Pages

Sunday, June 30, 2024

Hello July!

July apa kabarmu? Sepertinya akan baik-baik saja, hehe. Ternyata oh ternyata saudara-saudara, di luar prediksi BMKG, apapun memang bisa terjadi, termasuk perubahan rencana dan fokus dalam hidup. Padahal kayaknya baru kemarin aku cerita tentang pindah di company baru, eh udah mau Juli aja.


Awal tahun ini aku ambil keputusan yang lumayan besar soal urusan pekerjaan, dimana di tempat kerja kemarin aku memutuskan untuk tidak melanjutkan probation karena beberapa alasan personal. Jadi aku resign dengan tanpa back up plan apapun. Kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya bukan aku banget kalau urusan pekerjaan tapi kok tanpa rencana sama sekali what’s next, ngapain nih nantinya, terus gimana-gimananya, dan seterusnya. Biasanya overthinking banget, tapi kali ini sepertinya perasaan-perasaan itu nggak dominan, perasaan malah cenderung slow dan biasa aja. Gimana-gimananya dipikir nanti, diusahain dan ngikut aja rencananya Allah buat mencapai tujuan-tujuan pribadi.


Dan ya sepertinya kalau cerita sama Allah udah pasti dapat solusi, selain lega bisa curhat sepuasnya, dapat bonusnya adalah solusi, hehe beda konsep kalau curhatnya sama sesama manusia yah. Jadilah sekarang eh tiba-tiba sudah mau Juli aja.


Siapa sangka, pertemuan di Jogja tahun lalu sama teman sekamar waktu dulu di Jakarta ternyata membawa cerita lanjutan lainnya. Tiba-tiba aja aku kepikiran mau nyobain kerja freelance di tahun ini juga. Kupikir it’s a win win solution for me yang mau break dulu sebentar dari rutinitas pekerjaan nge-lead team, report ke atasan, meeting-meeting, dan semacamnya. Gimana kalau tahun ini slow dulu dengan memberi ruang untuk diri sendiri lebih banyak koreksi diri, ngobrol sama diri sendiri lebih banyak, dan melihat hal-hal lain yang mungkin selama ini terabaikan. Mari mengaktifkan mode introvert! Haha

Kupikir lagi aku akan break agak lama sambil menunggu pekerjaan freelance ini mulai. Lumayan kalau baru mulai di bulan Maret artinya aku punya waktu 2 bulan untuk nggak ngapa-ngapain dulu.  Tapi ternyata di luar prediksi lagi, akhir Februari udah mulai. Jadinya awal Februari udah mulai nyicil kerjaan lah. Mari tetap disyukuri.

Kupikir lagi aku akan melakukan pekerjaan ini dengan slow aja karena kerjaan freelance tidak ada target tertentu dari company yang bener-bener mandatory ada angkanya seperti KPI. Tapi entah kenapa saat aku terapin ternyata aku tidak bisa bekerja dengan mindset demikian. Pekerjaan apapun meskipun sifatnya freelance, ternyata aku harus tetap mengatur target sejak awal. Jadilah aku pribadi sudah punya breakdown target bulanan, kuartal, hingga tahunan beserta detail timeline serta input dan output metricsnya. Lanjut lagi aku siapin end to end GTM hingga comms nya ala marketing. Tak kusangka, pekerjaan freelance ini tetap aku seriusin serasa kerja kayak dulu. Kayak sudah template aja refleknya, wkwkwk. Tapi tidak apa-apa karena itu adalah hal yang positif.

Untuk pertama kalinya aku bener-bener meresapi bentuk ikhtiar dan tawakal itu seperti apa. Rasanya beda ketika mengusahakan sesuatu dulu lalu hasilnya bener-bener dipasrahkan sama Allah. 100% beda banget rasanya! Mungkin hasilnya nggak lebih banyak dari yang biasanya kita dapat, tapi perasaan saat menerimanya beda. Jadi paham hakikat rejeki lebih dalem aja. Kalau dulu mungkin ngerasa udah bekerja maksimal, nanti tanggal sekian juga udah pasti gajian. Bukan berarti dengan pekerjaan full time sebelumnya tidak disyukuri yah. Yang aku maksud adalah karena always rushing dengan pekerjaan dan pressure, jadi dulu ketika gajian ya udah aja gitu alhamdulillah udah gajian. But this time, banyak faktor yang membuat rasa syukur ini jadi jauh lebih nikmat. Termasuk kelonggaran dan ketenangan dalam bekerja, itu faktor rejeki yang luar biasa dan nggak semua orang bisa dapet.

Itu baru satu faktor yang aku bisa lihat, pahami, dan resapi di masa-masa slow down di tahun ini. Yang lainnya kayaknya nggak bisa ditulis semua, hehe. Alhamdulillah, Allah kasih waktu lebih banyak untuk kontemplasi lebih panjang, nggak cuma pas akhir tahun doang. Dan puasa kemarin, satu bulan full bisa puasa di rumah nggak perlu ke luar kota apalagi kejar-kejaran waktu buka sama meeting-meeting itu alhamdulillah banget. Jadi bisa bantu masak-masak, nyoba resep baru, sampe bikin kue kering juga aku sempetin setelah sekian dekade tidak baking.


Semoga dimanapun, kapanpun, dan apapun yang dikerjakan, semuanya senantiasa dalam tuntunan Allah SWT. Karena endingnya kan cuma satu yah, sebagai manusia pengen di akhir kehidupan ini tuh happy ending, bener-bener pengen dapat akhir yang terbaik dari Allah.

Thursday, November 9, 2023

Mendadak Sabbatical


Kalau bisa aku rangkum di tahun ini, mungkin pelajaran terbesar yang aku ambil adalah waktu Tuhan adalah yang terbaik. Manusia hanya bisa berencana tapi segalanya Allah yang tentukan pada akhirnya.

Di hampir penghujung tahun aku tidak mengira bahwa aku akan benar-benar pindah tempat kerja. Meskipun prosesnya tidak semanis seperti yang aku harapkan.


Inget banget pas awal-awal tahun sempet ditanyain apa planningnya di tahun ini di company yang sekarang, aku bilang mungkin akan pursue another career path di tempat lain, timingnya mungkin tidak buru-buru, maksimal sampai akhir tahun. Dan yaaah sebelum akhir tahun beneran kejadian.


Well kalau ditanya kenapa judulnya mendadak sabbatical, sejujurnya bukan sabbatical yang benar-benar aku rencanakan. I can say, it’s a gift instead. Meskipun gift nya bisa jadi hal yang kurang menguntungkan bagi sebagian orang. But for me, it’s truly a gift.


Aku udah keterima kerja di tempat baru dan akan join di akhir November tahun ini. Waktu joinnya tentu saja sudah aku sesuaikan dengan timeline pekerjaan dari yang sedang aku kerjakan. We have a small team, less people, then considerate my role and responsibility within the team is a must. So I asked them, a new company for a 2 month notice period. They agree.


Sudah ancang-ancang lah aku untuk ambil cuti selama 2 minggu di pertengahan Oktober untuk keperluan umroh. Eh belum sampai ambil cuti, kita dapat kabar kalau ada pengurangan karyawan. And yes, it impacted almost all employees. Sedih sekali harus melalui fase ini. But yeah, it is what it is.


That’s how I got my sabbatical leave, 2 months in total. Alhamdulillah bisa umroh dengan tenang selama 2 minggu tanpa overthinking ninggalin pekerjaan karena memang sudah dibereskan semua jauh-jauh sebelumnya. Lalu impromptu trip ke Malaysia dan Singapura, dadakan juga tanpa rencana. Di sisa 2 minggu lainnya ngapain? Di rumah saja karena sudah habis energi mau travelling. Sambil mempersiapkan diri belajar product knowledge next company.


Company barunya apa? Well, masih nggak jauh-jauh sama aplikasi. Di bulan Juni sempat ditawari teman yang sudah join duluan di company ini tapi aku tolak karena aku masih merasa project yang aku lead mengharuskan aku selesai dan tuntas terlebih dahulu. Eh, di Agustus ada tawaran lagi dari rekruternya via linkedin. Kalau jodoh memang nggak kemana yah sepertinya, udah ditolak eh nyamperin lagi, wkwkwk.  This time setelah ikutin prosesnya ternyata berjodoh. Salah satu pertimbangan aku mau join adalah karena mereka mau nungguin aku join 2 bulan dan Jatim based. 


It’s gonna be challenging, I know that. Awalnya di approach untuk posisi area Jatim aja, eh lha kok jadi Jatim, Jateng, & Rest of Indonesia. Alhamdulillah mari ambil positifnya, jadi makin luas ya kan. Paling mentok dulu handle Jatim, Jateng, Jabar, Bali. Ya Bismillah aja, mari dijalani dengan usaha maksimal dan doa. Kuartal akhir tahun ini bagi saya tidak akan slow sepertinya. Jadi mari nikmati sisa libur yang ada dengan leyeh-leyeh, rebahan, atau bobok siang sepuasnya, wkwkwk tetap oportunis.


Friday, February 21, 2020

Menjadi Perempuan Bali


Kadang aku tak mengerti kenapa menjadi seorang wanita Bali haruslah melahirkan seorang anak laki-laki
Kadang aku merasa iri kenapa anak-anak perempuan di luar sana sama disayanginya dengan anak laki-laki


Ya, bersentuhan dengan ibu-ibu setiap hari, sedikit banyak saya juga mendapat curhatan mereka, termasuk dalam hal-hal pribadi. Endingnya, saya hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Apalah daku yang belum mengarungi bahtera rumah tangga, lalu mendapat curhatan emak-emak. Tentu saja tidak bisa memberi nasihat apapun selain mendengar.

Perempuan Bali dituntut menjadi figur yang sempurna. Dalam hal apa? Pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan tentu saja melahirkan anak laki-laki. Perempuan yang hanya memiliki anak perempuan tak jarang mereka merasa tertekan baik dari keluarga dan lingkungan sosial.

Di Bali, anak laki-laki memiliki kedudukan yang penting dalam keluarga. Kenapa? Karena anak laki-laki akan menjadi pewaris, pelanjut garis keturunan keluarga. Sementara anak perempuan, mereka akan keluar dari rumah, mengikuti jejak sang suami.

Ada salah satu tulisan menarik yang saya baca dari situs balenengong.id berjudul kekerasan patriarki pada perempuan bali. Di situ disebutkan:

Justru, peran perempuan Bali sangatlah besar dalam menjalankan roda keagamaan, memelihara adat istiadat Bali dari level keluarga hingga relasi sosial sangat besar. Hampir bisa dikatakan Agama Hindu adat Bali adalah agama yang bersifat sangat feminis. Praktik keagamaan dan ritual dikaryakan dengan melibatkan kerja-bakti kaum perempuan Bali. Tidak jarang segi finansial dari penyelenggaraan ritual adat juga berasal dari kantong pundi-pundi perempuan.

Pada tataran praksis, hak-hak perempuan tercerabuti oleh praktik ideologi patriaki yang mensubordinasi eksistensi perempuan justru dalam rumah-rumah tangga mereka. Ideologi ini bekerja dengan modus penipuan (dissimulation) di mana keberadaan perempuan seperti diingkari. Selain itu, eksistensi dan hak-hak perempuan dikaburkan atau disembunyikan melalui wacana praktik mengatasnamakan adat.


Sebagai orang yang tidak terlalu dalam memahami budaya Bali, tentu saya tidak bisa beropini apakah tulisan di atas benar-benar mewakili perempuan Bali.

Tapi sebagai sesama perempuan, saya paham bahwa tuntutan sosial seperti itu sangat berat. Apalagi jika tuntutannya di luar kendali kita. Bukankah dikaruniai anak perempuan atau laki-laki semuanya urusan Tuhan?

Tuesday, February 18, 2020

Galungan Kedua


Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Pulau Bali. Eh sudah mau hari raya Galungan lagi ternyata. Di Februari ini kali kedua saya melewati Galungan di Bali. Penjual pernak-pernik hari raya khas umat Hindu sudah bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Penjor pun mulai menghiasi kanan kiri jalan, termasuk rumah-rumah penduduk. Sedap dipandang.

Layaknya sebuah hari raya, tradisi pulang kampung menjadi hal yang wajib. Jelang hari raya, kota Denpasar mulai agak sepi, sekolah negeri libur dan banyak warga yang mudik ke kampung halamannya untuk merayakan Galungan bersama keluarga besar. Saya? Karena bukan pegawai negeri tentu saja saya masih kerja. Beraktivitas seperti biasa..hehe

Bali memang dikenal sangat kental dengan agama Hindu. Sepuluh bulan tinggal di sini membuat saya sedikit memahami kebudayaan Bali. Upacaranya banyak sekali. Setiap upacara atau ibadah yang dilakukan memiliki filosofi masing-masing. Kalau bisa disimpulkan secara umum, umat Hindu Bali sangat menjunjung prinsip keseimbangan. Ibarat Yin dan Yang. Semesta harus hidup secara berdampingan dalam sebuah harmoni.

Galungan sendiri diperingati setiap 210 hari menurut kalender Bali. Umat Hindu memaknai Galungan sebagai hari kemenangan kebaikan melawan kejahatan atau dharma melawan adharma. Kalau umat muslim mungkin mirip-mirip Idul Fitri, hari kemenangan.

Setelah Galungan, 10 hari berikutnya umat Hindu memperingati hari raya Kuningan. Yang bikin wow adalah liburnya nyambung. Dari Galungan sampai Kuningan, sekolah negeri bisa libur sampai 2 minggu lamanya.

Hari Raya Kuningan sendiri dimaknai sebagai upacara untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari para dewa. Pernah saya tanya ke anak salah satu mitra Ketua Arisan, apa bedanya Galungan dengan Kuningan. Dengan polosnya bocah kelas 3 SD tersebut mengatakan, “Kalau Kuningan makan nasi kuning, kalau Galungan nggak.” Dan emaknya hanya tertawa mendengar penjelasan tersebut.

Masih banyak sekali hari-hari libur di Bali. Namun tidak semua mereka yang tinggal di sini, khususnya para pendatang memiliki ketertarikan untuk mengetahui filosofi dari setiap upacara-upacara di sekitar lingkungan mereka. Kalau saya sih karena pada dasarnya kepo dengan budaya lokal, jadi selalu ingin tahu. Ditambah lagi kerjanya ngurusin komunitas, wajib kenal dengan kearifan lokal.

Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan

Saturday, November 23, 2019

Solo Travelling

Bepergian bagi saya nggak harus selalu rame-rame. Sendiri pun jadi. Kadang memang kondisi yang memaksa harus bisa jalan sendirian, tapi ada saatnya memang ingin jalan sendiri.

Memaknai perjalanan bareng temen ataupun sendiri tentunya beda banget sih. Saat jalan bareng temen artinya kita akan berbagi dalam banyak hal, baik itu cerita, hal-hal kecil yang perlu diputuskan bersama, sesimpel mau makan apa misalnya ataupun barang yang akan kita beli juga bisa jadi panjang cerita kalau ada temennya. Tapi itu seninya jalan rame-rame, akan selalu seru!


Sejak awal bulan November ini banyak kegiatan kantor yang sifatnya jalan-jalan bareng team. Habis regional meeting, keesokan harinya kita lanjut main bareng ke taman safari, udah kayak wisata keluarga bahagia gitu, hehe. Lanjut camping bareng ala-ala survival di tepi pantai dan tidur di tenda. Seriusan, ini camping yang kita ribet bawa tenda sendiri, tidur pakai matras, tanpa ada listrik. Sumber cahaya hanya berasal dari layar handphone, senter, dan lampu camping solar cell aja. Bawa pop mie segambreng, kopi, dan aqua berliter-liter. Masaknya? Kita cuma masak air bawa kompor camping mini berbahan bakar bensin.

Dan tentu saja, kita semua jadi banyak ngobrol dan banyak cerita. Sepanjang perjalanan di mobil, sepanjang tracking, saat mendirikan tenda, menjelang tidur, mandi di pantai, semuanya nggak lepas dari ngobrol! It was really fun. Di sana kita semua yang sudah akrab jadi makin nggak karu-karuan akrabnya. Level apa tuh kalau udah akrab nggak karu-karuan? Haha

Minggu depannya, setelah balik ke Bali saya dapat kunjungan dari HO si Ardianta dan mbak Puput untuk keperluan research project. Butuh 10 sampling Mitra Ketua Arisan untuk kita visit. Okay, karena sudah sangat rutin dapat kunjungan, saya sudah sangat profesional mengatur jadwal, haha. It’s gonna be tiring, 10 orang bakal depth interview buat gali insight, belum lagi ada tambahan visit ruang berbagi di beberapa Mitra yang memang ingin sekali dikunjungi. What can I do selain memberi mereka kesempatan memang ingin bertemu tim dari HO? The show must go on gaes!

Kita bertiga menjelajah Denpasar-Badung selama 3 hari dengan motor dari satu rumah ke rumah yang lain. Sengaja cuma sekitar Denpasar-Badung aja karena kita nggak punya cukup waktu untuk melanglang buana ke seantero Bali. Entah gimana caranya saya harus dapat sample sesuai kriteria di kedua wilayah itu.

Well beneran itu rasanya tiga hari udah kayak anak jalanan. Pekerjaan saya sehari-hari saja kalau visit nggak sampai segitunya. Nah giliran kena kunjungan tim research harus segitunya banget kerjanya.

Singkat cerita energi untuk ketemu banyak orang sudah terserap habis. Weekend saya hanya memilih bobok cantik di kosan.


Solo travelling adalah salah satu cara saya untuk recharge energi setelah berinteraksi dengan banyak orang. I don’t need to depend to anybody else. I can decide everything by myself. Dan tentu saja dengan jalan sendirian saya jadi lebih mengenal diri sendiri. Seolah kayak ngetes limit saya tuh sejauh apa sih?

Mungkin sebagian orang berpikir kok bisa sih jalan-jalan sendirian? Apa nggak bingung nggak ada yang diajak ngobrol? Kalau saya sih sebenernya nggak perlu mikir kita akan kesepian saat perjalanan karena kita bisa memilih waktu kapan saja untuk berinteraksi dengan orang lain saat kita travelling.

Sama siapa biasanya saya ngobrol? With local people, dengan anak-anak kecil yang kadang dijumpai di perjalanan, dengan pemilik warung, dengan barista yang bikinin kopi pesanan kita, atau dengan sesama pelancong. Mereka akan cerita hal-hal yang saya pengen tau, ada apa aja di sini dan sekitar sini.

So, travelling sendirian bukan berarti kita nggak jadi pribadi yang open. Justru sebaliknya, saya bisa dapat banyak sudut pandang dan pengetahuan mengenai kearifan lokal. Karena nggak mungkin saya ngobrolin topik yang nggak nyambung sama mereka. Beda cerita kalau hangout sama temen kerja, eh pembahasannya pasti ada aja yang nyangkut soal kerjaan, padahal lagi jalan-jalan. What a life!

Jadi mau jalan rame-rame ataupun sendirian, buat saya tetap harus ada maknanya :)

Friday, November 22, 2019

Kadar Gula

Sejujurnya saya sendiri bingung kenapa harus menuliskan “Kadar Gula” sebagai judul. Tapi memang belakangan saya khawatir sih kalau-kalau kadar gula saya naik. Meskipun pada kenyataannya saya nggak check up ke dokter untuk membuktikan beneran naik atau nggak, hehe.

Kalau soal makanan, saya suka yang manis-manis, tapi bukan manis yang kebangetan juga. Harus yang pas takarannya. Sudah bisa ketebak kan, saya lebih seneng jajan dibanding makanan berat. Faktanya gitu. Jajanan pasar adalah salah satu favorit saya. Kalau minuman, semacam thai tea atau kopi yang light, ada susunya. Tapi makin ke sini, kayaknya saya harus segera menyadari, bukan hal yang baik kalau saya nggak membatasi yang sweety sweety itu tadi.

Saya baru kepikiran sih kalau di setiap kunjungan ke rumah Mitra Ketua Arisan, selain mendapat sambutan kehangatan, saya juga mendapat welcome drink. Dan minuman ini bukanlah air putih saudara-saudara melainkan bisa teh, sirup, jus, ataupun kopi. Minuman ini karena emang dasarnya dibuatin, saya nggak bisa ngontrol berapa sendok gula yang dipakai. Lebih seringnya, minumannya manis maksimal.

Saat disuguhi minuman, saya selalu menghabiskannya. Sayang kalau nggak diminum habis, ujungnya nanti pasti dibuang. But the problem comes when I have to visit more than 1 Mitra Ketua Arisan. Sehari saya kunjungan 3 Mitra, 3 gelas pula yang harus saya habiskan. OMG!!! Tau nggak dalam hati apa doa yang saya panjatkan saat minum? “Ya Tuhan, niat saya baik menghabiskan minuman ini karena saya menghargai tuan rumahnya dan sayang kalau harus kebuang kalau nggak diminum. Mudah-mudahan kadar gula saya nggak naik karena minum ini.”

Hahahaha konyol sekali tapi itu serius saya panjatkan dalam hati doanya. Jadi ingat culture shock saat saya dulu dapat penempatan di Bandung. Saat bertamu, saya agak kaget karena yang disuguhkan tuan rumah adalah air putih hangat. Bukan apa-apa karena sudah jadi kebiasaan di Jawa kalau suguhan minum lebih sering dibuatkan yang manis-manis, nah ini air putih doang. Ditaruhnya di gelas yang bagus banget lagi. Tapi kalau dipikir-pikir air putih emang lebih sehat sih.

Jadi merindukan disuguhkan air putih. Kalau bertamu, sejujurnya saya lebih happy ketika dikasih aqua gelas. Saat minum nggak pakai mikir, udah jelas air putih itu baik buat kesehatan. Betul apa betul?

Sunday, October 6, 2019

Working for Impact


Ceileeee judulnya working for impact. Klise banget nggak sih kelihatannya? Menurutku sih iya. Emang ada kerjaan kayak gitu? Bantuin orang tanpa pamrih?

Well kerja di dunia sales udah pasti identik sama target lah ya. Namanya aja sales, kerjanya apalagi kalau bukan kejar target jualan. Tapi entah kenapa sales di kerjaanku saat ini kayaknya punya definisi lain. Setidaknya, itu sih yang aku rasain.

Working process sekarang berbeda 180 derajat dengan lima bulan yang lalu dimana dulu tuntutannya adalah nge-lead tim internal yang namanya sales. Sekarang tantangannya adalah nge-lead mitra yang notabene eksternal. Push and pull is a BIG NO here. It’s never gonna be worked for both of us.

Emang sih kalau dirunut lagi, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tinggal kitanya mau stretch atau nggak dengan kondisi kekinian. Nggak cuma buat sekarang aja, bisa jadi perubahan itu sendiri adalah bentuk antisipasi di masa mendatang. Setidaknya itu dulu sih yang harus dipahami biar bisa selalu positif di pekerjaan. Dan aku sih setuju 100%.

Ngomong-ngomong soal working for impact, kayaknya dengan model sekarang ini deh aku ngerasa bahwa kata-kata itu nggak klise. I mean, bukan sekedar polesan untuk bilang bahwa perusahaan ini punya misi sosial.

Aku nggak pernah ngebayangin sebelumnya bakalan ngajarin mitra Ketua Arisan atau dalam hal ini emak-emak untuk berkembang bareng kita dan hasilnya mereka terbantu secara perekonomian lewat tambahan penghasilan. I used to lead my team in a professional way. Nah sekarang harus nge-lead emak-emak dengan cara yang lebih humanis, paham gaya mereka, tanpa kehilangan sisi profesional sebagai representasi perusahaan. Is that easy? No!!!!

Meskipun nggak sampai harus hapal harga cabe hari ini berapa, setidaknya aku harus paham gimana kesibukan emak-emak dalam kesehariannya. Jangan salah, mereka bisa lebih sibuk dari orang kantoran lho! Jadwal antar jemput ada, jadwal ke pasar ada, jadwal masak ada, jadwal ke pengajian ada, jadwal kerja ada, semuanya ada.

Pernah nih aku tanya ke salah satu mitra, “Bunda jam-jam longgar nya jam berapa ya? Saya mau nelfon,” tanyaku. Bunda di seberang dengan polosnya menjawab, “Jam segini dah kalau mau telfon, saya sudah santai. Tapi nggak tau kalau nanti tiba-tiba keganggu mbak Lutfi, soalnya saya sendiri nggak tau jam-jamnya anak saya rewel jam berapa.” Spontan aku ngakak karena ada jadwal ngurusi anak rewel yang jamnya ternyata nggak bisa diprediksi. OMG, welcome to the jungle Lutfia!! Haha

Selalu ada hal-hal kecil yang membuatku takjub setiap harinya. Tapi satu hal sih yang aku nggak dapat saat nge-lead tim internal adalah ketulusan emak-emak ini untuk membantu sesama mitra Ketua Arisan beda banget. Bukan berarti kalau tim internal yang bantuin artinya nggak ikhlas ya. Tapi beda banget aja rasanya. Paham nggak maksudku? Ketika mereka mau bantuin, semangatnya buat ngajarin itu beda. Indescribable feeling lah pokoknya.

Satu lagi, mitra Ketua Arisan yang aku mentori ini tadi, mereka punya semangat yang berapi-api buat mencapai goalnya. Udah kayak Goku yang mau ngumpulin 7 Dragon Ball. Hehe

Termasuk semangat untuk belajar hal-hal baru. Aku tuh sampai terharu. Jadi aku bilang bahwa besok akan ada field visit dari tim HO di wilayahnya si ibu yang aku mentori. Dia panik dan nervous karena di kunjungan itu nanti dia yang akan menjelaskan program terbaru ke ketua arisan di wilayahnya. Tebak apa yang dia lakukan di malam sebelum field visit? Dia latihan presentasi di depan suaminya, suaminya yang pegang buku catatannya buat ngoreksi. Kalau ada yang kurang pas, suaminya ngasih masukan. Ya ampun, aku langsung meleleh dengerin ceritanya. Segede itu loh semangat si ibu buat belajar.

Ada lagi mitra yang mendapat dukungan penuh dari suaminya untuk berkembang. Mereka keluarga kecil dengan satu anak. Dengan sabar, sang suami menemani sang istri dan jagain anak mereka yang masih berusia 4 tahun, sementara ibunya sedang memimpin kopdar Ketua Arisan. Ya ampun, aku terharu lagi.

Contoh lainnya, nggak pernah kebayang juga sebelumnya kita bakal bisa ngajarin emak-emak buat jadi active user dari Gopay. Kita ngajari mereka untuk transaksi secara cashless perlahan-lahan karena kita tahu ke depan semuanya akan serba digital.

Dari situ aku makin yakin kalau ada istilah women empowerment itu bukan cuma isapan jempol. Banyak perempuan di luar sana yang punya semangat luar biasa untuk belajar dan berkembang. Bukan tidak mungkin kan perempuan bisa bantu perekomian keluarga? And yes, working for impact is real!

Saturday, July 27, 2019

Kerja di Start Up

Apa rasanya kerja di start up? Rasanya nano-nano! Kesulitan pertama dimulai saat ada yang nanya, “Mbak, kerja dimana?” tanya abang ojek, sopir gocar, temen dan masih banyak lagi. Saat dijawab dengan menyebutkan nama perusahannya, sudah barang tentu mereka tidak familiar. “Saya kerja di Arisan Mapan.” Respon selanjutnya kurang lebih begini ”Hah, arisan? Apa itu?” Lanjutlah saya menjelaskan panjang kali lebar perusahaan kami bergerak di bidang apa.

Pernah saat malas menjawab, pertanyannya saya jawab dengan singkat dan padat, dengan harapan tidak ada pertanyaan berkelanjutan. Namun endingnya selalu absurd.

Di ruang tunggu bandara Juanda, sebelah saya ada ibu-ibu. Percakapan yang berlangsung:
Si Ibu: “Mau ke mana mbak?”
Saya: “Bali Bu.”
Si Ibu: “Kerjanya dimana?”
Saya: “Gojek.”
Si Ibu: “Wah, cantik-cantik nge-gojek ya. Hebat.”

Saat pindahan pertama kali ke kosan. Perbincangan yang berlangsung antara saya dengan Bapak Kos:
Bapak Kos: “Mbak asalnya dari mana?”
Saya: “Surabaya Pak”
Bapak Kos: “Di sini kerja di mana?”
Saya: “Di Gojek pak”
Bapak Kos: “Berat pasti kerja gojek, panas-panas gini.”

Itu secuil cerita yaaah. Sisanya banyak. Kalo ngasih penjelasan soal kerja, sudah pasti wajib komplit mulai dari profil perusahaannya, terus produknya apa, terus jobdesk nya apa, bisa-bisa 10 jilid sendiri kalau semua ditulis di sini.

Tapi di samping itu semua, ada hal yang aku syukuri banget bisa jadi bagian dari perusahaan start up. Culture yang dibangun di sini tuh yang jelas anak muda banget. Ruang kreatifitas dibuka seluas-luasnya. Pada dasarnya meskipun kita mempunyai guideline yang harus dikerjakan dari perusahaan, jika kita ingin mencoba hal lain di luar itu justru sangat diperbolehkan. Nggak perlu takut salah.

Pernah tahu tim sepakbola? Kalau diibaratkan ya kayak gitu. Tim sepak bola itu kalau pada saat harus bertanding di lapangan, harus profesional. Tapi di sisi lain kekeluargaannya kental banget. Saat ada yang membuat kesalahan, masih ada 1000 maaf. Kecuali kalau kesalahan dalam hal etik dan integritas tentu beda cerita lagi.

Asyiknya lagi kerja di start up tuh kalau kerja bisa pakai kaos. Kalau mau rapi dikit tinggal pakai kemeja. Celana jeans, sepatu kets masih termaafkan. Intinya kerjaan beres, sesuai deadline, hasilnya kelihatan. Udah.

Bicara soal budaya perusahaan, karena memang basisnya aplikasi alias IT, mau nggak mau kita karyawannya juga dituntut untuk melek IT dikit-dikit, at least menguasai fitur-fitur yang memang wajib dipakai dalam keseharian pekerjaan. Paperless is a must. Sering banget aku nemuin karyawan yang awal-awal masuk shock karena terlalu banyak channel komunikasi yang semuanya berbasis online. Bahkan selevel FMCG aja nggak seperti kita tools-nya, mereka masih manual.

Pernah ada karyawan baru yang mau presentasi dan naruh file-nya di flashdisk untuk di-review. OMG, we just need to share it on G-Slide. Beres! Semua orang bisa ngakses, bisa langsung comment dan mention untuk assign kalau memang ada task yang perlu direvisi. Sereceh itu sih perhatian perusahaan soal tools pekerjaan.

Satu lagi soal budaya perusahaan. Di sini tuh nggak mengenal budaya hirearki. We can talk freely untuk sharing sama siapapun tanpa harus terkotak-kotak jabatan. Mungkin cuma di sini kita bisa ngobrol santai sambil ngopi sama bapak-bapak yang kalau di luar sana dipanggilnya bos. Just speak up, nggak pake acara formalitas. Kadang karena udah nggak mengenal budaya yang formal, kalau masuk ke instansi yang nuansa formalnya tinggi, contoh kelurahan, rasanya kagok dikit. Atau saat mampir ke kantor kementrian temen, berasa kagok juga. Nggak nyambung sih tapi emang gitu rasanya. Hehe

Maklum lah ya, di kantor kita semua space nya terbuka. Mau level direktur mau level karyawan, semuanya di satu space yang sama, tanpa sekat. Di pantry mau ngopi sambil meeting juga sah-sah aja. Se-anak muda itu loh kulturnya. Jadi nggak kebayang mau kerja di tempat lain yang bukan start up. Hehe

More than anything, selain budaya dan orang-orang di dalamnya, setiap hari aku merasa happy karena apa yang aku kerjakan bisa bermanfaat dan bermakna buat orang lain. Sampai hari ini setidaknya itu yang aku rasakan menjadi bagian dari Arisan Mapan yang juga keluarga besar Gojek.

We believe that with Gojek, and with continuous technological innovations, There Is Always A Way to solve everyday problems and affect positive social impact

Friday, July 26, 2019

Falling in love with you. Yes you!

Di tulisan kali ini aku pengen cerita sedikit tentang Bali. Nggak kerasa udah hampir 3 bulan tinggal di sini. Ya, sebenernya nggak penuh tiga bulan sih karena banyak kepotong libur dan keperluan ini itu di Jawa. But let’s say 3 bulan lah ya, sejak Mei sampai Juli dapat cerita apa aja sih.

Ceritanya aku lagi jatuh hati. Iya beneran jatuh hati! Sama siapa? Sama pulau ini. Sebenernya nggak sampe 3 bulan aku udah jatuh cinta sama Bali. Ini serius. Bahkan sebelum dapat penempatan Bali, pulau ini tuh hawanya ngangenin. Konteksnya sih emang buat melancong. Tapi saat buat kerja, yakin deh suatu saat pasti ngangenin juga bawaannya kalau udah move.

Kok bisa? Kerja di Bali itu ritme nya slow. Ngikutin arus aja gitu. Santai tapi tetep kerja. Dalam kesehariannya, masyarakat di sini tuh kerja, termasuk pendatang ya, tapi entah kenapa bawaannya itu mengalir aja. Not in a hurry at all. Secara dominannya faktor pariwisata, jadi hawa kompetisinya itu kayak kurang kerasa.

I don’t know apakah ini cuma perasaanku aja atau gimana, tapi beneran kerasa banget perbedaannya. FYI, pekerjaanku di sini lebih ke community based, artinya aku tetep harus ke field untuk visit ke mitra-mitra ketua arisan yang tersebar se-antero Bali. Aku nggak perlu kantor, cukup nebeng di gudangnya logistik, bisa juga kerja dari kosan, kafe, atau manapun itu nggak masalah.

Honestly aku nggak pernah kehabisan agenda karena pasti ada target dong yang harus dicapai. But, here it’s different. Sensasi ngejar target di Bali tuh nggak seheboh seperti saat penempatan di Jawa. Pengennya rushing, tapi entah kenapa nggak bisa. Haha

As you know, tantangan kali ini adalah mengcover satu pulau yang terdiri dari 7 kabupaten dan 1 kota. Scope areaku bisa jadi 3-4 kali lipat dari rata-rata scope BM lainnya. Alhamdulillah, setidaknya 75% arenya sudah clear mau diapain. Tentunya setelah mlipir sana-sini dan nengokin data ini itu.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bener-bener menikmati ritme kerja yang seperti ini. Lebih kayak slow but sure dalam menjalani. Tapi dalam progress dan pencapaian tetep harus melaju kayak roket super cepat karena kalo speednya kayak pesawat aja nggak cukup. Hehe

Enjoy all you have while pursuing all you want
Jim Rohn

Thursday, June 27, 2019

Toleransi

Pengalaman berpindah-pindah kota membuat saya menyadari, tidak ada tempat yang lebih toleran selain Bali. Tidak hanya dari satu aspek ya, misal seperti bagaimana masyarakat Bali sangat welcome dengan wisatawan baik lokal maupun asing. Tapi saya baru mengenal satu sisi baru makna kata toleran yang lebih dalam di sini. Dari mana? Dari cerita-cerita orang Bali sendiri.

Siapakah yang berkisah kepada saya tentang toleransi? Mereka, mitra ketua arisan yang dengan terbuka berkisah apa makna toleransi yang sudah mereka jalani sendiri.

Bagi saya, menjalin hubungan dengan mitra ketua arisan artinya merajut kekeluargaan. Mengenal ketua arisan artinya mengenal sosok ibu rumah tangga, mengenal juga anak-anaknya, mengenal kesehariannya, dan budayanya.

Saat saya berkunjung, selalu ada cerita berbeda. Ya, karena tentu saja tiap keluarga punya cerita. Di setiap obrolan dan candaan bukanlah sekedar basa-basi untuk closing atau dealing. Saya percaya, bisnis itu akan tumbuh dengan sendirinya tergantung bagaimana kita menjalin hubungan baik dengan siapapun. Konteks kunjungan bagi saya selalu berangkat dengan niat membantu mitra ketua arisan agar bisa memaksimalkan potensi mereka. They grow, our business grow. Demikian siklusnya.

Bicara soal toleransi, saya menangkap beberapa cerita dari mitra ketua arisan, yang kalau ditarik benang merahnya, semuanya hampir sama.

Ketiga mitra saya adalah wanita asal Bali. Ketiganya dibesarkan di lingkungan keluarga beragama Hindu. Namun semuanya memutuskan mengikuti keyakinan sang suami saat menikah. Ada yang menjadi mualaf, ada yang pindah Nasrani, ada juga yang pindah Katolik.

Lantas bagaimana hubungan mereka dengan keluarganya? Harmonis. Semuanya saling menghargai. Sebelum pindah keyakinan, mereka melakukan upacara mepamit yang artinya berpamitan atau perpisahan. Ritualnya dilakukan di sanggah pihak wanita, untuk berpamitan kepada para leluhur.

Tentu saja pilihan untuk berpindah agama pada awalnya memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi di Bali, khususnya bagi perempuan, mengikuti keyakinan suami bukanlah hal yang baru.

“Dulu saya sudah hampir jadi pemangku. Tapi ternyata takdirnya berbeda. Untungnya, orang tua saya sangat open minded. Jadi semua hubungan baik masih terjaga hingga saat ini,” ujar bunda Angel, salah satu mitra ketua arisan.

Lain lagi dengan bunda Gusti Putu Ayu. Dia berpindah keyakinan sampai dua kali. Awalnya dia mengikuti suami yang beragama Nasrani. Sayang pernikahannya tersebut tak bertahan lama. Di pernikahan keduanya, ia kembali mengikuti keyakinan sang suami yang beragama Islam. “Awalnya sempat diragukan sama orang tua karena sudah pindah keyakinan dari Hindu tapi akhirnya harus berpisah. Sekarang dapat yang beda keyakinan lagi. Tapi syukurlah, karena orang tua sudah mencari tau banget latar belakang calon suami, jadi diizinkan untuk ikut suami,” kisahnya.

Mitra ketiga saya bernama Bunda Ayu. Beliau adalah istri salah satu anggota TNI. Di sela-sela obrolan kita berdua soal arisan sore itu, kita juga sempat membahas budaya Bali yang banyak sekali tradisi dan upacaranya. Dengan detil, beliau bisa menjelaskan pritilan yang harus disiapkan untuk upacara.

Ternyata, sebelumnya bunda Ayu memang pemeluk Hindu dan sekarang mengikuti keyakinan sang suami yang beragama Katolik. “Bagi saya, baik itu Hindu maupun Katolik sama-sama mengajarkan kebaikan. Hanya saja caranya berbeda,” ujarnya berbagi pandangan.

Satu lagi mitra ketua arisan saya di Singaraja. Nama aslinya adalah Mardlatilah Maring asal NTT. Saya menanyakan namanya di perumahan Secata Singaraja tidak ada yang kenal dengan nama aslinya tersebut. Ternyata nama panggilannya adalah Bunda Komang. Beliau pindah agama mengikuti sang suami yang asli Bali beragama Hindu. Ya, di Bali, anak laki-laki adalah penerus keluarga, yang mewarisi Pura leluhur keluarga, jadi wajib untuk mempertahankan keyakinannya.

Kalau disimpulkan, kecenderungannya perempuan Bali mengikuti suami. Begitu pula sebaliknya, Laki-laki Bali cenderung mengajak sang istri ke Hindu. Tapi sekali lagi itu hanya kecenderungannya. Tidak berlaku di semua.

Apa yang saya tulis di atas, tentunya hanya sekelumit cerita. Karena sebenarnya, apa yang mereka sampaikan tak sesingkat itu karena dibumbui dengan roman pertemuan dengan pasangan masing-masing. Ditambah cerita penyedap dengan kelucuan-kelucuan receh karena jetlag perbedaan di awal-awal berkeluarga.

Hanya secuil cerita soal toleransi di Bali, tapi membuat saya makin jatuh hati. Seberbeda apapun, Bali tetaplah Bali dengan pembawaan yang damai enggan berkonflik.
 
Because our heart is not belong to us. It’s belong to Him

Tuesday, June 25, 2019

Silly Compilation

Sepertinya belum genap 2 bulan saya tinggal di Bali, tapi rasa-rasanya sudah banyak sekali asam garam yang disajikan pulau ini. Mix and random! Saya terlempar ke sini di bulan puasa, belum 10 hari sudah dapat field visit dari Jakarta, dan dengan kepedean tingkat dewa menjelajah jalanan besar sampai gang kecil-kecil menggunakan motor ber-plat L. Kalau ditanya siapakah teman setia selama di sini? Tentu saja google maps tercinta! Aku padamu google! Hahahaha

Selama ini saya hanya mengenal Bali dari berbagai keelokan wisatanya. Itu saja sudah cukup membuat saya jatuh hati. Sekarang, saya harus mengenalnya lebih dekat dalam konteks pekerjaan. Mitra kami, ketua arisan tersebar di seantero Bali di seluruh kabupaten dan kota. Hingga hari ini setidaknya saya sudah mlipir ke wilayah Denpasar, Badung, Singaraja, dan Gianyar. Mlipir ini nanti harus naik tingkat menjadi eksplor. Dan saya pastikan 6 bulan di sini, saya sudah sampai di level itu. Butuh sedikit keberanian dan effort untuk keluar dari zona mager kalau istilah zaman now-nya.

Jadi ceritanya, tawaran mutasi pindah ke Bali sempat membuat hati galau. Mutasi artinya keluar dari zona nyaman tinggal di Surabaya dan memulai lagi untuk kost, adaptasi, dan eksplor sana-sini di tempat baru. Pindah kota dalam rentang waktu yang pendek bukan jadi soal sih karena pada dasarnya saya gampang beradaptasi. Alhamdulillah kegalauannya tidak berlangsung lama, saya putuskan untuk menerima tawaran tersebut. Kenapa? Simpel saja, karena tawarannya Bali!

Selama saya di sini, banyak hal konyol yang terjadi, terutama saat visit ke rumah ketua arisan. Sengaja saya tulis di sini agar tidak lupa. Setidaknya, punya cerita lah selama di Bali.

Doggie
Jadi setiap saya visit, tidak ada yang bisa saya andalkan selain peta di google. Dalam hal mencari alamat, alhamdulillah tingkat nyasarnya minim. Yang menjadi masalah adalah saat google maps nya yang ngaco. It’s terrible!

Saya pernah nyasar di Sidakarya, deket kosan cuma gara-gara mbah google mengarahkan saya ke gang buntu. Gang buntu nggak masalah sih, tapi di situ ada 3 anjing gede. Ketiganya kompakan menggonggong gaes! Sengaja kayaknya biar saya terintimidasi. Mereka kayaknya juga tau saya takut sama dogie yang jagoan. Makin nyaring lah mereka menyalak. Duh, saya nggak punya pilihan selain cepet-cepet putar balik di ujung gang buntu itu. Dan wuuuuusssss secepat kilat melewati dogie-dogie yang menggonggong dan pasang kuda-kuda kayak mau ngejar.

Sebenernya saya udah pasang tampang tenang kayak sok sok nggak takut sama mereka gitu. Tapi kayaknya insting mereka kuat, jadi tau mana yang pura-pura nggak takut sama yang takut beneran. Jadi gagal deh. Hehe

Tapi ngomong-ngomong soal dogie, banyak banget anjing yang lucu-lucu di Bali. Bawaannya jadi pengen main sama mereka. Tapi kadang kasihan kalo pas ngelihat dogie yang tampangnya melas dan kurang terawat gitu. Kalau di Jawa, sama kayak kucing gitu kali ya. Bedanya karena ini Bali jadi banyakan dogie deh.

Carilah Masjid Sampai KUA
As we know, mayoritas keyakinan di Bali adalah Hindu. Jadi kalau mau nyari masjid tentunya nggak semudah di Jawa, yang di tiap sudut ada. Tapi bukan berarti nggak ada masjid sama sekali ya.

Nah pengalaman unik waktu nyari masjid terdekat di sekitar Sukawati Gianyar adalah masjidnya KUA. Awalnya nggak curiga apa-apa saat mau ke sana. Sampai akhirnya menemukan papan bertuliskan “Pengumuman Nikah Rujuk”


Oke deh fix dapat disimpulkan masjid ini benar-benar bernuansa KUA.

Children
Saya tuh suka nggak tahan lihat anak kecil yang lucu. Bawaannya pengen toel-toel dan berinteraksi. Karena pekerjaan saya lingkupnya adalah emak-emak, bisa dipastikan lingkupnya sama anaknya emak-emak juga. Kayaknya saya harus bikin postingan khusus yang judulnya: Children Compilation.

Usianya beragam, mulai dari yang masih baby unyu-unyu sampai yang udah abege. Emang dasar bocah, ada yang malu-malu, ada yang SKSD, ada yang cuek, ada yang caper, ada yang pendiem, ada yang ceriwis. Momen sedih adalah saat saya harus undur diri. Nggak sabar jumpa sama (emak) mereka lagi!!


Kalau yang nyapa udah kayak yang ini mana tahan!!! My cute pie, saya langsung ngefans maksimal sama nih bocah!!

Tuesday, November 21, 2017

Kerja

Perjalanan Probolinggo-Surabaya malam itu kami tempuh dalam waktu 5 jam. Rekor dari yang seharusnya cuma 2 jam. Macet terjadi karena ada perbaikan jalan hampir di seluruh ruas jalan Pasuruan, jadinya berlaku sistem buka tutup.

I was just fine tapi kasihan rekan saya yang nyetir. So, kami berbagi tugas ala-ala sopir dan kenek metromini Jakarte yang suka nyalip nggak aturan. And yes, we did it! Nyalip ambil ruas kanan di tengah kemacetan yang mengular dan dengan seenaknya mencari celah untuk kembali ke track yang benar kalau di ujung sudah kelihatan ada kendaraan. Rasa frustasi di jalan membuat kami khilaf sesaat. Maafkan daku.

Agenda wajib saat nemenin temen nyetir adalah ngobrol. Jadilah sepanjang perjalanan dimulai dari pukul 22.30 sampai 02.30 kami isi dengan obrolan ngalor-ngidul. Keluarga, pekerjaan, dan pandangan hidup. Duh, klasiknya!

Saya selalu excited mendengarkan cerita siapapun. Why? Dari situ saya jadi mengenal banyak sudut pandang dalam menyikapi permasalahan.

Ada satu obrolan yang ‘ngena’ banget malam itu. Rekan saya ini punya 2 hal prinsipal dalam hidup. Pertama hubungannya dengan Tuhan (termasuk di dalamnya adalah memprioritaskan keluarga) dan yang kedua adalah komitmennya dengan pekerjaan.

“Saya sadar besok saya harus masuk kerja jadi seteler apapun di malam harinya, besok pagi harus bisa berdiri. Emboh yok opo carane (entah bagaimana pun caranya),” ujarnya dengan logat Surabaya yang kental.

Satu lagi hal yang nge-kick dari obrolan kami malam itu. Di sela-sela kemacetan, ia memposting foto “ngoyotnya” terjebak kemacetan. Rekannya berkomentar, “Ingat kita itu aset keluarga!” And yes, antara simpati dan sentilan memang beda tipis.

Selama ini saya juga punya pemikiran sama. “I am okay. Saya  masih kuat kok. I can do it by myself. Don’t worry!”

Jika kembali meresapi kata-kata bahwa kita adalah aset keluarga, jadi mikir betapa egoisnya saya. Hanya karena merasa baik-baik saja bukan berarti saya boleh abai. Sering karena pekerjaan jadi tidak sempat makan. Karena berstatus anak kos jadi tidak terlalu care dengan makanan sehat. Saat ada project yang bikin excited sampai begadang ngerjainnya. Well, soal aset keluarga, sepertinya memang masih jadi PR bagi diri sendiri.

Dear myself, you sustain yourself with the love of family!

Saturday, October 14, 2017

Tempat Baru Lagi

Hello people! Kali ini saya mau cerita soal tempat baru. Kalau mau dirunut, rolling lokasi sudah jadi makanan sehari-hari selama masa OJT. Pindah divisi, pindah lokasi per 2-3 bulan alias angkat koper ala-ala eliminasi AFI sudah jadi rutinitas. Asyiknya adalah bisa belajar banyak hal. Sayangnya masa OJT yang asyik udah kelar. Hal paling ngangenin adalah jalan-jalan di tiap weekend-nya #lho

Rolling kali ini nggak jauh kok, tinggal geser dikit aja karena masih dalam satu distrik, dari Jember ke Probolinggo. Dibanding hal lainnya, saya paling excited sama tantangan ketemu tim yang baru. New place new people. Kira-kira akan seperti apa ya tim yang baru ini? Dalam bayangan saya, mereka bakalan lebih rame dari sebelumnya. Yang sudah pasti adalah bakalan sering hangout bareng karena saya bakalan sering ngajakin mereka jalan-jalan. Bulan ini rencananya kita mau snorkeling di Pulau Gili.

Pada dasarnya kalau mau jalan, cuss aja langsung karena terlalu banyak rencana seringnya malah nggak jadi berangkat. Senin depan saya sama teman-teman juga mengadendakan untuk grebek area outer yang potensial. Do you know where will we go? Sukapura! Itu kecamatan yang letaknya deket banget sama wisata Bromo. Area pegunungan yang pemandangannya aduhai. Sebenernya grebek ini sudah direncakan sama BM sebelum saya tapi selalu gagal dieksekusi sampai BM-nya keburu resign, hehe. Di briefing Kamis kemarin saya reminder lagi and yes Senin bakalan kita eksekusi. Budhal wis!

Buat saya pribadi, teman-teman di lingkungan kerja adalah keluarga. Tuntutan utama pekerjaan memang profesional tapi di sisi lain nilai kekeluargaan juga nggak kalah penting. Di perusahaan saya sekarang, hirearki antara atasan dan bawahan hampir tidak ada. We are partner. Kultur seperti ini tidak lepas dari apa yang dicontohkan Capt Aldi, CEO kita. Jadi sampai ke level paling bawah pun hampir tidak pernah saya jumpai (setidaknya sampai saat ini) ‘bossy style’. Jadi ngerasa bersyukur banget bisa belajar di perusahaan start up dengan kultur seperti ini

Karena memang start up jadi isinya juga kebanyakan anak muda . Atau kalau mau agak di-general-kan, punya semangat muda lah ya. Nah, bicara soal semangat muda nih, menurut saya ada anomali terkait sapaan yang nggak sejalan dengan hal ini. Secara saya masih mbak-mbak gini disapa Ibu. Dan yang menyapa parahnya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu (tim saya sudah pada senior dari segi usia). Well, mungkin mereka lebih nyaman manggil saya begitu kali ya? Jadi ya sudah lah. #nyerah #kibarkanbenderaputih

Wednesday, October 11, 2017

Rindu

Rindu itu tak tertahankan. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.

Di percakapan antara saya dan ummi via telefon, saya bertanya kapan mereka akan pulang ke Magetan. Saat ini keduanya sedang berada di Surabaya. Ummi bilang abah masih mau menunggu saya ke Surabaya dulu karena saya janji mau membawakan madu. Saya bilang tidak memungkinkan pulang weekend ini karena harus mengisi acara kopdar kantor di hari Minggu-nya. Terdengar suara di seberang menenangkan, “Ya sudah nggak papa. Nggak usah pulang kalau memang nggak bisa.”

Seketika muncul perasaan bersalah di situ. Makin dewasa, rasanya makin jauh sama orang tua. I just feel so bad. Kadang kesibukan kerja membuat saya lupa berkabar dengan orang rumah. Pernah hampir empat hari saya nggak sempet nelfon atau lebih tepatnya nggak nyempetin nelfon karena ada agenda kantor yang buyarnya malem banget berturut-turut.

Jadi inget kalau saya pulang, ummi semangat banget masak macem-macem. Dan saya nggak peka. Seolah itu hal biasa. Nyatanya, itulah bahasa kerinduan orang tua. Mereka tidak pernah menyuruh anaknya pulang hanya karena merasa rindu. Seolah sudah sangat paham anaknya kerja di rantau, nggak mungkin sering-sering pulang.

Dan satu lagi yang mungkin saya lewatkan adalah ketika saya pulang mereka berdua sudah tak lagi sama. Bertambahlah kerutan dengan rambut yang kian memutih. Oh God, they’re  getting older and older. Di masa-masa mereka bertambah tua, saya tidak di sana.

Rindu kami tak tertahankan, Nak. Tapi apa daya tetap tak terucapkan.
 

Teruntuk diri sendiri, seringlah merindu pada orang tuamu!

Monday, October 9, 2017

Lapangan

Hello good people! Good for me karena muncul satu lagi mood nulis. Dari judulnya ‘lapangan’ kira-kira ada yang bisa nebak nggak saya bakalan nulis apa di postingan kali ini? Yang jelas bukan karena demam bola terus tiba-tiba muncul kata lapangan di sini ya.

Lapangan bagi saya adalah saat terbaik untuk refreshing. Di tempat kerja saya sekarang memang agak unik sih work process-nya. Meskipun secara umum kita bergerak di bidang sales, but we are more than selling something! Dari produknya saja sebenernya sudah unik. Kita menawarkan sistem arisan. Arisan system is the product itself. So, kita nggak nyeles peralatan rumah tangga dan elektronik ya! Kita menawarkan sistem arisan yang notabene Indonesia banget untuk meringankan beban rekan-rekan kita dalam mengakses barang.

Kenapa harus arisan? Sudah saya sebutkan di awal, arisan itu Indonesia banget. Cuma di Indonesia kita bisa dapat sesuatu dengan dibayarin temen-temen lainnya dulu. Tengok arisan uang. Cuma di Indonesia yang kalau orang ikutan Rp 10.000 tapi anggota arisannya ada 100 terus ‘lucky’ dapat kocokan pertama, tuh uang jamaah arisan bisa pindah tangan 1 juta. Anggota lainnya gimana? Ada yang protes? Ikhlas semua bray! Cuma di Indonesia kita bisa nemu yang begituan.

So, apa sih yang ingin dicapai di sini lewat arisan? Banyak banget! Paling penting sih yang menjadi tujuan kita adalah membantu masyarakat mencapai hidup mapan. Kok bisa? Yes, dengan menumbuhkan semangat gotong-royong alias kebersamaan, apapun jadi terjangkau.

Let me explain more about us ya. We are Mapan. The product is arisan Mapan. Untuk saat ini kita memfasilitasi anggota kita yang jumlahnya hampir 1 juta anggota tersebar di Jawa Bali untuk mendapatkan akses barang dengan harga terjangkau. Tentunya lewat arisan ya.

Kita memberikan pilihan lain bagi masyarakat yang kesulitan mengakses barang. Selama ini mereka hanya mengenal sistem kredit ataupun cash untuk membeli barang. Seperti yang kita tahu, butuh prosedur yang njelimet untuk acc pengajuan kredit, belum lagi harga plus bunga yang harus dibayar lumayan tinggi, kalau macet pun ada sistem tarik barang. Bagaimana dengan beli cash? Daya beli masyarakat tidaklah sama. Satu keluarga berpenghasilan tetap mungkin butuh 1-2 bulan menabung untuk membeli mesin cuci atau kulkas baru. Bagaimana dengan keluarga lainnya? Bisa jadi setelah 1 tahun mereka baru bisa menabung.

Itu terkait penghasilan. Next, daya beli ada tetapi akses susah. Apakah ada jasa pengiriman yang rela nganterin barang ke rumah konsumen yang untuk menuju ke sana harus menuruni 600 anak tangga? Kalau ada, itu hanya ada di Mapan. Bayangkan, logistik kita ngirim barang dropship kasur dan lemari rakitan ke Kampung Naga dengan menuruni 600 anak tangga tadi. Saking antusiasnya ada perusahaan yang mau ngirim barang besar ke kampung mereka untuk pertama kali, penduduknya rame-rame bantuin kurir kita untuk ngangkut barang. How beautiful!! Happiness is simple rite? Bagi masyarakat yang punya kemudahan akses macam kota besar tidak akan se-hype itu menerima kiriman barang berupa kasur atau lemari ke rumah. Tapi bagi saudara kita di tempat lain, it means something!

Kalau dari sisi logistik mereka fokus untuk pengiriman barang, tentunya ada peran besar dari teman-teman sales (istilah internal kita penyuluh) yang berhasil meyakinkan masyarakat agar mereka terbantu dan mencapai hidup mapan. Karena bisa jadi, definisi hidup mapan bagi seorang ibu rumah tangga adalah hanya dengan memiliki mesin cuci untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya. Bisa jadi membeli mesin jahit terbaru juga sudah cukup menjadikan seorang ibu penjahit merasa mapan. It’s so simple. Bukan mobil atau apartemen mewah yang mereka butuhkan untuk menjadi mapan. 

Ada juga 1001 cerita perjuangan penyuluh saat mengedukasi masyarakat untuk bergabung dengan Mapan yang tidak kalah menarik. Lapangan bagi penyuluh antara lain kantor kelurahan, rumah ibu RT RW, PAUD/TK, lapak pengusaha online, sampai rumah ibu-ibu rumah tangga biasa.

Office view saya saat tandem di lapangan dengan mereka berbeda-beda setiap harinya. Kadang mapping di area yang penduduknya petani, buruh pabrik, pegawai, sampai nelayan. Random banget tapi merekalah segmentasi target market kita.

Bagi saya pribadi, yang paling berharga adalah setiap dari mereka punya ceritanya masing-masing. Seperti yang saya singgung di awal, work process kita unik. Sebelum kita ngobrolin arisan, sudah menjadi hal wajib untuk connect terlebih dahulu dengan calon konsumen.

Kita gali apa yang menjadi permasalahan mereka dalam hal akses barang. Good news kalau kita bisa jadi solusi dari permasalahan mereka but sometimes we can’t help. Pernah dengar curhatan petani yang gagal panen? Pernah dengan curhatan paceklik ikan yang dialami nelayan hampir 2 tahun lamanya? Pernah dengar cerita keluarga yang bangkrut karena hutang koperasi menumpuk? We can’t get those kind of stories unless we are connected with them. Dan itu yang membuat saya merasa fresh setelah dari lapangan. Cerita yang saya bawa pulang membuat saya merasa ‘kaya’. Jadi ngerasa makin bersyukur bray!

Kalau kata CEO kita, Capt Aldi, Indonesia masih punya banyak pe-er. Kalau masyarakatnya bergerak sendiri-sendiri ala-ala kapitalis, kita nggak akan bisa karena kita bukan Amerika. Mau pakai paham komunis kayak Cina juga nggak bakalan bisa. Kita punya semangat Pancasila, yang paling masuk akal adalah menghidupkan kembali semangat gotong-royong. Karena apa? Karena kita Indonesia bukan Amerika apalagi Cina!

Next time ada cerita 50 juta anggota mapan. Ditunggu ya fellas!

Sunday, October 1, 2017

Jodoh

Jodoh? It’s kind of beautiful I think. Eits, jodoh di sini bukan melulu pasangan hidup belahan jiwa lho. Jodoh bertemu orang-orang luar biasa di lingkaran kita juga bisa disebut jodoh.

Malam ini adalah waktu closingan teman-teman sales untuk KPI di bulan September. Beda dengan closingan di bulan-bulan sebelumnya, kali ini kita menghabiskan waktu closingan dengan refreshing sejenak ke bukit B29 Lumajang.

Biasanya sih saya standby di depan laptop kalau sudah weekend closing, ngitung KPI masing-masing sales dan japri nanyain progress masing-masing #baladaduniasales. Karena di awal minggu ke-4 kami sudah merencanakan untuk hangout bareng, jadilah komitmen closing harus maju lebih awal. Sabtu harus sudah beres dan kalau masih mau melanjutkan di hari Minggu-nya monggo setelah acara hore-hore selesai. And yes we did it! Malam ini saya bisa menghabiskan waktu santai untuk menulis juga, hehe

Balik lagi ke soal jodoh. Buat saya, bertemu dengan teman-teman sales yang sekarang artinya saya berjodoh dengan mereka. Jadi inget waktu buka cabang Jember 2 pertama kali, gosh nyari salesman yang oke sesuai kriteria susahnya minta ampun. Terus nggak kerasa aja hampir 5 bulan baru bisa fulfill seperti sekarang, tentunya setelah up and down dengan berbagai hal.

Bertemu dengan mentor-mentor luar biasa juga bisa dibilang jodoh. Saat pertama kali denger saya dapat cabang ekspansi di Jember 2, rasanya berat banget karena penempatannya tidak sesuai harapan. But who knows, ada Bapak DSM (Pak Hendra) yang coaching-nya super duper sukses bikin saya mikir mau diapain nih cabang. Ada juga BM-BM (Branch Manager) senior Jatim 3 yang ilmu lapangannya segudang buat dicontoh. Syukurlah saya berjodoh sama mereka.

Salah satu hal yang mengesankan bagi saya adalah saat saya sudah punya jadwal prapanel lapangan. Pak Hendra meminta saya untuk presentasi di depan BM-BM lainnya agar mendapat masukan sebelum ‘perang’. Okeee, saya siapin deh PPT-nya. Tapi ternyata sodara-sodara, meeting distrik hari itu ternyata bukan hanya distrik kita aja (Jatim 3 dengan komposisi 6 BM) tapi gabung dengan distrik lain (Jatim 6 dengan 3 BM) plus sales trainer dan Regional Sales Manager (RSM).

Can you imagine it? Saya disuruh presentasi di depan ‘real’ panelist alias Bapak RSM yang minggu depan panelin saya di Madiun bareng orang HC. Singkat cerita, saya beneran dipanel karena komentatornya lengkap dari segala lini. Pulang meeting jadi bawa banyak PR. Tapi begitulah salah satu gaya Pak Hendra men-support saya. Gaya hajar di awal sampe babak belur presentasi, hehe. Tetap saja, saya merasa sangat berterima kasih.

Menurut saya, gaya coaching Pak Hendra menganut paham kemandirian. Sebagai cabang baru, visit beliau ke cabang saya bisa dihitung jari. Mungkin sebulan cuma sekali. Paling banyak 2 kali itupun beliau tidak full ngantor di Jember 2. Selesai briefing cuss ke cabang lain. Kalau saya bilang PHP visit, beliau selalu berkilah, “Justru karena nggak sering di-visit kamu bisa lulus.” And yes, saya mati kutu, nggak bisa ngomong lagi. Dari situ saya belajar mengenai kepercayaan. Saya tidak pernah merasa terintimidasi nge-lead team karena I can do it with my own style. Beliau tidak pernah mendikte saya harus seperti apa melainkan lebih kepada menyarankan untuk membangun pondasi tim yang kuat di awal. Dan benar, perjuangan memulai cabang baru itu sulit sekali sampai kita semua, baik BM maupun para sales-nya ‘klik’ #sokyes

Kalau ngomongin soal jodoh memang nggak bakalan ada habisnya. Saya aja nggak ‘ngeh’ kalau ternyata berjodohnya sama bidang sales. Di saat masih banyak orang yang berpikiran bahwa sales itu dunia yang mengerikan karena ada target, saya mulai enjoy karena tau di balik target itu ada banyak strategi yang bisa dipakai untuk mencapainya. Kalau dipikir-pikir nggak cuma sales saja yang dikejar target, semua pekerjaan punya target juga kali!

Eh kok tiba-tiba ingat sesuatu. Jodoh belahan jiwa kapan ya? #ups

Thursday, September 21, 2017

Sopir

Well, ternyata sudah lama sekali rasanya tidak menulis. Sampai blog ini berlumut. But somehow it’s so refreshing you know to read it over and over again. Ternyata dulu punya banyak cerita. Meski sebenarnya sekarang pun juga punya lebih banyak cerita. Jadinya saya kepengen mulai nulis lagi. Ya sudah lah ya biar nggak lama-lama intronya, let’s start with this one :)

Saya hanya bisa tertawa kalau mengingat pengalaman ini. Ya, lulus kuliah sebelum bekerja di tempat yang sekarang, saya sempat balik kampung halaman untuk membantu usaha orang tua sambil belajar berwirausaha. Bayangan saya saat itu, everything will be very smooth. Kenyataannya? Big  NO!! Haha

Usaha orang tua saya Alhamdulillah terkena musibah kebakaran untuk kedua kalinya. Kebakaran pertama terjadi saat saya masih duduk di bangku SMA. Penyebabnya sederhana, obat nyamuk yang membakar kasur . Kerugian tidak terlalu besar karena masih banyak kayu yang bisa diamankan sebelum api benar-benar membesar. Dan lagi kala itu belum ada kompor berbahan bakar LPG jadi skala kebakaran tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kebakaran kedua.

Di kebakaran kedua, yang terjadi setelah saya lulus kuliah bisa dibilang besar karena menghanguskan semuanya.  Yeah, nothing left! Kondisi saat kebakaran angin lumayan kencang, ditambah ada tetangga kios yang menjual gas LPG 3 kg. Can you imagine it? Meskipun mobil damkar sudah berusaha cukup maksimal tapi api masih sulit dipadamkan. Pada akhirnya api berhasil dipadamkan. Tentu saja setelah tidak menyisakan apapun. Penyebab kebakaran? Entahlah, sampai sekarang masih menjadi misteri.  Kemungkinan ada orang yang membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sisa gergajian kayu di gudang kosong sehingga api baru bisa diketahui setelah cukup besar.

Yah, saya jadi cerita agak panjang mengenai kebakaran padahal bukan itu fokus ceritanya. Jadi ceritanya, saya memutuskan untuk belajar nyetir dengan tujuan kalau melamar kerja dan dibutuhkan SIM A, saya bisa langsung daftar tanpa ribet mikirin persyaratan. Niat awal nyatanya tidak sejalan dengan praktiknya. Siapa sangka jika dari sana, muncul banyak cerita nyopir yang konyol. Mostly dari pengalaman saat saya bantuin usahanya ortu dan masih tinggal di Magetan.

Oke, dimulai dari mentor nyopir saya. Mereka adalah dua abang saya yang punya karakteristik berbeda. Abang yang lebih tua gaya menyetirnya alus mirip sopir pribadi karena dulu yang ngajari memang sopir pribadi. Abang yang lebih muda gaya menyetirnya mirip sopir angkot karena dulu yang ngajari memang sopir angkot. Then you can guess about me now, kadang saya nyopir ala-ala sopir pribadi dan kadang ala-ala sopir angkot. Hehe

Belajar nyetir sudah jelas medan pertamanya adalah lapangan bola dengan gigi 1,2. Naik level, mulai dah turun ke jalan. Di jalanan yang lebarnya udah kayak lapangan bola masih aja berasa kurang lebar bagi newbie macam saya. Udah lancar di jalanan lebar nan sepi, lanjut medan naik turun. Kali ini masih di jalanan beraspal mulus. Naik level lagi, si abang ngajakin nyetir di jalan raya yang agak ramai. Masih di kecepatan standar, Alhamdulillah lulus. Sudah jarang mati mesin waktu lampu merah. Naik level lagi, abang ngajakin ke jalanan desa yang sempit dan cuma muat buat satu mobil. Lulus. Sekarang giliran mempertahankan keseimbangan gas dan kopling di jalanan menanjak yang macet di pasar. Sukses berhenti dan nggak ngerem di tanjakan. Lulus juga. Well, training sesungguhnya belum dimulai saudara-saudara till you read next chapter #oposeh

Saya hanya akan menulis beberapa pengalaman nyopir yang menurut saya berkesan. Asli, sampai sekarang saya nggak nyangka punya pengalaman nyopir yang alamak.

1.Carilah Kayu sampai ke Dungus
You know lah, usaha mebel jati bekas sudah pasti kita harus kulakan bahan baku. Salah satu tempat kulakan kayu bekas ada di Dungus, masih masuk Madiun sih tapi lebih ‘desa’ nuansanya. Jalanan utamanya sih mulus-mulus aja. Sampai akhirnya setelah menemui jalanan berbatu gronjal-gronjal, di situ saya mulai merasa was-was. Bagaimana tidak, jalanan ini cuma muat untuk 1 mobil dan di depan ada turunan curam kemudian ada tanjakan lagi. Jalannya berbentuk huruf V. OMG dari jauh saya udah nglakson hebring takutnya ada yang papasan. Kalau papasan sama orang yang didemenin mah asyik, kalau sama truk di jalanan macam ini.. Hmmmm troublesome! Singkat cerita saya berhasil pemirsa. Kali kedua masih was-was, udah kali ke-3, dan entah berapa kali saya melewati jalanan itu sudah tidak ada perasaan khawatir. Everything’s under control. Hehe

2.Hiking yuk ke Wonogiri dan Poncol
Ada apa dengan Wonogiri? Nothing special but the road is. Kali ini saya berdua dengan abah hendak menemui salah satu penjual kayu jati di daerah Wonogiri. Saya lupa tepatnya nama daerahnya. Kalau kalian tahu jalanan dari Ponorogo menuju Pacitan yang melingkar meliuk-liuk dan naik turun, seperti itulah medan yang saya lalui. Ada satu jalan yang saya inget banget yaitu tanjakan lurus banget nggak ada beloknya barang sedikit. Dari jauh saya udah ancang-ancang masuk gigi satu dengan kecepatan yang lumayan kenceng. Saya injak pedal gas penuh-penuh takut nih mobil pikep nggak sanggup naik dan melorot.Kan nggak lucu. Haha. Saya lupa sebutkan sodara-sodara, mobil yang kami kendarai adalah jenis pikep Daihatsu zebra yang kalau kena ujan suka mogok. Syukurlah mobilnya cukup ‘roso’ alias kuat. Sampai di jalanan agak datar langsung saya oper ke gigi 2, dst. Kasihan si zebra ngos-ngosan habis nanjak. Hehe lumayan ada pengalaman lewat tanjakan ekstrim.

Tanjakan dan kelokan yang aduhai tidak hanya saya temui saat di Wonogiri. Di Kecamatan Poncol Magetan juga ada. Jadi sore itu abah sama umi ngajak nyari tukang. Oke kita cuss Poncol. Sebenarnya jalanannya tidak ada masalah menurut saya, sisi kiri tebing, sementara sisi lainnya jurang. Itu saja sudah cukup membuat umi saya teriak-teriak. Belum lagi saat melalui tanjakan, kelokan, turunan, beliau langsung bersholawat keras-keras. Abah? Kalem saja, no comment. That’s the difference Mom vs Dad.

3.Travel Magetan-Surabaya atau Surabaya-Madura
Travel Magetan-Surabaya atau Surabaya-Madura? Perjalanan jarak jauh untuk keperluan keluarga seringnya jadi saya yang nyetir.Meskipun kadang ada abang, sekarang kadang minta saya yang bawa mobil. Well, selama ini memang dia selalu jadi sopir andalan keluarga. Jadi ada touching moment pas saya bawa mobil perjalanan Surabaya-Magetan dan dia tidur di kursi depan sebelah saya. Niatnya ngasih arahan sama saya. Nyatanya dia molor juga akhirnya.

Why it can be so touching? Gimana nggak, selama ini dia selalu ada di kursi sopir dari saya kecil sampe segede ini. Pemandangan dia tidur di mobil nggak pernah saya jumpai. Ya iyalah, kalau dia tidur kita nyemplung sungai bisa-bisa..Hahaha

Saat udah ‘ngerasain’ nyetir jarak jauh, Magetan-Surabaya (5-7 jam tergantung macet tidaknya), Surabaya-Banyuwangi (7 -8 jam), Gilimanuk-Denpasar (5 jam), Jember-Surabaya (5 jam), saya bisa merasakan beratnya tanggung jawab seorang sopir. Apalagi penumpang saya adalah anggota keluarga yang tercinta. Jadi lebih mikir kalau bawa mobil.

Selain itu sekarang saya jadi ngerasa sungkan kalau tidur di mobil sementara si bos atau temen lagi nyetir. At least, tetap terjaga dan ngajak ngobrol lah ya biar dianya nggak bosen atau ngantuk. I know that feeling very well. But tetep jadi exception kalau sama family lho ya ;)

Wuuuuih nggak nyangka bisa nulis sepanjang ini. Kemana aja selama ini nggak nulis-nulis? Meskipun bahasanya masih acak-adul, lumayanlah muncul satu postingan setelah masa hibernasi panjang.

This is a good start. Next time akan saya share beberapa cerita seru dari rumah sampe urusan kerjaan. Just wait. Mohon doanya yang banyak biar mau nulis lagi dan lagi.

See you again Good People :)

Sunday, September 29, 2013

#107

Masa kuliah selama 4 tahun akhirnya kelar juga.
Perasaannya, sudah pasti lega.
Di bawah ini adalah momen sehari di wisuda 107.
Cuma sehari sih tapi yakin deh, momen ini gak akan pernah cukup untuk memaknai 4 tahun perjalanan di kampus.

CB aka Trio Kwek-Kwek
Kawan SMA

Onliners
partner kwaci, Ika (kanan)
thanks for giving :)

Sudah Lama Berkawan


Foto di atas diambil saat kami semua masih berstatus mahasiswa tingkat akhir (baca: tahun ke-4). Di acara Festamasio yang kebetulan diselenggarakan di ITS, saya, Andhi, Vitarani, Ika, dan Ferio sepakat menonton pementasan teater kawan SMA dulu, Vita.

Meski durasi pertemuan kami hanya berlangsung selama pementasan, tapi hal itu sangat berarti. Maklum,selama menjadi mahasiswa, jangankan untuk bertemu dengan kawan lintas kampus di satu kota, bertemu kawan satu fakultas di satu universitas saja merupakan kesempatan langka.

Sekarang, kalau melihat foto ini, tiba-tiba ada hal lain yang muncul di benak. Ternyata, sudah lama ya kita berkawan? Perasaan, baru kemarin duduk bersama di bangku SMA. Diam-diam saya bersyukur, masa SMA dulu dipenuhi kenangan indah bersama semua orang yang juga menjadi bagiannya.

Doa yang terpanjat hanyalah semoga kelak kita masih bisa mengukir kenangan indah bersama. Be healthy guys! So we can meet again, again, and again one day:)

"Betapa waktu lekas sekali berlalu.
Rasanya, baru kemarin berseragam putih abu-abu.
Sekarang, tahu-tahu ......"

#dear all senior high school friends, miss you alot!


Sunday, August 11, 2013