Tak ada yang pernah sama. Suku, agama, budaya, bahasa, adat, dan banyak hal lainnya pun tak pernah sama. Tapi tak lantas ketika ada beda, kita jadi beda. Bagi saya, seberbeda apa pun, kita semua tetap sama.
Sejatinya, perbedaan itu demikian indah. Ibarat pelangi, benturan-benturan perbedaan spketrum itu bisa menimbulkan harmoni. Siapa yang tak suka harmoni? Harmoni warna dalam lukisan, harmoni nada dalam lagu, harmoni notasi dalam deretan rumus, atau harmoni-harmoni lainnya. Hebatnya, harmoni itu sanggup menebar energi positif bagi penikmatnya.
Ketika perbedaan itu dekat, sedekat batas antar spektrum warna pelangi, ia masih saja anggun. Ketika goresan-goresan abstrak dibenturkan di setiap sudut kanvas, nyatanya tetap indah juga dinikmati. Luar biasa. Demikian banyak Tuhan ciptakan hal yang berbeda, nyatanya semua berakar pada satu hal, keindahan. Keindahan yang juga berarti kedamaian.
So, marilah saling menghormati perbedaan satu sama lain.
Pages
Friday, March 23, 2012
Kepura-puraan

Dunia ini isinya bermacam-macam karena memang demikian yang Tuhan ciptakan. Tak terkecuali manusia, yang pada kodratnya sifatnya pun beragam. Manusia, sebagai makhluk yang dinamis, pasti berubah. Ia dituntut menjelma sesuai zamannya masing-masing. Perubahan itulah yang kadang kala kurang bijak disikapi.
Dulu, kebutuhan manusia bisa dikatakan cukup sederhana. Sementara kalau dibandingkan dengan era sekarang, tentulah bukan ukurannya lagi. Gadget mahal, mobil, internet, rekreasi, sudah menjadi kebutuhan yang dimutlakkan ada. Tak bisa dipungkiri memang, di setiap pergeseran zaman memang memiliki trennya masing-masing.
Pernah saya melihat akun facebook beberapa teman. Gaya hidupnya sekarang sudah sangat ibukota, sering clubbing, punya hoby fotografi sampai jalan-jalan ke luar negeri. Ratusan foto tak ketinggalan turut diunggah mengikuti statusnya,seolah ingin menunjukkan “Yeah, this is my style!”
Fenomena seperti itu hanyalah satu di antara sekian banyak indikasi macam-macam isi dunia. Apa yang tengah ‘in’ bisa dipastikan dikuti secara jamaah, seolah menjadi pembenaran bagi siapa pun yang terbawa arus. Yang tidak ikut-ikutan pun hanya bisa menonton apatis, merasa tidak perlu bertanggung jawab.
K H M Cholil Bisri dalam buku berjudul Menuju Ketenangan Batin menulis, dunia saat ini adalah dunia yang dipoles. Setiap orang bisa menunjukkan apa yang yang ingin ditunjukkannya. Citra, demikian mudah ia dibentuk sesuai kepentingan dan keinginan. Hendak jadi wakil rakyat, berbondong-bondong orang rajin berderma dan menunculkan diri sebagai pahlawan di masyarakat. Setelah mendapatkan jabatan, mendadak lupa dengan janjinya kepada tukang becak, penjual sayur di pasar, pasien rumah sakit yang tidak mampu, dan anak-anak putus sekolah.
Kepura-puraan itu menjamur di mana-mana. Di ruang kelas, di kantor pajak, di gedung-gedung wakil rakyat, di rumah, di masjid, di pasar. Wabahnya tak terbendung karena akarnya berasal dari diri sendiri. Ya, akarnya tak lain adalah penyakit hati. Na’uzu billahi min zalik. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Wednesday, March 21, 2012
Journalist Wannabe?

Fi: "Gue kagak mau jadi jurnalis!"
X: "Apa betul Fi? Kalau seperti Andreas Harsono, Romo Mangunwijaya, Goenawan Muhamad? Apa masih nggak mau juga? Mereka semua kan jurnalis yang juga penulis luar biasa. Masak tidak mau mengkikuti jejaknya?"
*Itu tadi bisikan setan atau hati nurani ya? entah, kadang kala saya sangat enjoy menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Penuh tantangan, banyak pengalaman, banyak tuntutan, terjun ke lapangan, menulis, berpacu dengan deadline, editing, dan banyak hal jurnalistik lainnya. Apalagi kalau melihat para jurnalis senior yang pernah saya temui dan mereka bekerja dengan ketulusan hati, jujur, saya iri dibuatnya. Mereka semua, bisa menjadi demikian luar biasa dalam bidangnya.
Lantas, pertanyaan itu muncul kembali.
X: "Wanna be a journalist?"
Fi: "Entahlah. Saya tidak sedang ingin memikirkan hal itu. Kuliah teknik saya harus selesai dulu. Bismillah, saya masih ingin mengaplikasikan keteknikkan saya. Sembari tetap menulis tentu saja:)"
Benar-benar Maaf

Ya, saya akui, kadang kala saya memang kurang adil. Maafkan saya untuk hal yang agak keras ini. Sudah saya coba bangunkan dirimu di awal-awal, nyatanya engkau enggan bangkit. Ketika semangat saya berkobar untuk perubahan yang lebih baik, dirimu menghilang entah kemana. Saya hendak mencari panutan kemana? Meski sadar saya bukan lagi anak kecil yang ingin disuapi, tapi berilah saya arahan, tuntunan, saya juga perlu sosok pemimpin yang punya wibawa, yang disegani. Maaf kalau selama ini saya salah mengartikan hubungan pertemanan. Maaf, benar-benar maaf ketika kesempurnaan itu jauh dari yang seharusnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)