Pages

Wednesday, April 20, 2011

Nge-teh


Nge-teh itu asyik. Bisa buat relaksasi.
Nge-teh itu asyik saat jam-jam santai.
nget-teh pas cuaca dingin, apalagi pas musim hujan, tambah mantap lagi.
Jadi iseng deh buat motret ini teh yang biasa saya seduh di kantor.
Udara kantor dingin karena ada Ac nyala. Ya sudah saya seduh saja teh biar menghangatkan.
Hangatkan suasana hati tepatnya.
Lumayan lah buat ngilangin penat sehabis kuliah dan kadangkala manjur juga usir suntuk kalo kebetulan lagi mampir gak ngenakin hati.

Sunday, April 17, 2011

Ber-bahasa

“We engineers are the masters of the language of mathematics but when it comes to the language for interpersonal communication many of us are found wanting,”
 
Saya tersenyum membaca tulisan di atas. Ya, secara tidak sengaja saya menemukannya terselip diantara beberapa browsing-an siang itu. Artikel yang hanya sekitar 300 kata itu mengatakan bahwa keahlian berkomunikasi demikian penting. Entah itu secara lisan maupun tulisan.
 
Teman saya sesama reporter pernah mengeluhkan satu hal kepada saya. Ia mengatakan upgrading atau pelatihan yang dikhususkan untuk men-training kami tidak asyik. Satu-satunya pembicara yang mengisi tidak bisa mengkomunikasikan materinya dengan cukup baik alias ‘garing’ kalau mengutip pernyataan teman saya itu.
 
Wartawan bisa saja menyampaikan cerita dengan sangat baik lewat tulisannya. Serentetan hasil reportase lapangan pun bisa jadi terangkai apik ketika diolah di meja redaksi. Tapi bagaimana saat harus   menyampaikannya secara lisan? Menuturkannya secara langsung dan runtut tanpa membuat pendengarnya tersesat? Itu soal lain Bung.
 
Pernah membaca jurnal-jurnal penelitian? Itulah salah satu bentuk komunikasi. Mereka, para pakar atau peneliti, mengkomunikasikan berbagai temuannya melalui media semacam jurnal ilmiah. Tapi sekalipun sudah berbentuk riil dan tertulis di atas kertas, bukankah transfer secara lisan pun juga masih sangat dibutuhkan? Adakah orang yang membuat sebuah riset tanpa ada pengkaji lainnya? Paling tidak, si peneliti harus mempertanggungjawabkan tulisannya tersebut dalam forum ilmiah juga. Yang perlu dilakukan mutlak presentasi, sama artinya dengan berkomunikasi secara lisan.
 
Pada dasarnya, inti dari komunikasi adalah transfer informasi. So, sebagai calon (semoga) engineer, kita juga dituntut dapat berbahasa dengan baik. Karena soal ngomong bukan cuma urusan orator, politikus, ato presenter tapi juga para engineer. Dan karena soal nulis bukan cuma urusan jurnalis, novelis, ato sekretaris tapi juga insinyuirs (yang ini maksa). Hahaha;))

Serba Facebook

Terkadang sangat mengesalkan memang ketika semuanya menjadi serba facebook. Bayangkan saja, promosi barang jualan selalu lewat facebook, menginfokan kegiatan lewat poster juga di facebook,  bahkan banyak organisasi pun membuat forum juga di facebook. Dunia jadi minim interaksi. Kapan pun dan dimana pun facebook seolah sudah menjadi candu. Sejak mata ini membuka mata hingga kembali akan beranjak tidur, membuka facebook seolah sudah menjadi rutinitas, entah sekedar ingin mengecek notifikasi atau update status.
 
Demam alias wabah facebook ini bukan tanpa efek. Menurunnya sosialisasi adalah satu diantara banyak dampak yang ditimbulkannya. Mendengarkan ceramah sambil facebookan, nonton TV, sambil facebookan juga, nonton konser sudah tentu sempat nengok facebook (hlah, buat apa beli tiket konser kalau tidak total untuk menikmatinya?)
 
Dan jeleknya, saya adalah seorang fesbuker, yang juga menjadi bagian dari facebook addict ini. Memang konyol dan kadang kesal sendiri!

Tuesday, March 29, 2011

Es Campur ala PWI Awards


Saya berkesempatan menghadiri Resepsi (Persatuan Wartawan Indonesia) PWI Jatim pada 18 Maret di Gedung Grahadi Surabaya. Banyak orang penting hadir di situ. Selain panitia, wartawan, dan banyak orang yang memang berkepentingan di sana, mungkin saya lah yang paling tidak penting. Hahaha… 

Seluruh sudut aula dipenuhi orang berpakaian batik. Sedangkan saya, hanya mengenakan pakaian kuliah. Parahnya, saya tidak bersepatu melainkan menggunakan sandal gunung kesayangan. Soal penampilan, saya tidak terlalu ambil pusing. Mulai dari mondar-mandir liputan sampai urusan makan, saya juga tidak ambil pusing… hhehehe

Keperluan liputan malam itu sebenarnya tidak memakan waktu lama. Lima belas menit ngobrol unformal dengan Mr Probo,  bagi saya sudah cukup dijadikan bahan berita. Dan lagi, menghadiri acara formal seperti itu bukan hal baru buat saya. Lebih sering saya langsung pulang kalau sudah mendapatkan data yang dibutuhkan. Sangat malas berlama-lama. Sungguh berbeda 180 derajat dengan kondisi saat saya masih menjadi reporter OJT dan reporter junior dulu. Setiap meliput, selalu datang lebih awal dan standby hingga acara berakhir. Kalau dipikir-pikir, rajin benar saya dulu… hehehe.Namanya juga masih belajar profesional.

Lantas apa yang saya dapatkan dari resepsi PWI tersebut? Saya memang hanya mendengarkan sambutan Jusuf Kalla alias JK sebagai Ketua PMI, atau mendengarkan Margono, Ketua PWI Pusat mengungkapkan eksistensi  wartawan sampai kode etik jurnalistik, dan lagi seorang muda di kalangan politikus, Anas Urbaningrum berpidato dengan nada demokratnya. Ada juga hadir Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN, yang notabene dulunya adalah orang PERS. Sebenarnya masih banyak lagi yang hadir, tapi saya tidak hafal.

Ah, apa pula semua itu. Bukan, semata-mata bukan karena saya meremehkan apa yang mereka bicarakan. Tapi lebih karena saya tidak tertarik. Tapi memang, topik setiap orang berbeda di acara penganugrahan PWI Awards malam itu. JK bercerita soal bangunan tahan gempa karena belakangan tsunami menimpa Jepang. Sementara Margono, bicara soal sekolah jurnalistik sampai tetek-bengek kewartawanan. Belum lagi Bung Anas, yang pada pidatonya nyrempet-nyrempet Demokrat, partai yang kini diketuainya. Hladala, campur-campur es campur dah.. hhahahaha

Saya kebetulan duduk di deret kedua. Sementara deretan depan adalah kursi bernama alias sudah undangan khusus. Karena tak ada teman ngobrol (kasihan banget sih saya), saya hanya memperhatikan aktivitas orang-orang. Berseliweran, memotret. ngobrol dengan kenalan, tertawa, makan, asyik sendiri dengan handphone. Kompleks! Aula Grahadi masih saja dingin, AC-nya bekerja dengan baik. Dalam hati, senang juga saya berada di dalamnya. Pelayanan para waiters dan waitress oke pula. Makanan prasmanan, banyak pilihan, tinggal comot semaunya. Ambil sedikit, ambil banyak juga boleh. Tak cukup itu, alunan musik menambah nikmat lagi suasana malam itu. Ekslusif, beberapa penyanyi bergantian  membawakan lagu. Dengan sepiring nasi yang saya ambil dari meja makanan (padahal ini khusus meja VIP, ngewes ae wis pas mangan-mangan.. hehehe) jadilah saya benar-benar merasa ekslusif.

Tapi tunggu dulu. Di dalam gedung, bisa jadi acara makan dan bermegah-megah macam ini berlangsung. Tapi di luar, jarak beberapa meter dari gedung, para supir angkot tengah mengejar setoran untuk hari itu. Para penjual nasi goreng, berharap nasinya habis terjual agar tak bersisa dan basi keesokan harinya. Penjual kacang rebus di depan Gereja juga demikian. Oh Tuhan, semua memang sudah berporsi masing-masing. Kau pemberi penghidupan bagi kami semua. Jadikanlah semuanya berjalan seiring, berdampingan dengan kedermawanan yang punya kepada mereka yang membutuhkan.