat saya tertahan sejenak di kota pempek, Palembang.

Tapi saya tetap bersyukur karena masih bisa merasakan suasana lebaran layaknya dalam sebuah keluarga. Seperti biasa, hari pertama lebaran kami menunaikan sholat ied. Sholat diadakan di Lapangan Plaju pukul 07.15 (kenyataannya molor sampai 20 menit). Pukul 06.30, kami sekeluarga berangkat dari rumah. And you know? pulang-pergi kami lewat jalan di dalam kilang. Hehe

Usai sholat, Pak Sigid langsung mengajak kami silaturahmi ke rumah General Manajer (GM) PT Pertamina Refinery Unit III, Pak Edy (lupa nama panjangnya). Setelah bersalaman, kami menikmati hidangan yang disajikan secara prasmanan dengan aneka masakan, kue, hingga es krim. Saya membayangkan bagaimana kalau mahasiswa ITS diundang ke sini. Apa jadinya ya? Silahkan tebak sendiri.

Lepas silaturahmi ke rumahnya GM, kami kembali meluncur ke rumah. Pak Sigid dan tante Lin harus menghadiri halal bihalal di kantor gubernur. Sementara Adib, Dik Lita, saya dan Azizah tinggal di rumah.

Saya sendiri dan Azizah langsung bantuin Mbak Mar untuk persiapan open house pukul 14.00. Tamu-tamunya bejibun. Jam 20.00 saya sudah keok karena semalam tidur pukul 01.00 dini hari gara-gara nonton reality show Korea, Running Man (posting tentang Running Man bakalan menyusul).

Kalau di setiap lebaran biasanya saya bisa haha hihi rame-rame bareng keluarga, kali ini tidak lagi. Tapi tak apalah, besok saya sudah balik ke Surabaya. Alhamdulillah senangnya, mau jumpa sanak keluarga, terutama ponakan-ponakan yang masih baby. Rindu nian rasanya.

Sekian laporan aktivitas lebaran di rantau dari saya. Terima Kasih.

Monday, August 6, 2012

Buber Budak-budak Palembang


*Bertemu dengan teman-teman yang sedang berada di Palembang, baik yang lagi KP maupun yang lagi pulkam lewat buko bareng @Solaria Palembang Indah Mall (PIM).

Saturday, August 4, 2012

Jakabaring

Random photos were taken at Jakabaring Sport City.
South East Asian (SEA) Games XXVI held on November 2011 here.















Wednesday, August 1, 2012

Real Engineer?

Whooooaaa, our tutor asks us to act like the real engineer today. She also wants us to give some advices through a problem.

She : "So, what's your recomendation? I have two, and you?"
We : (just smile and act thinking. Hehehehe)

*Actually my partner and I still in progressing of thinking (again) :))

Tuesday, July 31, 2012

Process Engineering

At this time, I wanna share about my regular activity at Process Engineering (PE) Department in Pertamina Plaju.

My friends and I usually gather at the library. Come early in the morning before 7 am then just sit in front of the notebook. Yeah, at the second week of internship, we all must be fight with the report. Sometimes it was needed to go to plant to take data. Just sometimes not always. Because of that, we spent the time longer at the library then plant. Here are some photos which were taken by me.

very neat
heavy and thick books
left it in the library
all about petroleum
bookcase must be with books
left to right: Wulan and Barkah (from UNS)
left to right: Niken and Pipin (fro UNS too)
Pertamina Pasti Pas *that's Pertamina's slogan
serious and gonna be stress because of the report
scattered items
full and really useful

*Both general and specific report are done. Ah, there is still one more specific report to do. It doesn't matter because it looks like easier and not too complex as previous (Hehehe).

Sunday, July 29, 2012

Senja Musi

Karena senja di sini demikian indah dinikmati
Sayang kalau sampai terlewat dari pandangan



View From The Window


View 1: Green yard in front of Mas Ery's house. I could see it everyday when I was there.
View 2: Green garden and Musi River in front of Mr Sigid's house. Now, I see the view above every day.
There is a sunrise early in the morning and sunset in the afternoon (I will share some photos next).
When the time is late, I can hear the sound of Pertamina's or Pupuk Sriwijaya's ship and boats crossing the river.

Both of them, what a wonderful view to look from the window!

Menu Buko Puaso

Alhamdulillah puaso hari ini biso tuntas. Menunyo alhamdulillah tuntas jugo. Nak nengok apo-apo yang saya makan?

1. Teh manis Taiwan
2. Pempek kulit, pempek telor
3. Model
4. Kue moci

Lemak nian makanan-makanan itu. Kagek awak harus coba kalau datang ke Palembang. Di sini semua makanan kebanyakan dibikin dari ikan. Rekomendasi utama, tetep pempek sih. Aiiiih, berasa dari surga itu pempek (hehehe). Cukonyo sedep nian. Sukolah saya! Jadi ada niatan jugo nak belajar bikin. Kemarin-kemarin sudah ditawarin tante Lin, sudah sempet nanya resep jugo, tinggal belajar praktek sajo. Cuman saya mikir, kalau bikin di Surabaya, dapet ikannyo dari mano? Sebab bahan utamanyo itu ikan gabus atau tengiri giling. Kalau pun ada tengiri, cak mano gilingnnyo biar idak ada tulang yang keikut? Kalau dipikir-pikir, susah nian.

Galak makan, idak mau susah-susah bikin. Jadi, beli sajo deh (hehehe).

#Edisi Bahaso Palembang. Maaf foto-foto makanan idak disertakan, menghormati bulan puaso:D

Wednesday, July 25, 2012

Museum SMB II, Gado-Gado Palembang


Pernah mencermati gambar di lembar uang Rp 10 ribuan? Kalau pernah, harusnya Anda tahu siapakah sosok pada gambar di atas. Sosok itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II, pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821).

Di postingan kali ini saya tidak akan membahas sejarah Palembang maupun SMB II. Saya hanya berniat mengulas Museum SMB II, salah satu wisata yang berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama (Kuto Tengkurokato Kuto Batu) dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah.

Di sini, kita bisa mengetahui semua hal tentang Palembang. Mulai dari pakaian adat, sejarah, hingga kuliner. Jangan bayangkan pempek, pindang, model, ataupun tekwan disajikan rapi di sebuah meja makan ya. Kita cuma bisa ngiler melihat gambar makanan-makanan itu tadi dipigura dengan begitu rapi, bersanding dengan resep bumbu-bumbunya (Hehe).

museum tampak depan




Di museum ini juga terdapat banyak peninggalan sejarah. Ingat pelajaran sejarah saat kelas IV SD atau kelas 1 SMP? Seingat saya, pelajaran sejarah saat itu membahas mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia yang ujung-ujungnya harus ngafalin nama-nama prasasti juga. Saya hanya ingat satu jenis prasasti (hehe), yaitu prasasti kedukan bukit. Tololnya, saya baru tahu kalau prasasti itu ditemukan di Palembang setelah mendapatinya di museum ini (Hehe). Selain prasasti kedukan bukit, ada juga peninggalan sejarah berupa prasasti telaga batu, arca awalokiteswara, sampai naskah-naskah kuno.

prasasti talang tuo
songket euy songket! motifnya keren tapi sayang pasti mahal harganya

Kalau gambar di atas tepat ini adalah kain songket. Keren banget detail motifnya. Tapi ya karena kualitas sebanding dengan harga, jangan heran kalau untuk satu kain songket harganya bisa sampai jutaan rupiah. Suatu hari kalau saya sudah berpenghasilan sendiri, mungkin baru bisa beli (Hehe)

Sayangnya, saat saya berkunjung ke sana sekitar pukul 09.00 di Hari Minggu, museum ini masih sangat sepi. Padahal masih dalam masa-masa liburan sekolah. Saya malah jadi pengunjung pertama. Tiket masuknya juga cukup murah, hanya Rp 2000. Padahal kalau di Surabaya, Museum Tugu Pahlawan sudah sangat ramai. Apa mungkin karena museum ini kurang menarik minat warga Palembang sendiri ya? Entahlah.

Monday, July 9, 2012

KP Hari Pertama, Sesuatu Euy!


coretan hasil penjelasan dari mas yang maaf saya lupa namanya.. hehe

Alhamdulillah, saya menutup hari pertama KP dengan satu kata: capek! Kata yang menurut saya, cukup mewakili segi positif dalam mengenal lapangan sebenarnya. Memang sih, saya baru dalam tahap orientasi alias pengenalan unit-unit PT.Pertamina RU III Plaju tempat saya magang. Tapi seharian berada di Unit Crude Distiller & Gas Plant (CD & GP), sudah  memberikan saya sedikit gambaran seperti apa industri teknik kimia pemerintah di bidang perminyakan ini.

Pagi hari, saya sudah siap memasuki kilang dengan mengenakan helm kuning, baju coverall, dan sepatu boot. Khusus benda yang disebutkan terakhir, nampaknya kurang bersahabat bagi kaki saya. Apalagi kalau bukan karena berat! Ya iyalah, gimana nggak berat, boot standar safety memang dilengkapi besi di bagian ujung atasnya. Tapi tak apalah, keselamatan  sudah tentu berbanding terbalik dengan kenyamanan. Itu aturan mainnya, jadi sudah maklum.

Pertama, saya dan azizah menemui Pak Purnomo, Section Head CD & GP untuk mendapatkan arahan dari beliau. Lepas itu, eksekusi untuk menggiring kami ke plant dilaksanakan supervisor.

CD & GP memiliki empat unit CD dan 1 unit GP. Bagi yang belum tahu, unit CD adalah unit pengolahan minyak. Ibarat restoran, CD adalah dapurnya. Ibarat ITS Online, CD adalah dapurnya (Hehe). Unit CD mengolah minyak mentah yang berasal dari Prabumulih dan Jambi menggunakan kolom distilasi. Jenis distilasi yang digunakan sudah tentu distilasi fraksinasi, yakni metode pemisahan minyak berdasarkan fraksi-fraksinya.

CD V adalah unit pertama yang kami tuju. Bersama Pak Zuhdi, kami langsung menuju control room. Total ada lima orang yang memberikan penjelasan. Dua orang sudah cukup senior, duo orang pekerja, dan satu OJT. Kira-kira selama dua jam lebih menggunakan metode wawancara (Hehe), kami lumayan mendapat pencerahan baik itu tentang proses sampai urusan controlling. Unit ini memang sedikit berbeda dari tiga unit lainnya karena mengontrol unitnya sendiri meski masih memiliki kekurangan, sistem controllingnya semi manual. Sementara unit II, III, dan IV sistem kontrolnya terpusat di Centum. Dua jam berlalu dengan obrolan serius sampai ngakak geje bersama. "Kalau kerjaan berat dibawa berat jadinya tambah berat," ujar Pak Sahili.

Sudah kenyang dengan unit V, kami kembali ke kantor CD & GP. Di sela-sela istirahat sejenak, kami bertemu dengan Pak Adam, senior supervisor CD & GP. Di laur dugaan, beliau mengajak kami mengunjungi unit CD IV yang sedang Turn Around (TA) alias dibongkar total. Woooooow! Kesempatan langka bisa jalan-jalan di plan yang sedang TA.

TA idealnya dilakukan selama empat tahun sekali. Biasanya meliputi penggantian, modifikasi, pembersihan, dan perbaikan. TA di unit IV ini menelan biaya 135 M. Lumrahnya tidak sampai sebanyak itu. Namun karena tube pada furnace harus diganti total maka wajar biayanya jadi membengkak. Tujuan penggantian ini tak lain agar aliran konveksi selama pemanasan minyak menjadi lebih smooth. Berbeda dengan plug header yang rentan bocor. Hingga sekarang berarti hanya tinggal unit V yang masih menggunakan plug header di kilang ini.

Selain perbaikan furnace, kami juga bisa mengetahui bagaimana bentuk bubble cap tray yang akan dipasang. Jarang-jarang kan, kolom setinggi 30 meter dengan 30an tray dibuka kalau bukan karena ada TA. Kami juga dikenalkan pada Heat Exchanger (HE) 4-4, box cooler, cooler accumulator, dan banyak peralatan industri lainnya. Berasa jadi maganger yang paling beruntung deh kami berdua. Tapi tetep, kesannya satu: panas banget di kilang.

Seharian kami berkeliling di kilang, tak satu pun menemukan cewek yang bekerja di operasi. "Di operasi memang tidak ada yang cewek. Kalau ada, wah rame nanti.. hahahaha," ujar Pak Adam. Saya hanya bisa menimpalinya dengan tawa pula. Logis saja jika tidak menempatkan wanita untuk urusan operasi seperti ini meski bukan berarti wanita tidak bisa. Tapi saya akui memang berat kerjaannya, butuh konsentrasi dan logika berpikir cepat tepat. Belum lagi risiko bahaya besar di kilang. Meski sekali lagi itu bukan sepenuhnya menjadi alasan. (Hehe) Karena jujur saja, saya masih bermimpi bisa bekerja di kilang.

Ngomong-ngomong soal keberadaan wanita di kilang, saya sampe lupa sudah berapa kali ya terdengar panggilan geje dari pekerja-pekerja di sini? Setiap ketemu mereka menyapa kami, ada yang salam-salam segala sama Pak Adam. Hadeeeeeh, macem-macem ya isi dunia.. Hahahahaha

*sekali lagi, saya menimpalinya dengan tawa

Sunday, July 8, 2012

Benteng Kuto Besak





Masih di edisi KP, kali ini saya mengunjungi Benteng Kuto Besak. Benteng yang berlokasi dekat Jembatan Ampera dan tepat menghadap ke Sungai Musi ini, kini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Jadi wajar saat berkunjung ke sini, nuansa militernya lebih kental dibandingkan nuansa sejarah masa lalu.

Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Pendirian benteng ini diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 sementara pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya, Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803.

Benteng yang disebut Belanda sebagai nieuwe keraton alias keraton baru ini didirikan pada tahun 1780 dan memakan waktu selama kurang lebih 17 tahun dalam pembangunannya. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797. Konon, semen perekat batanya berasal dari batu kapur daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Jadi mengingatkan saya pada pembangunan Candi Borobudur yang juga menggunakan putih telur sebagai perekat antar batu.

*source: wikipedia

Wednesday, July 4, 2012

Musi and Irony


Ah, it such a long time I don't use English anymore in writing. Today, I am trying to do it again.

While waiting to do an internship at Pertamina Plaju (it will be begin next week), Azizah and I decided to go Palembang. From the information in internet, I can conclude, this city doesn't have too many destination except mall and some places like Ampera (the icon), Musi, and Museum. CMIIW because I just found it in Palembang, not in wide province South Sumatera I mean.

Mbak Novi asked us to go to Plaju market, we need to buy some chicken meat, fish, and vegetables. She couldn't go by herself because she has to work. Yeah, Mbak Novi is a government worker at BPS Palembang. That was not a big problem for us, at previous day we already went there, so it would be easy of course.

Done with shoping, we went to Palembang. It didn't take too long time, about 20 minutes without any traffic jam on the way (if we're lucky yaaa).

We parked the motorcycle (the motorcycle was lent from Mas Hilmi K38) in front of Benteng Kuto Besak, crossed the way and voillaaaa could face Musi River clearly. The river is full with activities. So many traditional boat waded it. From this side too, Ampera Bridge extended from west to east. As usual, it was crowded. I guess, Ampera is the heart of economic wheel in Palembang.



We as a 'visitor' only want to enjoy the beautiful view wherever we go. But this picture above says something different. Irony again in this country. Nor Palembang, Jakarta, Surabaya, or any where, we can't avoid from this phenomena. There are always the opposite from one word in this world. Black and white, up and bottom, hot and cool, day and night. God give that rules.

This morning I couldn't find any reason not to thank to God. Alhamdulillah Ya Allah for this life, family, friends, so many people around me, and many many things.


Saturday, June 30, 2012

Day 2, Tepi Musi



Tuhan selalu mempunyai cara yang indah untuk membuka hari.

Tepi Musi mengawali hari kedua saya di Plaju, Sumatera Selatan. Tepatnya Sabtu pagi, saya dan rekan Kerja Praktek (KP), azizah, memutuskan jalan pagi di sekitaran kompleks perumahan Pertamina Sungai Gerong. Suasananya sepi, mirip kampus ITS di pagi hari. Tampak juga masyarakat kompleks tengah berolahraga pagi bersama keluarga.Sayangnya hanya sedikit. Fasilitas seperti lapangan tennis, basket, dan lapangan voli, sepertinya tidak digunakan setiap hari. Mungkin baru digunakan kalau ada even olahraga rutin saja.



Kompleks perumahan Sungai Gerong berada di tepian Musi. Dari sisi ini saya bisa melihat, saat pagi hari, Sungai Musi sudah dipadati aktivitas. Mulai dari aktivitas kapal-kapal tanker, perahu-perahu nelayan, hingga aktivitas mandi cuci masyarakat di bantaran Musi.

Sekitar lima orang menggunakan sebuah perahu tampak menjaring ikan di kejauhan. Empat orang memegang jaring di beberapa titik sementara satu lainnya mengemudi perahu untuk menyeret jaring secara perlahan. Sesekali mereka melempar teriakan, tanda ada koordinasi.

Sebanyak apa ikan yang akan mereka dapat? Saya tidak dapat melihat dengan jelas. Menjaring di kawasan kilang seperti ini, bisa dipastikan ikannya tak sesegar perairan bersih lainnya. Ya, Pertamina memang tidak membuang limbah mereka ke laut tapi melihat film tipis mengapung di atas air sudah cukup memberi alasan kenapa ikan kawasan ini jarang peminat.

Saya berharap, Musi tetaplah Musi, yang tepiannya bisa menjadi penghidupan bagi siapa pun di sekitarnya.