Pages

Tuesday, March 19, 2013

No Nganggur!


Kalau orang bilang semester T(U)A adalah semester nganggur, buat saya dan mungkin beberapa orang, hal itu mungkin tidak berlaku. Semester delapan ini saya masih menyisakan beberapa  mata kuliah. Meski tidak sebanyak semester-semester lalu, kuliah nyatanya tetap menghabiskan cukup energi. Selain itu, tambahan jadwal praktikum di lab untuk keperluan data skripsi juga merupakan rutinitas yang sudah tentu harus dikerjakan.

Sementara dua hal tersebut berjalan, saya menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menyenangkan hati di ITS Online, media kehumasan kampus. So, agaknya lumayan mengurangi kepenatan (atau justru tambah penat?hehe). Saya juga menjadi volunteer salah satu yayasan sosial Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut saya, kegiatan ini dapat menyenangkan pikiran dan hati. Tertawa dan bermain dengan mereka benar-benar bisa menjadi obat capek. Saya akan ceritakan pengalaman tentang ini di postingan yang berbeda.

Dan siapa sangka, dalam waktu dekat saya mendapat tawaran proyek untuk mem-branding-kan ITS dengan cara yang sedikit berbeda. Melihat kesibukan yang sudah seabrek, agak ragu juga di awal saat mengiyakan. Tapi apa daya, konsep yang menarik hati agaknya mengalahkan semua itu. Gaya baru artinya tantangan baru. Well, setidaknya melalui proyek ini, ITS punya citra yang jauh lebih gaul dan nyeni alias artistik dari sudut pandang manapun! I hope.

Inti dari postingan ini adalah: keep busy guys. Hapus stigma kalau mahasiswa T(U)A itu nganggur alias gak ada kerjaan. Setidaknya, kita bisa menyibukkan diri dengan banyak hal. Entah itu self improvement atau social activities. Mau sibuk atau so(k) sibuk sebenernya pilihan. Jadi, mari bijak memilih. Pilih nomor 2 *lho?

Thursday, March 14, 2013

Dua-dua

Dan nyatanya usia saya sudah tak lagi muda.
Terima kasih banyak Tuhan atas segala berkah yang Kau berikan hingga hari ini.
Mohon ampun atas segala kesalahan dan khilaf diri.
Tanpa Mu, saya tentu tak punya arti.



Nb:
special thanks untuk keluarga ITS Online. Kejutan yang mengesankan di tengah deadline majalah. Big hug and love for you all guys :)

Tuesday, March 12, 2013

Bagaimana Membuat Action Plan?



 

Membuat action plan atau rencana aksi adalah langkah awal yang mutlak dilakukan jika kita ingin melakukan perubahan. Lantas, kenapa membuat action plan bisa menjadi demikian penting? Dan apa saja langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membuat action plan yang baik? Mari kita simak penuturan Charaf Ahmimed, Head of Social and Human Sciences Unit dari UNESCO mengenai Action Plan Development and Strategic Implementation.

Action plan sendiri setidaknya harus memenuhi 5 kriteria SMART. Yakni Specific, Measurable, Achieveable, Realistic, Timebound. Mengapa perlu memenuhi 5 kriteria di atas? Tentunya karena rencana perubahan yang kita buat akan sia-sia tanpa adanya kelima hal tersebut.

Bayangkan jika kita harus membuat perubahan atas masalah yang tidak jelas atau tidak spesifik. Bayangkan jika kita harus membuat perubahan atas rencana-rencana tanpa ada tolok ukur keberhasilan yang pasti. Bayangkan jika kita harus membuat perubahan yang sudah nyata-nyata tidak mungkin diubah. Bayangkan jika kita harus membuat perubahan yang imajiner tanpa dilandasi realita sekitar. Bayangkan jika kita harus membuat perubahan tanpa ada batasan waktu atas goal yang ingin kita capai. Jadi kesimpulannya, kelima kriteria di atas akan membantu mengarahkan  kita membuat perubahan sosial melalui action plan yang matang sehingga jelas nantinya akan seperti apa.

Action plan sangat penting dibuat di awal karena dari situlah kita dapat mem-break down berbagai goal atau tujuan utama yang menjawab problem statement, objektif, aktivitas, hingga tasks alias eksekusi kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan terkait perubahan yang akan kita lakukan. Dari action plan pula, kita akan memiliki arah yang jelas atas awal dan akhir perubahan tersebut.  Action plan juga bisa merepresentasikan proses perubahan yang dinamis . Jika diperlukan kita juga dapat mengakomodasi perubahan saat informasi baru muncul.

Action plan dibuat tentunya didasarkan atas permasalahan sosial yang terjadi. Permasalahan ini kita sebut sebagai problem statement. Ia harus mampu mewakili atau menjelaskan apa masalah yang menjadi dasar perubahan sosial yang akan kita lakukan.

Problem statement harus dibuat secara spesifik. Artinya kita memiliki masalah yang jelas untuk diselesaikan. Kriteria spesifik di sini salah satunya meliputi objek riil yang kita tuju. Misalnya kita ingin mengurangi angka buta huruf di salah satu desa. Kalau demikian halnya berarti harus jelas, apa nama desanya dan berapa jumlah penduduk buta huruf di desa tersebut. Intinya, problema sosial yang kita tuliskan harus nyata dan sesuai dengan kondisi lapangan. Hal itu umumnya tidak terlalu sulit dilakukan dalam pembuatan action plan karena pada dasarnya masalah sosial yang terjadi di masyarakat dapat dianalisa dengan mudah. Dari situlah kekhususan masalah sosial secara otomatis ada. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menuliskan permasalahan nyata di masyarakat tersebut ke dalam satu kalimat yang mewakili kekhususannya.


Setelah kita membuat problem statement, langkah berikutnya adalah menentukan goal atau tujuan utama. Goal harus mampu menjawab problem statement. Karena masih berupa tujuan utama maka tidak perlu dibuat terlalu detil. Hal ini perlu untuk membedakannya dengan objektif.

Objektif adalah hasil break down dari goal. Sehingga sifatnya jauh lebih spesifik dan jumlahnya sudah tentu lebih dari satu. Objektif inilah yang nantinya akan kita jadikan acuan untuk membuat rencana aktivitas pendukung action plan. Ibaratnya, objektif adalah suatu dahan sementara berbagai aktivitas misalnya berupa program kerja komunitas adalah ranting-rantingnya. Ranting-ranting aktivitas diharapkan dapat dieksekusi secara maksimal dalam bentuk tasks atau tugas-tugas.  Jika tasks mampu dijalankan dengan baik maka secara otomatis menghasilkan aktivitas yang maksimal. Aktivitas yang maksimal inilah yang akan mendukung tercapainya berbagai objektif. Jika sekian banyak objektif yang ditetapkan di awal dapat kita capai maka sudah tentu goal utama sebagai jawaban atas problem statement kita tercapai.

Berikut beberapa contoh brain storming action plan peserta di YICE. Umumnya mereka membuat action plan yang berkaitan dengan komunitas mereka masing-masing.